My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 40


__ADS_3

"Menurutmu? apa aku akan menikahinya jika aku tidak mencintainya? asal kau tahu aku sangat MENCINTAI ISTRIKU SELAMANYA !" ucap Daren.


"Aduh, jadi baper aku kak" celetuk Kirana.


Suasana yang tadinya tengang kini mencair kembali karena celotehan Kirana yang terus mengundang tawa, apa lagi saat melihat kemesraan temannya di meja makan.


Siapa yang tidak baper melihat Fany dan Daren makan suap-suapan. Yang katanya tangannya sakit , namun bisa menyuapi istrinya.


"Kak Aku mohon, jangan berlebihan seperti ini." bisik Fany di telinga suaminya.


"Hem, bisa kali cium-ciumnya setelah kita pergi aja." celetuk Kirana yang mengira Fany sedang mencium suaminya.


Uhuk...uhuk...uhuk.


"Makannya hati-hati dong." ucap Daren menepuk-nepuk tengkuk istrinya dengan lembut dan memberikannya segelas air.


"Terimakasih kak." ucapnya lirih.


Setelah makan siang, bukannya teman-teman gadis itu pergi. Mereka malah bermain ludo di ruang tamu.


Daren dan Nara tidak ikut bermain, mereka hanya menyaksikan yang lainnya bermain.


Daren tak henti-hentinya tersenyum melihat istrinya tertawa, entah tapi ia suka itu.


"Yah kalah lagi kan." Fany cemberut.


"Lu mah payah Fan." ledek Rina.


"Gue nggak payah ya, ayo main lagi, kali ini gue yang menang." ucapnya penuh semangat.


"Siapa takut" seru mereka bersamaan sembari tertawa.


Daren yang sedari tadi memperhatikan istrinya sudah kalah beberapa kali, memutuskan untuk membantunya.


Pria itu memberi kode pada Kirana dan tentu saja gadis itu langsung menoleh, Ia memberikan kontaknya pada gadis itu dan tentu saja gadis itu sangat senang.


"Ah teri- "


"Hust" pria itu memberi kode agar Kirana tidak membuat suara yang akan mengacaukan rencananya.


Daren ( Buat grup untuk kita tapi jangan masukkan Fany !! ).


Kirana tanpa abah-abah langsung membuat grup chat untuk mereka berlima tanpa Fany, walau ia tidak tahu apa yang akan di lakukan pria itu.


Daren ( Buat Fany menang apapun caranya ! ) pesan grup.


Mereka hanya melihat pesan Daren dan saling pandang.


Daren ( Gue akan jadi tamu VIP kalian selama sebulan ) pesan grup.


Seperti di komando mereka mengangguk dan itu membuat Daren lengah, kali ini ia tidak akan melihat raut kekecewaan di wajah istrinya.


Permainan berjalan sangat lancar sesuai perintah Daren.


"Yey, gue bilang juga apa, kali ini gue yang menang" ucapnya bangga.


"Ya lu memang hebat." Kirana mengacungkan jempolnya.


"Tentu saja." ucapnya percaya diri.

__ADS_1


Daren dan teman-teman lainnya hanya bisa menahan tawa melihat kepercayaan diri Fany.


Setelah bermain cukup lama, akhirnya mereka pamit pulang, sepasang suami istri itu mengantar tamunya hingga kedepan pintu, dengan Daren yang terus mengamit pinggang ramping istrinya.


Gadis itu melepaskan lengan kekar yang masih setia melingkar di pinggangnya "Cukup sandiwaranya !" ucapnya.


"Kenapa tidak memberitahuku bahwa teman-temnamu akan datang ?" tanya Daren. "Dan kenapa kamu menganggap perhatianku tadi sandiwara hem ?" Daren semakin mendekat membuat gadis itu berjalan mundur hingga pungungnya membentur tembok.


"Ak...aku---"


Gadis itu reflek menutup matanya saat merasakan nafas hangat menerpa kulit wajahnya, hidung macung itu kini menyetuh hidungnya, namun perlahan hembusan nafas dan hidung itu menjauh.


"Apa kamu berharap aku akan menciummu?" goda Daren dengan senyuman nakalnya.


"Kak !" kesal Fany, malu? jangan ditanya lagi, ia sangat malu, apa lagi jika Pria itu tahu bahwa ia membayangkan dirinya tengah di cium olehnya.


"Lihatlah wajahmu memerah." Daren mengelus pipi merona itu dan berlari masuk kedalam kamarnya.


Pria itu terus mengembangkan senyumnya, entah, tapi ia sangat bahagia hari ini. Ia memandangi wajahnya di depan cermin.


