
..."Aku tersenyum bukan berarti aku bahagia, mungkin senyum itu hanya untuk menutupi luka yang tak perlu orang tahu."...
...@Fany Palwinta...
Daren meneguk air minumnya hingga tandas, rasa haus menyerangnya setelah kerjar-kejaran tidak jelas di taman, namun itu tidak sia-sia karena berhasil mendapatkan karcisnya.
Pria itu mengembangkan senyumnya, mengingat kembali bagaimana perjuangannya. Berlari menghindari para gerombolan suami Fans, dan berakhir kejar-kejaran dengan Radit dan juga penjual karcis, hingga ia berhasil merebut karcis tersebut di tangan Radit dan pergi begitu saja.
Demi istrinya ia rela melakukan hal konyol yang tidak pernah di lakukanlah selama hidupnya.
Dengan perasaan bahagia Daren melajukan mobilnya menuju apartemen, senyuman terus menghiasi wajahnya selama perjalana ia dapat membayangkan bagaimana bahagianya istrinya.
"Kak Daren, aku mencintaimu !!!" Fany berlari kearah Daren yang baru saja membuka pintu.
Melompat, dan melingkarkan kakinya di pinggang Daren, tak lupa mengalungkan tangannya di leher pria itu. "Sayang kamu memang tahu apa yang aku inginkan." Fany mencium seluruh wajah Daren tanpa ada yang tersisa.
Sungguh Daren sangat bahagia malam ini, senyumnya tak pernah surut menghiasi wajah tampannya.
"Aaaaaaahhhhhhhhh." Suara teriakan wanita memenuhi seluruh apartemen itu, membuat Daren tersadar dari lamunannya.
Daren mendegus kesal melihat Fany berteriak-teriak di dalam kamar, dan jangan lupakan raut wajah bahagianya, sampai-sampai Fany tak menyadari kehadirannya di rumah itu.
Daren duduk di anak tangga dengan wajah lesu. "Realita tak sesuai ekspektasi" gumam Daren.
"Aaaaaaahhhhhhh." teriakan itu kembali mengintrupsi membuat Daren menutup telinganya.
"Demi apa? gue nggak nyangka bakal ke pameran itu, makasih banget karcisnya kak Radit." Fany kegirangan, dan berterima kasih pada Radit yang sedang menelfonnya.
"Ok, kita pergi bersama besok." Fany menyetujui ajakan Radit.
Membuat hati Daren mencelos, perjuangannya hingga tengah malam sia-sia saja, Di pandanginya kertas berukuran kecil di tangannya. "Lo terlambat Daren, Radit sudah lebih dulu mengajaknya" lirihnya.
Daren kembali melirik kamarnya, di mana seorang wanita tengah mencak-mencak di atas tempat tidur saking bahagianya, namun kebahagiannya membuat Daren sakit hati, karena bukan dia alasan Fany bahagia, melainkan pria lain.
"Mr. Dilan, sampai ketemu besok."
Samar-samar Daren masih mendengar teriakan Fany yang kelewat bahagia, Ya Daren memutuskan kembali ke hotel malam ini, ia tidak ingin mengganggu kebahagian istrinya.
***
Sesuai perjanjian hari ini Radit dan Fany pergi bersama ke pameran yang di adakan Art Galeri. Setelah melewati pemeriksaan dan menukarkan karcis, keduanya melangkah masuk dan langsung di sunguhkan lukisan-lukisan yang sangat cantik dan penuh makna yang mendalam.
Mulai dari lukisan sejarah, hingga lukisan modern terdapat di dalam museum itu, dan jangan lupakan beberapa lukisan terkenal lainnya.
Fany sangat bahagia bisa menyaksikan langsung pameran yang di adakan Mr. Dilan beberapa menit yang lalu. Bahkan Mr. Dilan sendiri yang menjelaskan konsep dan makna lukisan yang sedang di pamerkan. Tak lupa Fany meminta Mr Dilan menandatangani buku yang di belikan Radit padanya waktu lalu. Dan sekarang buku itu sebagian sudah penuh dengan sketsa dan juga beberapa gambar menarik miliknya.
Setelah acara selesai, Fany tak langsung pulang, tapi malah mengajak Radit keliling museum, melihat-lihat lukisan mencari inspirasi untuk sketsa nanti yang akan di serahkan ke perlombaan.
"Gimana senang nggak?" Radit memecahkan keheningan.
__ADS_1
Fany mengangguk antusias. "Seneng banget." jawabnya memamerkan giginya. "Tapi lebih senang lagi jika yang ngajak kak Daren." lirihnya.
Fany sangat berharap semalam yang mengajaknya adalah Daren, tapi jangankan mengajak, Daren bahkan semalam tidak pulang.
