
Samar-samar Fany merasakan usapan lembut di perutnya. Mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan, hal pertama yang dia lihat adalah, Daren mengelus perutnya dengan sayang.
Dia tersenyum. "Iya papi." Fany menyahuti perkataan Daren.
Refleks Daren menoleh saat mendengar suara teramat sangat dia rindukan. "Sayang kamu sudah sadar? ada yang sakit? kamu butuh sesuatu? aku panggilin dokter ya." Daren mencecar Fany dengan segala pertanyaan, takut istrinya butuh sesuatu atau kesakitan akibat ulahnya.
Fany mengeleng kemah. "Minum." lirihnya.
Daren segera mengambil minum di atas nakas, kemudian membantu Fany bersandar di kepala ranjang untuk memudahkan gadis itu minum.
"Butuh sesuatu?"
Fany lagi-lagi mengeleng. Dia menatap penampilan dan wajah Daren yang tidak terurus padahal baru setengah hari ia tinggal tak sadarkan diri. Tangan mungil nan lemas itu mengusap lembut rahang tegas Daren.
"Lelah banget kayaknya."
Daren mengembangkan senyumnya, memegang tangan Fany yang menempel di wajahnya. "Nggak. makan ya, Kamu pasti lapar belum makan."
"Kak Daren udah makan?"
"Belum."
"Makan gih sana, aku nggak mau ya punya suami kurus trus sakit-sakit." canda Fany mencairkan suasana saat melihat gurat kekhawatiran di mata suaminya.
"Yakin nggak mau? aku ganteng loh." goda Daren.
"Idih pedenya ketinggian." cibir Fany.
"Emang benar suami kamu ini tampannya masya allah." Daren menyugar rambutnya kebelakang. "Gimana terpesonakan kamu."
"Makan dulu ya." ulang Fany.
"Makan bareng kamu tapi."
"Hmm." Daren berdehem, lalu mengambil kotak makan yang di bawa Deon tadi.
Dia duduk di pinggir ranjang, mulai menyuapi Fany. "Aaaaaaa... makan yang banyak, kamu nggak sendiri." celoteh Daren sembari menyuapi Fany.
"Makan juga."
"Iya, habis kamu sayang."
"Nggak mau, kak Daren makan dulu baru aku juga makan."
Daren menghela nafas malas, menyuapi dirinya sendiri, kemudian kembali menyuapi Fany.
"Anak aku nggak papa kan kak?" tanya Fany takut.
"Anak kita sayang." ralat Daren.
"Nggak papa kan?"
__ADS_1
"Iya cebongnya mami sama papi sehat, dia kan kuat sayang."
Fany terus memandangi Daren, telihat jelas pria itu sangat kelelahan, tapi tak sedikitpun keluar keluhan dari mulutnya.
"Napa ngeliatin aku sampai segitunya, hmm."
Daren menyelipkan anak rambut kebelakang telinga Fany, setelah itu mengecup kening, pipi kanan dan kiri, hidung dan terakhir pada bibirnya yang membuatnya candu. "Cepat sembuh mami."
"Tidur gih, nggak baik ibu hamil tidur kemalaman."
Setelah mengatakan itu, Daren beranjak dari duduknya, menuju sofa, Pria itu berniat tidur di sofa aja, atau lebih tepatnya berjaga-janga. Katakanlah Daren sangat kuno dan berlebihan, sampai-sampai di dalam pikirannya melintas adengan-adegan jahat yang ada di dalam sinetron. Di mana ada suster yang masuk kedalam kamar istrinya lalu menyakiti Fany.
"Peluk." ucap Fany manja.
Fany mengeser sedikit tubuhnya kepinggir, menepuk-nepuk tempat di sampingnya mengisyaratkan Daren tidur di sana.
Dia tau Daren tidak akan bisa tidur tanpa pelukan darinya.
Tanpa membantah, Daren membaringkan tubuhnya di samping Fany, memeluk pinggang ramping istrinya lalu menengelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu. Jika boleh jujur, ia sangat lelah dan juga khawatir saat ini, ancaman tadi siang sungguh membuatnya kepikiran terus menerus.
"Aku tau kamu lelah seharian kak, maafkan aku karena membuat kakak khawatir, aku nggak becus jadi ibu dan istri yang baik buat kamu." Fany mengelus rambut Daren.
Dia merasakan pelukan Daren semakin erat. Fany tidak mengerti sikap Daren akhir-akhir ini. Sikap posestif dan tingkah anehnya mengundang pertanyaan bagi Fany apa lagi Dia tidak boleh keluar jika tidak bersama pria itu.
