My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 44


__ADS_3

"Fany awas !" Teriak Radit saat melihat salah satu properti syuting akan terjatuh menimpah tubuh mungil gadis itu.


Brak !!


"Akh !" Erang Daren saat sesuatu menimpa punggung kekarnya.


Fany refleks membuka matanya, memutar tubuhnya menghadap suaminya yang memeluknya dari belakang.


"Kak Daren, kakak nggak apa-apa?" Tanya gadis itu khwatir.


"Ya kali aku di timpuk benda keras nggak papa." Gerutu Daren.


Yang lainnya mulai mendekat, memastikan apakah keduanya baik-baik saja.


"Kalian nggak papa kan?" Tanya Radit memastikan.


Dan banyak lagi pertanyaan serupa yang di layangkan pada Daren, semua orang terlihat khawatir terutama sang istri.


"Kamu istirahat dulu ya, aku obatin luka kamu." Ucap Fany merengkuh tubuh kekar suaminya.


Fany mendudukkan Daren di sebuah kursi setelah sampai di ruang istirahat. Ia membuka kemeja suaminya yang sudah robek akibat menolongnya.


"Apa gue harus terluka dulu, baru dia bisa perhatian seperti ini?" Batin Daren menatap intens wajah isrinya yang sedang mengobati luka goresan yang tidak terlalu parah lewat pantulan cermin.


Ya bukan Daren namanya kalau tidak melebih-lebihkan sesuatu dengan drama konyolnya.


"Auw, pelan-pelan dong." Ucapnya.


Fany menuruti perintah Daren, mengobatinya lebih lembut lagi. "Sakit banget ya kak? Maaf." Lirihnya, ini yang kedua kalinya ia membuat suaminya terluka.


"Aku sudah pernah bilang dulu, jangan mengelurkan kata maaf dari mulutmu itu, aku tidak suka mendegarnya." Kesal Daren.


Pria itu tidak suka jika wanitanya meminta maaf, apa lagi jika itu bukan salahnya.


"Selesai." Ucapnya mengelus lembut punggung kekar suaminya.


Daren bangkit dari duduknya, menuju lemari pakaian yang telah di siapkan Deon untuknya. Ia mengambil kemeja warna putih dan memberikannya pada gadis itu.


Tanpa banyak tanya, gadis itu memasangkan kemeja itu pada tubuh kekar suaminya, ia benar-benar mengira luka yang di alami suaminya sangat sakit.


Gadis itu mengusap dada suaminya menadakan telah selesai memasangkan kemejanya. "Kak Daren nggak usah kerja dulu ya, kita pulang aja." Ucapnya dengan nada khawatir.


Ingin rasanya pria itu mencium pipi istirnya, melihat betapa khawatirnya gadis itu padanya, padahal ia tidak kesakitan sama sekali, hanya ngilu sedikit akibat goresan di pungungnya.


"Hahahahah." Tawa pria itu meledak.


"Nggak lucu tahu." Kesal Fany.


Pria itu terus tertawa, ia tidak sanggup lagi bersandiwara saat melihat raut wajah kekhawatiran istirnya yang begitu mengemaskan.


"Khawatir banget sih." Godanya.


"Ais, siapa yang khawatir coba, aku biasa aja tuh." Fany cemberut.


"Bilang aja kamu khawatir."


"Kak Daren !" Kesal Fany.


Akhirnya terjadilah kejar-kejaran di dalam ruangan itu, tanpa mereka sadari, sedari tadi blis kamera terus menyala menyoroti mereka.


Daren yang menyadari kamera menyoroti mereka, berhenti berlari, berbalik badan meraih pinggang istrinya dan memeluknya.


Gadis itu terus meronta. "Diam lihat kedepan para wartawan menyoroti kita." Bisik Daren.

__ADS_1


Seketika gadis itu berhenti meronta, dan menampilkan senyumnya semanis mungkin walau masih kesal pada suaminya.


***


Karena lelah bekerja seharian, keduanya istirahat di sofa, seperti biasa, Daren akan duduk di sopa panjang, dan Fany duduk di sofa single.


Pria itu sedari tadi cekikikan sendiri, memperhatikan sesuatu di ponselnya.


"Hahahhaha." Tawa Daren semakin membahana.


"Kak Daren ngapain sih, dari tadi ketawa sendiri kek orang gila tahu." Gerutu Fany merasa terganggu dengan suara suaminya.


"Iya aku hampir gila melihat ekspresimu, lihat, kamu begitu jelek." Ejeknya memperlihatkan salah satu postingan reporter yang mengambil gambar mereka tadi siang.


"Aku nggak jelek ya." Sebal Fany.


Bukanya menyahuti perkataan istrinya pria itu kembali tertawa melanjutkan kegiatannya menzom foto-foto istrinya yang tersebar di media sosial.


