My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 93


__ADS_3

...Kamu adalah obat untuk luka ku, Tapi kamu juga yang membuatku terluka. ...


...-Fany Falwinta-...


Fany memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan. Dia mengernyitkan alisnya, aneh? bukankah tadi dia ada di kamar tamu, tapi kenapa sekarang dia ada kamar utama.


Tangan kekar memegangi pundaknya, membuatnya tersentak, sentuhan itu, sentuhan yang selama ini ia rindukan.


Tak terasa senyumnya terbit, melihat siapa yang membantunya bangun lalu menyandarkan tubuhnya di kepala dipan.


"Ak...aku kenapa?" lirih Fany.


"Lo tadi pingsan di kamar tamu, untung gue liat." jawab Daren acuh.


Daren menyodorkan air minum ke hadapan Fany. "Minum dulu."


"Kata dokter lo kurang makan?" tanya Daren sembari membawa semangkuk bubur kemudian duduk di samping Fany.


"Ak...aku." gugup Fany menundukkan kepalanya, meremas jari-jari tangannya.


"Lo mau bunuh anak gue, hm." geram Daren dengan tatapan tajamnya.


"Maaf."


Daren menarik dagu Fany dengan telunjuknya. "Buku mulut lo!" perintahnya.


Diam, itulah yang di lakukan Fany, melihat bubur di tangan Daren membuat selera makannya hilang, dia tidak suka bubur itu.


Dia menepis tangan Daren dari wajahnya. "Aku nggak suka bubur." lirihnya.


"Gue nggak nanya, lo suka bubur atau nggak, yang gue mau lo habisin itu bubur, setelah itu minum obat, jangan manja dan buat anak gue celakan, paham!" setelah mengatakan itu Daren meletakkan mangkuk bubur dengan kasar di atas nakas.


Fany memandangi tubuh kekar itu memasuki kamar mandi, apa Daren tidak bisa bersikap lebih baik padanya.


Cengeng.


Itulah gambaran Fany saat ini, berkali-kali dirinya berjanji untuk tidak menangis dan terlihat lemah di hadapan Daren, berkali-kali pula dia mengingkarinya.


Dia meraih mangkuk bubur di atas nakas, memaksakan diri untuk memakannya. Fany tak ingin lagi mendengar bentakan Daren.

__ADS_1


Hampa itulah yang di rasakan Fany saat suapan pertama masuk kedalaman mulutnya, namun dia tak putus asa, tetap makan bubur itu hingga habis walau itu sangat menyiksa dirinya.


Ceklek


Atensi Fany teralihkan saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Disana dia mendapati Daren sudah rapi dengan celana jeans hitam serta hodie abu-abu yang melekat pada tumbuhnya. Sepertinya pria itu akan keluar.


"Kak Daren mau kemana?" Fany memberanikan diri bertanya saat Daren memutar kenop pintu.


"Keluar."


"Mau kemana, udah jam sepuluh malam loh kak, besok aja perginya, aku takut." Fany menatap penuh permohonan pada pria di hadapannya, berharap suaminya itu menuruti keinginannya sekali saja.


"Ada hak apa lo larang-larang gue? ingat ya, nggak semua dalam dunia gue tentang lo, gue juga punya kehidupan sendiri." Setelah mengatakan itu Daren benar-benar lenyap di balik pintu kamar.


"Ada hak apa lo larang-larang gue? ingat ya, nggak semua dalam dunia gue tentang lo, gue juga punya kehidupan sendiri."


Kata-kata itu terus tergiang-giang di kepalanya. Hak? dunianya? lalu Daren menggangapnya apa selama ini? bukankah istri berhak mengetahui kemana suaminya pergi.


Ataukah sekarang Fany bukan lagi siapa-siapa di hidup Daren?


***


Samar-samar Fany mendegar keributan di depan pintu apartemen, Dia memaksakan membuka matanya, meraih ponsel di sampingnya, 02:15.


Langkahnya terhenti tepat di anak tangga terakhir, di sana di depan pintu utama, pria berbadan kekar dengan penampilan urak-urakan tak seperti saat dia pergi, tengah berjalan sempoyongan ke arahnya.