Daren yang sangat risih jika keluar di temani pengawal-pengawal yang di sediakan Elina, kini tampak biasa saja bahkan dengan sengaja menyuruh Deon memperketat keamanan.
Fany tertegung sang mendengar isak tangis Daren dalam pelukannya, apa ia pria yang baru saja bersikap tegar itu kini menangis di pelukannya?
"Biarkan seperti ini!" ujar Daren dengan suara seraknya.
Fany menganguk, mengusap perlahan punggung kekar Daren. "Ada masalah apa? cerita sama aku." bujuknya.
"Jangan buat aku khawatir Fan. Tolong dengarkan dan turuti apapun yang aku suruh, aku takut kehilangan kamu, jangan ceroboh lagi ya. Jangan bahayakan diri sendiri apa lagi bayi kita. Jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi."
"Maafkan aku juga karena tidak becus jaga kamu, seharusnya aku nggak ninggalin kamu di kamar mandi."
"Ssssttttt....udah ini bukan salah kak Daren, aku yang ceroboh. Jangan salahin diri sendiri gitu."
"Fany."
"Iya kak."
"Jika suatu hari nanti sikap aku berubah sama kamu jangan benci aku ya."
Fany menaikkan sebelah alisnya. "Kok ngomong gitu?"
"Nggak papa. Kamu jadi ikut lomba itukan?" Daren mengalihkan pembicaraan.
Fany yang mengerti arah pembicaraan Daren segera mengganguk.
"Dengar-dengar pemenangnya bakal dapat beasiswa dari Art Galeri untuk kuliah di Beijing?" Tanya Daren.
__ADS_1
"Iya kak."
Daren diam sejenak.
"Seandainya aku menang, kak Daren izinkan aku pergi nggak?" tanya Fany di iringin candaan.
Hening, tidak ada sahutan.
"Berapa tahun kira-kira?"
"Kurang lebih tiga atau empat tahun."
"Semoga menang ya." ucap Daren.
Fany menghentikan kegiatannya, dia tidak salah dengar kan? apa ia Daren akan membiarkannya pergi begitu saja? dia tidak marah dan mencegahnya pergi walau dia hamil sekalipun.
Ada rasa kecewa menyelimuti hati Fany, kenapa segampang itu Daren mengizinkannya pergi? kemana sikap posesfi pria itu belakangan ini? Tiga tahun loh, bukan waktu yang singkat.
Ah Fany berfikir terlalu jauh, belum tentu dia menangkan.
"Kak Daren pasti mabuk, tidur gih."
Mendenger perkataan tidak masuk akal Fany, Daren mendongak menatap wajah bingung sang istri. "Mabuk dari mananya, aku disini, nggak pernah benjak sedikitpun."
"Ngomong ngelantur sih." cemberut Fany.
"Ngelantur apanya sih sayang. Aku doa in kamu menang loh." Daren menguyel-uyel hidung Fany dengan jarinya.
"Emang kak Daren rela aku pergi, keluar negeri loh, betahun-tahun lagi. Nggak takut kangen apa?" Mood Fany tiba-tiba memburuk, mungkin efek hormon, membuatnya mudah tersinggung dan salah mengartikan perkataan suaminya.
"Duh keliatan banget ada yang nggak mau pisah, takut kangen yah." goda Daren mencolek dagu Fany.
"Apansih nggak usah pegang-pengan." Fany menghempaskan tangan Daren.
"Dih udah sehat ternyata, hempasannya kuat banget." Daren semakin mengoda Fany.
"Tau ah terserah." Fany memalingkan wajahnya, engang melihat wajah menyebalkan Daren, mana Darennya yang manja dan takut kehilangan? tadi aja meluk-meluk nangis nggak mau di tinggal.
Masih dengan tawa kecil, Daren menangkup kedua pipi Fany yang semakin hari semakin cubi. "Aku biarin kamu pergi bukan berarti aku nggak sayang, sayang. Aku sayang banget sama kamu, aku nggak mau jauh-jauh sama kamu. Tapi di sana ada masa depan dan juga cita-cita yang sedari dulu kamu pertahankan, jangan sia-sia kan kesempatan ini. Belum tentu juga kamu menangkan? udah jangan ngambek dong."
"Ngambeknya di lanjut besok aja, sekarang kamu tidur dulu udah tengah malam." Daren kembali memeluk Fany meneggelamkan wajahnya di tempat favoritnya.
"Ya udah besok aja ngambeknya, aku juga ngantuk." ujar Fany.
...TBC...
...****************...
Duh kelakuan pasangan di atas ada-ada aja ya. Emang ia ngambek bisa di tunggu dulu sampai besok?ðŸ¤
Jangan lupa spam komennya okey
__ADS_1