
Setelah mengungkapkan perasaanya, Daren menarik tangan kiri Fany dan memasangkan cincin di jari manis istrinya, lalu mengecupnya.
Pria itu bangkit dari sujudnya dan memadangi wajah imut istrinya yang sedari tadi diam saja seperti patung.
"Gimana?" tanyanya.
"Baiklah." dengan entengnya gadis itu menjawab, tapi yang membuat Daren kesal adalah, karena gadisnya itu seperti menahan tawa.
Dan benar saja, seperkian detik, tawa gadis itu pecah di hadapan suaminya.
"Hahahahaha." tawa Fany tanpa mempedulikan raut wajah kesal suaminya.
"Kak Daren pasti mabuk, jadi pergilah tidur, nggak usah ngaur." ucap Fany.
Ya gadis itu tidak percaya bahwa suaminya mencintainya, pernyataanya begitu mendadak.
"Fany aku serius, dan aku nggak mabuk sama sekali." kesal Daren.
"Aku tahu....."
Cup
Fany seketika terdiam saat Daren mengecup bibir munggilnya.
"Kak !" kesal Fany, jantungnya kini seakan berhenti berdetak, ini adalah ciuman keduanya setelah ia menikah dengan Daren.
Bukannya takut, pria itu kembali melangkah, mengamit pinggang ramping istrinya, menarik tengkuk Fany agar wajah gadis itu mendekati wajahnya.
Pria itu kembali mengecup bibir tipis istrinya, lama kelamaan, yang tadinya hanya kecupan kini menjadi sebuah luma*an dan semakin menuntut.
Fany yang terbuai akan permaian suamianya, mengalungkan tangannya di leher pria itu.
Tanpa abah-abah Daren mengendong tubuh mungil Fany masuk kedalam kamar tanpa melepaskan ciumannya.
"Mau ngapain?" Fany menghentikan pergerakan tangan Daren yang semakin tak terkendali.
Pria itu mendengus, apa istrinya ini polos? atau memang tidak tahu apa maunya?
"Aku ingin hak ku malam ini?" jawab Daren dengan tatapan sayunnya.
"Hak?" Fany mengerutkan keningnya, tidak mengerti arah pembicaraan suaminya, hak apa yang di inginkan Daren?
"Hak aku sebagai suamimu?"
"Oh hak itu." ucap Fany santai.
Seulas senyum terbit di bibir Daren. "Mau yah." bujuknya.
Gadis itu mengeleng. "Aku lagi datang bulan kak." ucapnya dengan senyuman yang begitu imut.
Pupus sudah harapan Daren, malam ini ia gagal lagi buka puasa, pria itu merebahkan tubuhnya di samping istri tercintanya.
"Berapa lama?" tanyanya, mencium kening Fany.
"Satu minggu"
"Selama itu?"
Gadis itu mengangguk. "Maaf." lirihnya.
"Udah nggak apa-apa, sekarang tidur, sudah tengah malam." Daren kembali mengecup kening istrinya, mendekap tubuh gadis itu kedalam pelukannnya.
Fany kembali mengangguk, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Daren.
***
"Ahhhhhh." Teriak Fany saat mendapati Daren tengah memeluknya, apa lagi saat wajah pria itu nangkring di gunung kembarnya.
Gadis itu mendorong tubuh Daren dan duduk di atas tempat tidur.
"Ngapain teriak pagi-pagi sih, lebih baik tidur lagi." ucap Daren menarik tangan Fany agar kembali berbaring di sampingnya.
__ADS_1
Bukannya tidur, Fany malah meronta dalam pelukan Daren. "Kenapa tidur di kamarku, keluar !" perintah Fany.
"Kenapa ada yang marah, hm?" jawabnya masih memejamkan matanya, tanpa melepaskan pelukannya.
"Tentu saja aku marah, ini kamarku, dan tidak ada yang boleh masuk tanpa se izinku." jawab Fany.
Pria itu membuka matanya, mengangkat tubuhnya agar Fany berada dalam kungkungannya. "Tidak ada yang bisa melarangku, ini rumahku, dan satu yang harus kamu tahu, KAMU MILIKKU." ucap Daren menekankan kata milikku dan mengecup kening Istrinya.
Setelah mengatakan itu, Daren turun dari tempat tidur. "Bersiap-siaplah, kita akan pergi ke suatu tempat." ucapnya dan berlalu pergi.
Daren mengerutkan keningnya, saat melihat istrinya menuruni anak tangga, pria itu menghampiri gadis itu.
"Kenapa belum siap-siap?" tanyanya.
"Memangnya kita mau kemana?"
"Ke suatu tempat." ucap Daren sok misterius.
"Yaudah gini aja." jawabnya asal.
