
"Aaaaaahhhhhh."
Teriak Fany ketakutan saat tiba-tiba listrik padam. Dia sangat takut kegelapan, dan dia sedang sendiri di rumah.
"Ibu, Fany takut." lirih Fany memejamkan matanya.
Dengan tangan gemetar, Dia meraih ponselnya mencari nama seseorang di dalam kontaknya, kemudian menghubunginya.
"Nathan, hiks...hiks...hiks." Tangis Fany pecah saat sambungan telfon terhubung, bahkan sakin takutnya dia sampai lupa mengucapkan salam.
"Kakak kenapa!" tanya Nathan terdengar khawatir.
"Gu..e takut, gelap, hiks. Gue di rumah sendiri, Ibu."
"Aku kesana sekarang kak."
Tut
Walau kalimat Fany tidak jelas dan terbata-bata, Nathan sangat-sangat mengerti apa yang mau Fany katakan. Ikatan batin Nathan sangat kuat.
***
Sayup-sayup Fany mendegar panggilan dari luar, dan itu membuatnya semakin takut.
"Kak Fany!" teriak Nathan.
Hening
Ceklek.
"Kak Fany!" panggil Nathan setelah sampai di kamar Fany. Dia mendapati kakaknya meringkuk di atas ranjang.
"Nathan." Fany menghambur kepelukan adiknya setelah Nathan berada di sampingnya. "Gue takut kegelapan." ujarnya.
"Udah ada aku kak." Nathan mengelus lembut punggung Fany yang masih bergetar.
"Kakak udah makan belum?" tanyanya.
Fany mengeleng dalam dekapannya.
Nathan mengalihkan tatapannya, pada Keysa walau tidak langsung menatap gadis itu. Lagi pula di kamar remang-remang cahaya, karena hanya di sinari senter Hp.
"Gofood dulu Key." pinta Nathan. Ya Nathan datang bersama Keysa, karen kebetulan mereka makan malam atas dasar paksaan gadis itu.
"Duh bumil manja banget ya." goda Nathan.
__ADS_1
Tidak ada respon.
"Kenapa disini? bukannya kak Daren nggak pernah biarin kakak keluar sendiri?" ujar Nathan.
"Gue ngantuk Than." Fany malas membahas soal Daren untuk saat ini.
"Yaudah tidur aja dulu, kalau gofood nya udah datang aku bangunin." Nathan membaringkan Fany di tempat tidur.
"Jangan tinggalin gue." cegah Fany menarik tangan Nathan.
"Aku keluar bentar kak, mau ngecek rumah, tetangga yang lain Lampunya pada nyala cuma rumah ini yang nggak." jelas Nathan. "Kak Fany di temenin Keysa dulu ya!"
"Keysa?" beo Fany.
"Hm, jadi kak Fany nggak tau kalau aku juga ikut, apaan coba besar gini nggak keliatan." cerocos Keysa. Terdegar dari suaranya, sepertinya Keysa sedang merajuk.
Tring
Listrik kembali menyala, berbarengan datangnya Nathan ke kamar Fany.
"Sepertinya ada yang sengaja padamin listrik di rumah ini deh kak." ujar Nathan saat mendapati ada kejanggalan saat melihat sentral listrik di rumahnya.
"Siapa sih yang iseng main listrik gitu, di keritingin baru tau rasa tuh orang." Keysa merengut kesal sendiri.
"Yang tau kak Fany ada di sini siapa aja?"
"Nggak papa nanya aja, udah yuk kakak makan dulu, gofoodnya udah datang." Nathan menepis pikiran-pikiran tidak masuk akal yang muncul begitu saja dalam otaknya. Mungkin memang ada kesalahan pada sentral listrik rumahnya.
"Kok makannya dikit amat? habisin kak Fany, ingat di dalam sana ada ponakan aku yang juga butuh makan." bujuk Nathan.
"Udah kenyang." keluh Fany.
Setelah makan malam bersama, ketiganya memutuskan duduk di ruang tamu. Dengan berbagai cemilan di hadapannya, siapa lagi yang mengusulkan kalau bukan Keysa si hobi makan tapi maunya langsing. Aneh memang tuh si Keysa edang.
Fany mencoba menghindar dari tatatapan Nathan, Sendari tadi adiknya itu memandanginya dengan tatapan yang sulit di artikan. Fany takut jika Nathan kembali menanyakan alasan keberadaanya di rumah ini.
"Kak Fany."
"Hm." cuek Fany fokus ngemil bareng Keysa.
