My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 23


__ADS_3

Setelah sarapan bersama, Fany pamit pada Daren untuk bekerja, bagaimana pun Daren adalah suaminya.


"Kak gue pamit kerja ya, Assalamualaikum." pamitnya pada suaminya.


"Hhhhmmm." jawab Daren singkat padat dan jelas.


Fany hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang masih arogan, padahal gadis itu sudah bosan bertengkar dengannya. Ia menyadari bahwa sebagai seorang istri kita tidak bisa membantah apa lagi membentak suaminya. Sebagaimana telah di sebutkan. “Dan sebaik-baik istri yaitu yang taat pada suaminya, bijaksana, berketurunan, sedikit bicara, tak sukai membicarakan suatu hal yg tidak berguna, tak cerewet serta tak sukai bersuara hingar-bingar dan setia pada suaminya.” (HR. An Nasa’i). Namun Daren sering kali membuatnya emosi.


Seperti biasa Fany akan masuk ke dalam butik dekat pintu belakang jika tidak ingin di kerumuni oleh para pengunjung, bahkan setelah album Daren rilis, kemana-mana Fany harus menyiapkan masker dan kaca mata sebagai penyamaran.


Gadis itu bernafas lega dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerjanya, akhirnya hari ini ia bisa lolos dari cekraman Fans-fans suaminya.


Dert...dert...dert...


Dering ponsel Fany membuatnya tersadar dari lamunannya. Ia mengernyitkan keningnya, merasa heran ada apa gerangan sampai-sampai sutradara Radit menelfonnya di jam kerja seperti ini. Sepengetahuan gadis itu jam-jam seperti ini orang-orang akan sibuk dengan dunianya masing-masing apa lagi Radit sang sutradara.


"Assalamualaikum kak, ada apa?" tanyanya setelah menjawab panggilan dari Radit.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, ini gue dengar-dengar katanya kamu lagi cari kerja ya untuk Nathan ?" jawab Radit langsung pada intinya.


"Kok kak Radit bisa tempe." ucap Fany.


"Kamu tuh ya, orang lagi serius malah di bercandain." Radit tersenyum akhirnya Fany yang di kenalnya dulu sudah kembali, sudah mau bercanda dengannya. "Gue tempe dari Elina." lanjutnya masih dengan tawanya.


"Ais dasar kak Radit, katanya serius kok malah ikutan pakai tempe segala sih, emang nga takut tempenya marah." Fany ikut tertawa, dan ini pertama kalinya ia tertawa setelah menikah dengan Daren.


"Bukan tempe yang harusnya marah Fan, yang harusnya marah tuh tahu." Radit masih meladenin candaan Fany walau ia sangat sibuk.


"Kak Radit mau bahas tempe tahu atau pekerjaan ? dari tadi bahasanya tahu tempe mulu, kan jadi lapar." ucap Fany.


"Iya deh." akhirnya Radit bersedia tidak membahas tahu tempe yang tidak bersalah sama sekali. "Gue nelfon kamu tuh ingin memastikan apa benar Nathan lagi butuh pekerjaan ?" tanya Radit yang sudah tahu Nathan sedari kecil.


"Iya kak." jawab Fany.


"Kebetulan sekarang asisten gue tidak bisa bekerja lagi, gimana kalau Nathan jadi asisten gue aja." usul Radit.


"Beneran Nathan bisa kerja, terus jadi asisten kak Radit gitu?" tanya Fany tak percaya, akhirnya iya bisa mendapatkan pekerjaan yang pas untuk Nathan, lagi pula adiknya pernah sekolah di bagian perfilman. Walau Fany dulu sempat ragu saat Nathan mengatakan ingin bekerja, Ia takut adiknya tidak bisa beradaptasi karena masih baru di Indonesia.

__ADS_1


"Iya, kapan coba gue pernah bohong, kalau bisa setelah makan siang, ajak Nathan ke lokasi syuting, kantor gue pas di belakang lokasi syuting." jelas Radit.


"Hhmm...apa kak Daren hari ini ada jadwal ?" Tanya Fany sedikit ragu.


"Sepertinya tidak, kenapa? apa kamu tidak ingin datang jika tidak bersama suamimu ?" tanya Radit sedikit kecewa, ada rasa sakit tersendiri saat Ia menyebutkan nama suami pada gadis yang di cintainya.