"Aahhh, kak turunin nggak !" Fany memukul-mukul punggung suamianya, karna tiba-tiba mengendongnya.
"Ganti baju sekarang, atau aku yang ganti." ancam Daren.
"Iya-iya, aku ganti baju sekarang." Fany tidak bisa membayangkan jika suaminya benar-benar membuktikan ucapannya.
"Gitu dong, kan cantik." godanya dan menurunkan Fany dari gendongannya.
"Dasar modus." ucap Fany dan berlari masuk kedalam kamarnya.
***
"Kak." panggil Fany.
"Hmm." gumam Daren masih fokus menyetir.
"Kita mau kemana?" rengek Fany, gadis itu sudah penasaran setengah mati.
"Rahasia." ulang Fany dengan nada mengejek.
"Kamu kesal? marah, ia? yaudah aku siap di hukum kok, mau siang atau malam aku siap." ucap Daren menaik turunkan alisnya.
"Apaansih, jangan ngacoh deh, dasar mesum." Fany melempar tatapannya keluar jendela tidak ingin suaminya melihat raut wajah merahnya.
"Memangnya apa yang kamu pikirkan, hm?" Daren menahan senyumnya.
"Ais kak."
"Cie yang udah nggak tahan, sabar ya kamu masih haid." goda Daren.
"Kak !" kesal Fany.
"Hahahaha." tawa Daren pecah, ia sangat suka jika melihat istrinya kesal.
***
Fany mengedarkan pandangannya, memperhatikan bangunan mewah bak istana, dengan halaman begitu luas dan hijau dengan pepohonan lumayan besar, belum lagi saat ia melewati pagar utama layaknya benteng istana.
Gadis itu turun dari mobil sport merah suaminya, saat pria itu membukakan pintu.
"Rumah siapa kak?" tanya Fany.
Bukannya menjawab, pria itu malah mengengam tangan gadis itu dan membawanya ke dapan pintu utama.
Daren memencet bel, dan menunggu seseorang membukakan pintu untuk mereka. Dan tidak butuh waktu lama, wanita paruh baya entah siapa namanya membukakan pintu untuknya.
"Cari siapa tuan?" tanya pelayan itu sopan
"Cari nenek tua, bilang saja pangerannya datang." ucap Daren.
Pelayan itu melonggo, baru kali ini ia mendapat tamu yang berani mengatai nyonya besar di rumah ini nenek tua.
__ADS_1
"Tunggu sebenar tuan, masuk dulu." ucap wanita paruh baya itu mempersilahkan keduanya masuk ke rumah besar bak istana itu.
Dengan santainya, Daren berjalan masuk kerumah itu dan duduk di ruang tamu bersama Fany yang kebingungan.
"Rumah siapa sih kak?"
"Rumah penyihir tua, hati-hati kalau bicara dengannya, biasanya kalau marah dia suka makan orang." ucap Daren menakut-nakuti Fany.
Dan benar saja, gadis itu semakin erat mengengam tangan suaminya. "Emang kanibal apa makan orang." Fany berusaha tetap terlihat santai walau jantungnya berdebar kencang.
Gadis itu semakin mengeratkan gengaman tangannya saat melihat wanita tua namun masih terlihat cantik menghampiri mereka.
Namun di luar dugaan Fany, wanita tua itu tersenyum ramah kepadanya.
"Oh jadi ini pangeran yang berani ngatain saya nenek tua ia?" ucapnya berkacak pinggang.
"Lah memang, oma sudah tua kan? masa ia Daren manggilnya wanita muda." ucapnya tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Kamu tidak berubah sama sekali." ucap Oma Jelita menepuk lengan Daren.
"Berubah kok Oma."
"Masa ia?"
"Iya, sekarang Daren itu makin tampan, dan sudah punya istri." ucapnya dengan percaya diri, dan tanpa malu mengamit pinggang Fany yang sedari tadi menunduk.
Oma Jelita tersenyum, ia hampir lupa dengan kehadiran cucu menantunya. "Cantik, siapa namanya?" tanyanya lembut.
Fany mengangkat kepalanya dan tersenyum canggung. "Fany nyonya." jawabnya.
"Jangan panggil nyonya, saya itu Omanya suami kamu." ucap Oma Jelita senyum dan mengelus puncuk kepala Fany.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Bahagia banget babang Daren nya🥰🤭.
Cie malu-malu kucing neng Fany nya🥰🤭.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
TBC
Yang penasaran siapa itu Oma Jelita bisa baca novel author satunya lagi dengan judul TERPAKSA MENIKAH.
Gimana-gimana? ada yang senang nggak neng Fany sama babang Daren bersatu?🥰
Jangan lupa Vote, komen, dan likenya, karena dukungan kalian adalah semangatku😁💪.
SELAMAT MEMBACA
__ADS_1