Fany menghampiri Daren, menahan tubuh kekar itu agar tidak terjauh, menuntunnya masuk kedalam kamar dengan susah payah. Bau alkohol sangat menyegat di hidung Fany, dapat di pastikan Daren tangah mabuk berat saat ini.


"Kak Daren baik-baik saja? kakak kenapa? ada masalah apa? kakak mabuk banget." guyonan pertanyaan keluar dari mulut Fany, walau dia tahu orang mabuk tidak akan meresponnya.


Panik, itulah yang di rasakan Fany sekarang, melihat Daren sangat berantakan membuatnya bertanya-tanya. Tidak biasanya Daren mabuk-mabukan seperti ini, kecuali memang dia punya masalah yang sudah tidak bisa dia atasi.


"Gue cinta sama dia."


"Jangan pisahin gue."


"Sakit."


"Jangan tinggalin gue."

__ADS_1


Rancau Daren, menepuk-nepuk dadanya. Setitik air mata lolos begitu saja di pelupuk mata pria berahang tegas itu.


Kenapa Fany ikut merasakan sakit melihat kekacauan pria di hadapannya. Seakaan melupakan perlakuan kasar Daren, Fany menarik Dare kedalam pelukannya, menenggalamkan wajah Daren di ceruk lehernya. Mengusap lembut rambut acak-acakan pria itu.


"Nggak ada yang akan ninggalin kakak." Fany berusaha menenangkan Daren dengan mengelus pundak pria itu.


Nafas teratur mulai menerpa kulit leher jenjang Fany, menandakan pria dalem pulukannya telah terlelap. Dengan hati-hati Fany membaringkan Daren di atas ranjang.


Saat akan menjauhkan tubuhnya, Fany tak sengaja melihat hal aneh di leher Daren. Dengan perasaan berkecamuk dan tangan gemetar Fany menyentuh bercak merah ke ungu-unguan di lehar suaminya. Dia tidak bodoh, tanda itu, tanda yang sering dia tinggalkan pada leher Daren dulu.


Tring


Suara notifikasi membuyarkan Fany dari lamunannya, dia beralih mengambil ponselnya di atas nakas, membuka pesan dari nomor yang tak di kenal.


Deg, lagi-lagi luka yang belum kering itu kini kembali di taburi garam. Menimbulkan rasa perih di dalam sana, sakit namun tak berdarah, itulah yang dirasakan Fany, saat melihat beberapa Foto dan video Daren bersama dengan seorang wanita tengah berciuman di club.


Tubuh Fany luruh kelantai, lututnya tak sanggup menahan berat tubuhnya. Hancur sudah harapannya menunggu Daren berubah, tenyata di luar sana sudah ada orang yang mengantikannya.


Apakah itu yang membuat Daren berubah dingin padanya.


Tak ingin mengangu tidur nyenyak Daren, Fany berjalan sempoyongan masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan shower agar suara tangis tak terdengar oleh Daren.


Menguyur tubuhnya dengan air dingin, hingga air matanya bercampur air shower membasahi tubuhnya.


"Hiks...hiks...hiks. Sakit kak." isak Fany menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.


"Mungkin aku bisa bertahan dengan perlakuan kasar dan dingin mu, tapi tidak dengan penghianatanmu kak."


"Aku menyerah, aku nggak sanggup lagi. Hiks...hiks...hiks." Tangis Fany semakin kencang, meluapkan segala kesediahan dan sakit hatinya di bawah guyuran air dingin di dalam kamar mandi.


Kenapa nasibnya harus seperti ini? kapan kebahagian menjemput Fany, sejak lahir hingga sekarang hidupnya di penuhi dengan luka. Seseorang yang mampu mengobati dan membuatnya berdamai dengan masa lalunya. kini Dia juga yang mengores luka padanya. Bahkan luka yang di buat Daren lebih dalam dari pada luka yang di torehkan ibunya.


"Kenapa kebahagian tidak pernah berpihak kepadaku? kenapa! Hiks."


"Tuhan ambil saja nyawaku."


...TBC...


...****************...

__ADS_1


Plis jangan ada yang hujat author ya, jangan kesal sama author.


jangan lupa spam komen!!


__ADS_2