Tapi jika boleh jujur, sebenarnya bukan karena jelek ia tertawa, ia hanya merasa gemas melihat ekspresi istrinya, tapi begitulah ia gengsi untuk mengakuinya.


"Kalau saja aku tahu, aku nggak bakal bawain makan siang untuk kak Daren tadi." Gerutunya.


"Lah emang aku maksa gitu? Kan nggak." Jawabnya.


"Ais kak !" Merasa kesal karena kalah berdebat. Ia bangkit dari duduknya menghampiri suaminya ingin merebut ponselnya.


Tapi bukan Daren namanya jika kalah dengan Fany, ia bangun dari tidurnya, mencoba menghindari istrinya yang akan mengambil ponselnya.


Tanpa pikir panjang, gadis itu melompat naik ketubuh suamianya, mengalungkan tangannya di leher suaminya.


"Turun nggak !" Perintah Daren, ia merasa sesak akibat ulah Fany yang naik kepunggungnya dan mengalungkan tangan kanannya di lehernya.


Tanpa banyak bicara gadis itu turun dari gendongan suamianya, kembali duduk di lantai di mana suaminya masih berdriri di atas sofa.


"Aahhh." Teriak Daren saat merasakan bulu kakinya di cabut, tanpa sadar ia mengusap kakinya.


Fany mengambil ponsel Daren dan berlari masuk kedalam kamarnya.


"FANY !" Teriak Daren.


***


Seperti biasanya setelah sarapan pagi dan berpamitan pada suaminya, gadis itu berangkat bekerja.


"Fan." Panggil Kirana, menghampiri Fany yang sedang sibuk di dalam ruanganya.


"Apa?"


"Itu kak Daren ada dibawah." Jawab Kirana.


"Ngapain?" Tanya Fany.


"Kagak tau gue, kali aja kanget sama lu." Goda Kirana menaik turunkan alisnya.


"Apaan sih." Ucap Fany malu-malu.


Gadis itu memperhatikan arloji di tangannya. "Nggapain jam segini kak Daren menemuiku? Apa dia nggak syuting?" Gumamnya.


Gadis itu menghampiri suaminya, yang sedang bersandar di depan mobil sport merahnya, dengan kacamata di wajahnya membuatnya terlihat sangat tampan.


"Ngapain kak Daren kesini?" Tanyanya.


Tanpa menjawab pria itu membuka pintu samping kemudi. "Naik." Pintanya.

__ADS_1


"Mau kemana?" Gadis itu mengerutkan keningnya.


"Aku bilang naik !" Ulang Daren.


"Aku pamit dulu sama bos--."


"Udah." Potong Daren, ia sudah meminta izin terlebih dahulu pada bos istrinya.


Gadis itu hanya bisa meghela nafas, naik ke mobil suaminya.


***


Gadis itu mengedarkan pandanganya, memperhatikan sekelilingnya. "Ngapain kesini?" Tanyanya pada suaminya.


"Aku ingin melakukan hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya." jawab Daren.


"Hah?"


Pria itu memperhatikan arloji di pergelangan tangannya. "Udah masuk waktu Dzuhur, kita shalat dulu yuk !" ajaknya pada istrinya.


Gadis itu hanya menganguk, mengiyakan ajakan suaminya, untuk menghadap kepada sang pencipta sebelum melakukan kegiatan di dunia.


Keduanya meninggalkan pusat perbelanjaan atau lebih tepatnya mall, dan mencari mesjid terdekat.


***


Setelah melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, keduanya memutuskan untuk makan siang.


"Mamangnya kak Daren mau melakukan apa?" tanya Fany yang sedari tadi penasaran dengan apa yang akan di lakukan suaminya.


"Nanti kamu tahu sendiri." ucapnya mengembangkan senyumnya, walau tidak akan ada yang lihat senyum manis itu, karena di bungkus oleh masker.


Ya keduanya memakai penyamaran , tidak mungkin kan keduanya akan keluar di keramaian tanpa memakai, topi, kacamata dan masker. Bisa-bisa mereka akan di buru para Fans-fans Daren.


"Kak apa yang kamu lakukan?" ucapnya, mencegah kegiatan Daren yang tidak masuk akal baginya.



Senyum babang Daren bikin diabetes ya🤭🥰



Neng Fany nya aja terpanah melihat senyuman babang Daren😁👍🥰


-


-


-


-


-


TBC


Hayo apa yang di lakukan Daren ?🤭🤫


Hari ini hari Senin loh, jangan pada lupa Vote nya ya🥰🤭.


Hadiah dan komentar kalian adalah semangat tersendiri bagi author🥰😁.


"Idih author mah maksa baget kalau soal yang di atas." Readers.

__ADS_1


"Kelihatan maksa banget ya😔?" Author.


__ADS_2