My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 63


__ADS_3

...**Jangan pernah ragukan cintaku hanya karena cara mencintaiku yang berbeda....


...@Daren Danuwinarta**...


Hari ini adalah hari kedua ponsel Fany di sita oleh Daren. Dan itu membuat Fany kesal dan juga bersedih, ia tidak tahu kenapa suaminya itu melarangnya bermain hp, apa sebenarnya yang di sembunyikan pria itu.


Karena kasihan dengan istrinya, Daren mengundang Keysa dan juga Nathan kerumahnya, untuk menghibur sang istri yang tengah bersedih.


"Udah dong ngambeknya, tuh Keysa udah datang." bujuk Daren pada istrinya yang sedang dalam mode ngambek.


"Tau ah, aku masih marah ya sama kakak." ancam Fany dan beralih menyambut kedatangan Keysa.


"Selamat pagi calon kakak iparnya aku." teriak Keysa dan langsung memeluk Fany.


"Too." jawab Fany singkat.


"Ih jangan ngambek gitu dong, gimana kalau kita masak untuk sarapan, gue sama Nathan belum sarapan loh." Keysa berusaha mencairkan suasana.


"Udah deh, kak Fany sama kak Daren juga belum sarapan kan?" tebak Keysa.


Ya tebakan Keysa sangatlah benar, Fany dan Daren belum sarapan walau jam sudah menunjukkan pukul 9 di karenakan Fany yang marah.


"Ini mah bukan sarapan lagi namanya kak, tapi makan siang." celetuk Nathan melewati Fany begitu saja dan menghampiri Daren yang sedang bermain game di ruang tamu.


Bukannya apa-apa, tapi Nathan mendukung seratus persen tindakan Daren.


"Tau tuh, kakak lo Than, mau bikin suaminya mati kelaparan." adu Daren sontak mendapat pelototan dari Fany.


"Aku masih ngambek ya." ucap Fany berharap suaminya akan peka dengan perkataanya, namun nyatanya tidak, melihat suaminya kembali sibuk bermain game, bahkan sekarang mabar dengan adiknya.


Kedua gadis bar-bar namun imut itu, tengah berkutat di dapur untuk membuatkan sarapan sekaligus makan siang untuk masing-masing orang tercintanya.


Keysa yang tengah sibuk memotong-motong sayuran, dan Fany yang sibuk memasak.


Grep.


Sebuah tangan melingkar sempurna di pinggang Fany, sontak membuatnya kaget.


"Ngagetin tau ngak." Fany memukul pelan lengan kekar suaminya.


"Mau aku bantu hmm?" tanya Daren.


Mata Fany seketika berbinar mendegar pertanyaan suaminya, dengan cepat ia menganggukkan kepalanya. "Mau." ucapnya.


"Kak Daren tolong masakin ini, sama ini ya." tunjuk bahan-bahan yang telah di potong-potng oleh Keysa.


"Hmm."


"Loh mau kemana?"


"Mau ke toilet bentar kak." ucap Fany dan melangkah meninggalkan dapur.


Bohong, gadis itu sebenarya malah melangkahkan kakinya menuju kamar utama di mana kamar suaminya berada. Senyuman terbit di bibirnya saat melihat dua buah benda pipih tergeletak di atas nakas.


Buru-buru Fany mengambil benda pipih itu, ia sudah merindukan ponselnya.


"Hmm." deheman seseorang di belakangnya sontak menghentikan pergerakannya.


Dengan cepat Fany membalikkan tubuhnya, dan benar saja sekarang Daren berdiri di hadapannya dengan tatapan tajamnya.


"Udah pintar bohong sekarang, hmm!" ucap Daren penuh tekanan.

__ADS_1


"Maaf." lirih Fany menundukkan kepalannya.


Daren melangkah semakin dekat, membuat gadis itu semakin menunduk.


"Aku nggak suka sama pembohong, itu membuatku muak." bisik Daren tepat di telinga Fany lalu mengambil kedua benda pipih itu dan meninggalkan istrinya di dalam kamar.


***


Setelah makan siang, mereka berempat berkumpul di ruang tamu, Keysa yang sibuk dengan ponselnya, Daren dan Nathan sibuk mabar, lalu apa kabar dengan Fany? gadis itu hanya diam sembari mengelus rambut Daren yang tengah tidur di pangkuannya.


Kesal? tentu saja, melihat ketiga manusia di hadapanya sibuk dengan ponselnya masing-masing. Sementara dirinya hanya berdiam diri menoton Tv yang tengah menayangkan Film Azab membuatnya bertambah kesal.


