My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 91


__ADS_3

...Selamat Kamu berhasil membuatku terbang begitu tinggi, lalu menjatuhkanku sejatuh-jatuhnya....


...-Fany Palwinta-...


Dua minggu setelah tragedi kecelakaan di kamar mandi. Keadaan Fany kembali membaik, kembali menjalankan tugasnya sebagai seorang istri seperti biasa.


Mengikuti semua aturan dan juga perintah Dari Daren. Fany tidak keberatan untuk itu, toh itu untuk kebaikannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 20:12 namun tanda-tanda Daren pulang belum ada. Berkali-kali Fany mengirim pesan atau menelfonnya namun tidak ada balasan dari Daren.


"Kak Daren kemana sih, biasanya juga pulang sebelum maghrib, atau ngabarin kalau pulang telat." gerutunya.


Fany mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu, sembari menunggu kedatangan suaminya. Hari ini ia cukup sedih, melihat pengumuman dari Art Galeri, namanya lengser begitu saja dalam waktu satu sehari. Kemarin namanya berada pada urutan paling atas, dan pada saat pengumuman. Namanya berada pada urutan ke 11 apa itu masuk akal?


Sedih, itu lah yang di rasakan Fany saat ini, cita-citanya untuk menjadi desainer gagal lagi.


Fany mulai terisak dalam lamunannya, bahkan dia tidak menyadari kehadiran Daren yang sedari tadi menatapnya.


"Ngapain nangis?" tanya Daren dingin.


Suara bariton itu berhasil buat Fany tersadar dari lamunannya, tanpa menunggu lama Fany menghabur masuk kedalam pelukan Daren, menumpahkan segala kesedihannya hari ini, harapannya sudah hancur.


"Hiks...hiks...hiks. Aku kalah." lirih Fany dalam pelukan Daren, ralat bukan dalam pelukan suaminya melainkan dia yang memeluk suaminya tanpa ada balasan dari pria itu.


"Nggak usah cengeng." masih dengan suara dinginnya.


"Aku nggak cengeng, aku hanya sedih. Kak Daren harusnya hibur aku bukan malah ngatain aku." jawab Fany sesegukan.


"Aku capek." Daren melerai pelukan Fany, kemudian berlalu meninggalkan gadis itu di ruang tamu dengan perasaan kecewa.


Fany menatap sendu punggung Daren yang semakin jauh dan menghilang di balik pintu. Kenapa di saat dia sedih dan butuh sandaran Daren bersikap acuh dan dingin padannya.


Dia buru-buru menepis pikiran konyol itu, mungkin suaminya memanng capek, dia tidak boleh egois.


Buru-buru Fany menyusul Daren masuk kedalam kamar, menyiapkan pakain ganti untuk suaminya.


Dia memutuskan duduk di pinggir ranjang, menunggu suaminya selesai mandi. Fany mengembangkan senyumnya saat melihat Daren keluar dari kamar mandi, bukannya tersenyum pria itu malah mengabaikannya.


Tak ingin menyerah, Fany menghampiri Daren di sofa, duduk di samping pria itu kemudian memeluk lengan Daren menyadarkan kepalanya di sana.


"Kak Daren udah makan?" Fany memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Hmmm." gumam Daren sibuk dengan ponselnya.


"Aku lapar." ucap Fang manja.


"Yaudah makan sana." ujar Daren tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel.


"Temenin." Fany menarik-narik lengan Daren, bahkan dia merebut ponsel pria itu.


"Aku sibuk, banyak kerjaan." Daren merebut kembali ponselnya. "Makan sendiri bisa?"


Fany mengeleng, mengerucutkan bibirnya. "Aku maunya makan sama kamu."


"Nggak usah manja bisa?" Daren melirik Fany sekilas.


"Anak kita maunya makan sama papi." Fany mencoba memancing Daren dengan mengelus perutnya. Ah dia hampir lupa kebiasaan suaminya yang selalu mencium perutnya sepulang kerja, tapi hari ini Kayaknya Daren lupa dengan kebiasaan barunya.


"Nggak usah bawa-bawa anak aku, makan aja apa susahnya!" tegas Daren menarik lengannya dari rangkulan Fany.


Deg. Sudah lama dia tidak mendegar bentakan Daren seperti tadi. Mengapa hatinya sangat sakit mendengar bentakan itu.