"Syukurlah !" Fany bernafas lega mengetahui suaminya tidak ada jadwal hari ini, itu artinya dia tidak akan bertemu dengan Daren di tempat syuting, di mana banyak sekali orang-orang yang bisa saja membaca situasi hubungan mereka. Entah Fany juga bingung dengan dirinya sendiri yang begitu peduli dengan karir Daren, mungkin karena dia pernah nge fans.


"Kok mengucap syukur ? kirain kamu nga mau datang jika Daren juga tidak datang." Radit sedikit aneh dengan ucapan syukur Fany, pria itu merasa ada yang di sembunyikan Fany darinya.


"Nanti habis makan siang gue ajak Nathan." Fany tidak menjawab pertanyaan Radit.


"Kalian bertengkar ?" Radit masih penasaran dengan ucapan syukur Fany tadi.


"Sudah dulu ya kak, gue masih banyak pekerjaan, Assalamualaikum." Fany buru-buru menutup telfonnya takut Radit semakin curiga dengan pernikahannya.


" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Radit menjawab salam Fany walau gadis itu sudah menutup telfonnya.


Asisten Radit yang sedari tadi mendegar pembicaraan Radit dengan seseorang menghampirinya. "Maaf pak, apa saya akan di pecat ? saya mohon pak, jangan pecat saya." Asisten Radit menyatukan tangannya memohon agar tidak di pecat oleh bosnya, sangat sulit baginya mendapatkan bos sebaik Radit di kota sebesar ini.


Radit tertawa melihat ekspresi takut dan khawatir asitennya. "Hahahha... siapa yang akan memecatmu ?" tanya Radit dengan tawanya.


"Saya hanya kasihan padamu jo, makanya saya cari asisten lagi untuk membantumu, Kamu kan akhir-akhir ini sibuk." jawaban Radit membuat Johan bernafas lega.


"Ah kirain saya di pecat bos." kini bukan lagi ekspresi ketakutan yang di perlihatkan Johan, tapi ekspresi bahagia karena tidak jadi di pecat.


"Tunggu, kenapa bos baik banget sampai-sampai mencari asiten satu lagi padahal kan saya tidak sibuk bos." Johan merasa aneh dengan kebaikan Radit, apa lagi sedari tadi bosnya terus menyunggikan senyum setelah berbicara dengan seseorang di telfon.


"Gue hanya ingin membantu teman gue Jo." jawab Radit seadanya.


"Temannya cewek atau cowok bos ?" mulai deh jiwa kepo Johan keluar, untung pria di hadapannya bos rasa teman yang tidak terlalu keras dengan bawahnnya dan juga suka bercanda.


"Cewek." jawab Radit sekeenaknya.


"Fiks dah bos, bos pasti suka dengan cewek itu, sampai bela-belain rekrut asisten lagi, padahal pekerjaan tidak terlalu menumpuk." itulah kesimpulan yang johan dapat dari percakapan singkat mereka.


"Kamu benar ingin di pecat ya Jo !" geram Radit, bukan karena kesal dengan ucapan Johan, malah Ia malu seseorang mengetahui Ia menyukai seseorang.

__ADS_1


"Ampun bos." Johan berlari keluar dari ruangan Radit dengan senyuman karena berhasil menggoda bosnya, bos yang tidak pernah dekat dengan wanita kini jatuh cinta.


.


.


.


.


.


.


Fany akhirnya sampai juga di lokasi syuting bersama Nathan, setelah meminta izin pada bosnya untuk bolos setengah hari bekerja, untungnya bosnya lagi dalam keadaan mood yang baik.


Fany menelfon Radit setelah berada di lokasi syuting, dan Radit menyuruhnya berjalan kebelakang bangunan besar karena di situlah kantornya berada.


"Kak sepertinya mereka kenal deh dengan kak Fany ? lihat sedari tadi mereka memperhatikan kakak terus." tunjuk Nathan pada segerombolan staf depan bagunan besar, belum lagi orang-orang yang lalu lalang.


Sebenarnya bukan hanya Fany yang menjadi pusat perhatian di sana, tetapi juga Nathan yang tampak sepeti aktor karena ketampannya.


Fany yang tersadar dengan tatapan orang-orang di sekelilingnya segera memasang masker dan kacamatanya. Dan menarik adiknya menuju kantor Radit, jika tidak ingin seseorang menghampirinya dan menanyakan sesuatu yang bisa saja jawabannya bisa merusak karir suaminya.


-


-


-


-


-


TBC


Terima kasih para Readers karena bersedia mengikuti cerita author.

__ADS_1


jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.


Komentar dan Vote kalian adalah semangatku😊🥰😁🙏


__ADS_2