Atensi Fany terpusat pada seseorang yang baru saja lewa memakai cardigan hitam.
"Kenapa?" tanya Radit.
"Kak Daren, ya itu tadi pasti kak Daren." Yakin Fany.
Fany berlari-lari kecil meninggalkan Radit, bahkan menghiraukan panggilan pria itu.
***
Daren terus menyurusi museum, berjalan santai dengan tangan satunya di masukkan ke dalam saku celananya. Ya santai, karena kali ini Daren memakai penyamarannya.
Daren terus berjalan mundur, memperhatikan lukisan di hadapannya yang terlihat aneh, jika dilihat sekilas terlihat seperti bunga, namun jika kita melihatnya lebih teliti lagi, lukisan itu berbentuk wajah manusia, lebih tepatnya wanita yang tengah tersenyum dengan air mata yang menetes. Namun setitik air mata itu tidak akan terlihat jika tidak fokus.
"Aneh, ada ya orang tersenyum padahal menangis." gumam Daren tidak mengerti arti lukisan itu.
Bruk
Daren membalikkan tubuhnya saat merasa punggung kekarnya menabrak seseorang.
"Fany." Ya wanita yang baru saja di tabrak Daren adalah istrinya sendiri.
"Sayang aku..."
Fokus Fany bukan pada pria di sampingnya, tapi pada lukisan yang di angap aneh Daren. Fany mengembangkan senyumnya.
Lukisan itu sama sepertinya, berusaha tersenyum walau sebenarnya ia sedang tidak baik-baik saja, dan dalam diam neneteskan air mata tanpa seseorang tahu.
Sama halnya dengan lukisan itu hanya orang-orang yang peduli dan fokus yang akan mengetahui bahwa lukisan itu sedang menangis dalam senyumnya.
"Akhirnya gue nemuin lo Fan." Radit mengatur nafasnya. Lelah karena berlari mencari Fany.
"Ada apa..."
"Ngapain lo nyarin istri gue?" Daren memotong perkataan Fany, lalu menarik gadis itu menjauh dari Radit, lebih tepatnya menyembunyikan Fany di belakang pungungnya.
"Fany, kita pergi sekarang, disini nggak aman buat lo." Radit berusaha meraih tangan Fany, tapi sebelum itu tangannya terlebih dahulu di tepis oleh Daren.
"Lebih nggak aman jika dia pergi sama lo." ujar Daren sinis.
"Elina baru saja nelpon gue, dia bilang para reporter menuju kesini mencari lo dan Fany." jelas Radit.
"Ada masalah apa kak?" Fany angkat bicara.
"Sudah gue duga." gumam Daren
__ADS_1
"Coba buka sosial media lo!" perintah Radit.
Tanpa menunggu lama Fany membuka media sosialnya, dan hal pertama yang ia liat sungguh membuatnya sakit hati. Fany menatap tajam Daren .
"Siapa dia kak? jadi wanita ini yang membuat kak Daren nggak pulang kerumah ia?" tuduh Fany.
Gimana Fany tidak munuduh Daren, melihat foto yang beredar, di mana Daren sedang memeluk seorang wanita di depan kamar hotelnya.
Daren memengang kedua lengan Fany, menatap lekat mata sendu istrinya, sangat jelas gadis itu sangat terluka. "Aku akan jelaskan semuanya, itu tidak seperti yang kamu kira." bujuk Daren, namun Fany diam saja.
"Gimanq? lo ikut gue apa suami lo?" tanya Radit, namun gadis itu tetap diam.
"Pakai nanya lagi, ya jelas lah dia sama gue, diakan istri gue!" kesal Daren.
"Baiklah, gue keluar duluan, sebisa mungkin gue bakal mengalihkan perhatian para reporter." ucap Radit dan berlalu pergi.
Kurang apa lagi coba si Radit?
Sepeninggalan Radit, Daren menarik Fany ke tempat sunyi namun masih di dalam musemun tersebut.
Hening
Tidak ada yang membuka suara, bahkan Daren sekalipun, padahal Daren sendiri yang menawarkan untuk menjelsakan semuanya.
Terdengar helaan nafas Fany. "Kak aku butuh penjelasan, bukan diamnya kak Daren. Ataukah foto itu sudah bisa menjelaskan semuanya?"
-
-
-
-
-
-
-
-
-
TBC
Yang nunggu author up kemarin malam, sory banget ya baru up sekarang. Author semalam lagi mager dan nggak bisa mikir😁.
Jangan lupa Vote, komen, dan like. Komen dari kalian semangat author dan juga inspirasi author.
__ADS_1
...SELAMAT MEMBACA !!!!...