Selera makan Fany tiba-tiba menghilang, dia bangkit dari duduknya, memutuskan untuk tidur membalangai Daren yang masih setia asik dengan ponselnya. Bahkan dari raut wajahnya dia terlihat sangat santai setelah membentaknya.


Tangisan dan isakan pilu Fany tergantikan dengan dengkuran halus menandakan bahwa pemilik isakan itu terlelap, mungkin kelamaan menangis.


***


Kepala Fany berdejut hebat, mungkin akibat menangis semalaman. Tubuhnya juga terasa lemas, dia lelah keluar masuk kamar mandi, namun juga tak mampu menahan gejolak dalam perutnya.


Sebenarnya sudah hal biasa mengalami Morning Sickness di pagi hari selama masa kehamilannya. Namun hari ini berbeda, mungkin hari-hari yang lalu dia akan di papah oleh Daren, namun kali ini tidak.


Bahkan pria itu tidak terusik dalam tidurnya dan malah menutup telinganya dengan bantal. Sakit melihat perubahan drastis Daren yang berubah dingin dan acuh padanya.


Walau dengan ke adaan lemas, Fany memaksakan diri memasak sarapan pagi untuk Daren. Beruntunglah dirinya yang tidak terlalu ngidam sesuatu, atau tidak menyukai sesuatu setelah kehamilannya.


Dia mengembangkan senyumnya, saat melihat Daren berjalan ke arahnya dengan setelan rapi, mungkin pagi ini suaminya ada pomotretan.


"Udah bangun?" ujar Fany basa-basi berusaha mencairkan suasana canggung di sekitarnya. Dia menyiapkan makanan lalu menyodorkannya kehadapan Daren.


"Nggak liat?" Daren menaikkan alisnya.


Ah Fany benar-banar bodoh, jelas-jelas Daren sudah bangun kenapa dia malah mempertanyakan itu.

__ADS_1


Fany yang merasa di tatap mendongakkan kepalanya, lagi-lagi memaksakan senyumnya.


"Muka kamu pucat banget? kamu belum makan? udah minum obat?"


Hati Fany menghangat seketika mendenggar pertanyaan Daren, ternyata Darennya nggak hilang, mungkin memang semalam hanya lelah jadi agak dingin.


"Lain kali perhatiin pola makan kamu, obatnya juga jangan lupa di minum, aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu."


Ucapan Daren mengundang senyuman manis di bibir pucat Fany. Namun senyuman itu tidak bertahan lama setelah mendegar kata-kata terakhir Daren.


"Itu bisa membahayakan anak aku di dalam sana."


Deg, setelah di terbangkan begitu tinggi, kini di di jatuhkan sejatuh-jatuhnya, hingga sakitnya tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.


Mata Fany memanas, sudah di pastikan lapisan kaca di dalam matanya siap retak dan tumpah membasahi pipi cubinya.


Lihatlah, bahkan dengan tidak punya hatinya, Daren malah bangkit dari duduknya, menghiraukan dirinya.


Fany menghapus kasar air yang membasahi pipinya, menyusul Daren yang akan keluar dari apartemen. Dia meraih tangan Daren untuk di ciumnya.


"Hati-hati kak." Ujar Fany masih berdiri di depan Daren, menunggu kebiasaan pria itu sebelum pergi.


"Hmmm." gumam Daren dan berlalu begitu saja.


Fany lagi-lagi kecewa atas perlakuan Daren, dia menyuntuh keningnya dan tersenyum getir. Ternyata Darennya benar-benar hilang, kebiasaan-kebiasaan manis yang biasa di dapatkan kini hilang begitu saja seiring berjalannya waktu.


Tubuh Fany merosot kelantai, memegangi dadanya yang terasa di remas-remas oleh tangan tak kasak mata. Kenapa di saat dia sudah memilih melabuhkan hatinya sedalam-dalamnya pada Daren, harus di kecewakan seperti ini?


"Kenapa sesakit ini." ucap Fany menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak dengan air mata yang terus mengalir.


Dia menunduk, mengusap perutya yang masih rata. "Yang sabar ya sayang, papi kamu lagi ngambek makanya dia bersikap acuh, bentar lagi pasti balik kayak dulu."




...TBC...


...****************...


Jangan lupa spam komen !!!

__ADS_1


__ADS_2