"Ngapain lu senyum-senyum hah ?" tanyanya pada dirinya di pantulan cermin.


"Kenapa? bukankah kau sangat bahagia?"


"Bahagia? apa yang membuatku bahagia?"


"Kau kan sedang jatuh cinta."


"Jatuh cinta? dengan siapa?"


"Dengan istrimu, lihatlah selama menikah dengannya kau selalu tersenyum."


Pria itu mengacak-acak rambutnya, merasa pusing dengan perasaannya sendiri, ia bingung apa ini rasa cinta atau bukan.


***


Nathan bersiap-siap tidur setelah melaksanakan sholat isya, namun segera di urungkan saat ponselnya berdering.


"Assalamualaikum, ada apa kau menelfonku?" tanya Nathan.


Gadis itu menjawab dengan nada bicara yang hampir tak terdegar.


"Kamu kenapa?"


"Than, tolong aku." lirih wanita itu dan sambungan pun terputus.


Nathan yang tadinya mengantuk tiba-tiba segar kembali, ia berlari keluar kamar untuk memastikan sesuatu.


Tok...tok...tok...


"Keysa apa kau baik-baik saja." Nathan sedikit berteriak sembari terus mengetuk pintu kamar gadis yang tadi menelfonnya.


Tanpa pikir panjang, Ia mencoba membuka pintu dan kebetulan sekali pintu kamar Keysa tidak terkunci.


" Innalillahi, Keysa hey bangun !" Nathan menguncang tubuh Keysa yang tergeletak tak berdaya di lantai.


"Badannya panas sekali." gumam Nathan, tapi ia tidak tahu harus apa, meminta tolong pada staf perempuan? tapi tidak banyak orang yang menyukai Keysa di lingkungan kerjanya.


Nathan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, mencari cara bagaimana mengangkat tubuh gadis di hadapannya tanpa menyentuh kulitnya, apa lagi gadis itu sangatlah seksi.

__ADS_1


Pria itu mengambil selimut, membungkus tubuh manggil Keysa dengan selimut itu dan mengendongnya naik ke atas ranjang.


Pria itu menyiapkan air hangat dan juga handuk kecil untuk mengompres Keysa agar demamnya mereda.


Dert...dert...dert...


Pria itu ragu untuk menjawab telfonnya, saat mengetahui siapa penelfon itu. "Aduh ngapain kak Fany menelfon di saat seperti ini" gumamnya, ia tidak ingin mendapatkan siraman rohani malam-malam begini.


" Assalamualaikum Kak, ada apa?"


Gadis itu menjawab salam adiknya dan langsung mengatakan apa yang ingin di katakannya.


"Kapan lu kerumah, kakak rindu tau." ucapnya.


"Mungkin besok kak."


"Lu ya kalau nggak di ingetin pulang, nggak bakalan pulang." kesal Fany.


"Ya maaf kak."


"Jangan pergi." igau Keysa.


"Suara perempuan? kamu di mana sekarang !" tanya nya penuh selidik.


"Ak...aku di kamar Keysa --"


"Ngapain !" potong Fany.


"Sudah dulu ya, Assalamualaikum."


Nathan buru-buru memutuskan sambungan telfonnya.


"Lah ngapain gue takut sama kak Fany? aku kan nggak ngapa-ngapain." Nathan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, merasa konyol karena takut pada kakaknya, padahal ia tidak melakukan kesalahan dan hanya merawat orang sakit.


Setelah di rasa suhu tubuh Keysa kembali normal, pria itu memutuskan kembali kekamarnya, ia tidak ingin ada gosip tentang dirinya yang masuk ke dalam kamar gadis malam-malam.


Belum juga melangkah, tangannya sudah di tarik oleh gadis itu, dan itu membuatnya kembali duduk di pinggir ranjang.


"Jangan pergi, malam ini saja temani aku." lirihnya dan memeluk lengan pria itu dengan erat.


"Ya Allah ujian apa yang kau berikan padaku?" ucapnya, ia takut tidak bisa mengendalikan dirinya, bagaimanapun ia adalah laki-laki normal.


-


-


-


-


-


TBC


Terima kasih para Reader karena bersedia mengikuti cerita author.


jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.


Hay kakak-kakak tercinta, author potato juga ikut lomba You Are A WRITER season 5 loh.

__ADS_1


Jika kakak-kakak tercinta suka dengan cerita author, jangan lupa dukung author dengan cara jangan biarkan vote nya kendor ya🙏😊.


Like dan komen kalian adalah semangatku😍🙏🥰🤭.


__ADS_2