Daren sekali-kali melirik istrinya, sebenarnya ia kasihan melihat istrinya. Cukup, Daren tidak sanggup lagi melihat istrinya murung dan diam saja sedari tadi.


Pria itu bangun dari tidurnya, mengambil sesuatu di dalam saku celanya dan memberikannya pada Fany.


Gadis itu tersenyum lebar, melihat ponselnya sudah di depan mata. "Makasih kak." ucapnya langsung merebut ponselnya.


"Daripada diam, sekarang kamu ikut mabar sama aku." ucap Daren.


"Benar tuh kak." timpal Nathan.


Fany menghela nafas kesal melihat tampilan layar. Namun tidak ada salahnya jika ikut bermain dari pada nggak ngapa-ngapain.


"Oke, kamu ngikutin aku dari belakang aja, takut di serang musuh" instruksi Daren setelah Fany bergabung dalam game.


"Hmmm." gumam Fany tak bersemangat.


"Mau ikut juga lo?" tanya Daren pada Keysa.


"Boleh." Keysa mengangguk antusias.


"Siap kak." sahut Nathan.


"Lo tetap di belakang Nathan aja Sya." peringatan Daren.


"Beautiful lion itu akun siapa? kok tiba-tiba gabung?" tanya Daren.


Dengan ragu Keysa mengangkat tangannya.


"Level lo Master?" Daren memastikan, tidak percaya seorang Keysa mampu mengalahkan dirinya, bahkan masih jauh di bawah.


"Iya." jawabnya.


"Gila kamu Sya, level Master, mantap." puji Nathan.


Fany yang tengah kesal dan tidak mengerti tentang game yang di mainkan suaminya, memutuskan untuk keluar.


"Loh kok keluar?" tanya Daren.


"Malas." jawab Fany jujur dan bangkit dari duduknya.


Daren menarik tangan istrinya yang hendak pergi. "Mau kemana?"


"Toilet."


"Harus banget bawa hp?" tanya Daren merebut ponsel Fany dan menyelipkannya di pahanya.


Tanpa menjawab pertanyaan Suaminya, gadis itu melangkah ke dalam kamar.


***

__ADS_1


Daren menatap arloji di pergelangan tangannya, satu jam telah berlalu, bahkan Keysa dan Nathan sudah pergi, namun Fany belum juga balik dari kamar, tidak biasanya gadis itu betah berlama-lama di dalam kamar tanpa ponsel ataupun laptop.


Buru-buru pria itu mengecek CCTV.


"Shit." umpat Daren, ia sudah kecolangan, istrinya pergi meninggalkan rumah tanpa ia ketahui.


Ia semakin kesal, saat mendapati benda yang ia sembunyikan, bukanlah sebuah ponsel melainkan silikon.


Secepat kilat, pria itu menyambar kunci mobil dan juga jaket di dalam kamarnya dan berlalu pergi. Tujuan utamanya adalah butik, sejak kemarin Istirnya merengek ingin kebutik.


Melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata membelai keramaian ibu kota, bahkan ia tidak memperdulikan nyawanya, di pikirannya adalah Fany, Ia tidak tahu bagaimana hancurkan gadis itu jika melihat hinaan dan makian yang terlontar dari para Netizen.


Hinaan-hinaan itu masih tergiang-girang di pikiran Daren setelah membaca komen-komen menyakitkan setelah pengakuan dan permintaan maaf Daren secara Live.


"*Dasar wanita jalang, ia pasti menjebak Daren."


"Fany pasti memelet Daren pantesan Daren mau sama dia."


"Wanita tak tahu malu."


"*****."


"Lo itu nggak pantas sama Daren, status lo aja jauh di bawah Daren."


"Wanita nggak tahu diri."


"Kasian ya si Daren dapat istri licik kek Fany itu*."


Dan berbagai bulian di kolom komentar.


Daren tidak menyangka pengakuannya secara Live malah berdampak negatif pada istrinya, gimana jika ia memilih pilihan pertama? sudah di pastikan Fany akan mendapatkan dari sekedar bulian.


"Shit." entah sudah keberapa kalinya pria itu mengumpat saat jalanan macet.


Daren memukul-mukul setir mobilnya, sedari tadi ia menghubungi Fany namun gadis itu mengabaikan panggilannya.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Hay author kembali lagi, ada yang nyariin author ya? semoga ada ya, kalau nggak, author auto ngambek nih kek neng Fany.


Semoga Fany nggak terpuruk setelah mengetahui semuanya ya.


Jangan lupa Vote, hadiah, dan komen kalian ya, di Favorit kan juga ceritanya agar dapat notif setiap up.


SELAMAT MEMBACA !!!

__ADS_1


__ADS_2