"Ngapain kakak di sini? kak Fany nggak lagi punya masalah sama kak Daren kan." tatapan Nathan penuh selidik.
Keysa hanya mengut-mangut menunggu jawaban Fany, dia juga sangat penasaran kenapa calon kakak iparnya itu ada di rumah ini, padahal dia tahu betul bagaimana posesifnya Daren.
"Kak!" panggil Nathan dingin.
__ADS_1
"Iya, iya, gue bakal cerita sabar napa, gue ngemil dulu ngumpulin tenaga." Fany berusaha mengulur waktu, menyusun kata--kata yang akan dia keluarkan dari mulutnya, dia tidak yakin bisa menahan air matanya jika menceritakan masalahnya.
Setelah siap, Fany menceritakan semua masalahnya pada Nathan. Awal mulai sikap Daren berubah dingin, hingga dia pergi dari rumah.
Tangan Nathan terkepal menahan amarah. Ikut sakit mendengar cerita kakaknya. Merasa geram ada seseorang yang berani menyakiti kakak satu-satunya, dia tidak peduli siapapun orang itu, tapi sekarang Daren harus menerima balasan yang setimpal.
"Udah kak jangan nangis lagi." Keysa menenangkan Fany yang sesegukan dalam pelukannya. "Semuanya akan baik-baik saja, kita tetap dukung keputusan kak Fany kok."
"Kak Fany tau nggak, selama tiga bulan terakhir ini, Nathan sering cerita sama aku, katanya dia sering cemas nggak jelas gitu. Tapi mendengar cerita kak Fany barusan, aku ngerti. Ternyata ikatan batin kak Fany sama Nathan kuat banget ya, sampai Nathan bisa dapat feeling gitu sama kak Fany." Keysa mengalihkan topik.
"Kenapa baru cerita sekarang? padahal kak Fany udah tersiksa batin kurang kebih tiga bulan lamanya? kak Fany nggak ngangap aku?" ujar Nathan.
"Udah Than, jangan di bahas lagi, kasian kak Fany, yang penting sekarang kita udah tau masalahnya."
Nathan bangkit dari duduknya, mengambil jaket dan juga kunci mobil Keysa di atas meja. "Key aku titip kak Fany ya, aku juga pinjam mobil kamu." ujarnya.
"Iya, aku juga rencanya mau nginep nemenin kak Fany.."
"Than lo mau kemana?" tanya Fany.
"Ada urusan."
***
Suara bel di depan apartemen terus bunyi tak sabaran, membuat Daren mau tidak mau harus membukanya.
Belum sempat pintu terbuka sempurna pukulan sudah mendarat sempurna pada wajah mulusnya. Bukan sekali, bahkan berkali-kali. Hingga membuatnya tersungkur ke lantai.
Tanpa ampun Nathan terus memukuli Daren, tidak peduli Daren akan kesakitan bahkan kehabisan nyawa sekalipun, yang ada di pikirannya saat ini memberi pelajaran pada seseorang yang berani menyakiti Kakanya. Nathan tidak sesabar yang kalian fikirkan jika itu menyangkut kakaknya.
"Gue udah pernah bilang sama lo, jaga dia, jangan sakiti dia, tapi yang lo lakuin malah sebaliknya!" Nathan kembali menarik kerah kemeja Daren membantunya bangun kemudian kembali memberikannya bogeman, bukan lagi pada wajahnya tapi pada perutnya.
Deon diam sama menyaksikan pertengkaran antara Daren dan adik iparnya. Ralat bukan pertengkaran karena Daren sedang di pukul tanpa perlawanan.
Bukan tanpa alasan Deon diam, tapi Daren yang memberi kode agar membiarkan Nathan memukulinya.
"Nathan stop!" Deon melerai pukulan Nathan saat melihat Daren terkapar lemas di lantai. "Lo bisa saja bunuh Daren." peringatan Deon.
Nathan melepas paksa kurungan Deon pada tubuhnya. "Kalau saja bunuh orang nggak dosa, udah gue bunuh lo." ucapnya lalu meninggalkan apartemen Daren.
Katakanlah Nathan tidak waras, tapi harus kalian tahu, dia takut kehilangan Fany, hanya dia satu-satunya keluarganya. Sudah cukup melihat tubuh ibunya terbujur kaku tanpa bisa berbuat apa-apa, tapi sekarang dia akan melakukan apapun untuk melindungi Fany.
...TBC...
...****************...
__ADS_1
Ada yang kasian sama Daren nggak?