
Awal memasuki pabrik ini begitu sejuk,dengan tatanan taman
di samping gerbang.
Pos satpam tepat jalan masuk area pabrik.Bis jemputan sudah terparkir berderetan di pinggir jalan, menunggu karyawan yang mau pulang dari shift malam.
"Lisa... tunggu," teriak seseorang di belakangku. Aku mengernyitkan dahi.
"Ada apa, Mel?" tanyaku sambil terus melangkah menuju loker.
"Dapat salam tuh dari Danar?"
"Ih apaan sih.."
"Beneran, ia naksir kamu tau."
"Aku yang gak mau, Wek..." buru-buru aku meninggalkan Meli yang masih bengong.
" Ah anak itu..susah ya," gumannya dalam hati.
Hari ini aku ditempatkan di Line Auto Mounting. Tempat yang dipenuhi mesin.Jadi nanti aku bekerja sebagai operator mesin.
Sebelum dimulai kerja, kami ikut meeting line yang dipimpin oleh seorang Leader line.
"Alamak..ganteng banget.." kagumku dalam hati. Orangnya kalem, berkacamata minus, berdada bidang sesuai dengan kriteria ku. Bukan si Danar yang lemah gemulai.
"Sudah paham semua?"
"Paham Pak!"
__ADS_1
Aku senyum-senyum sendiri membayangkan Pak Luki jadi suamiku kelak.
"Hei kamu..saya lihat dari tadi senyum-senyum. Sudah paham belum yang saya jelaskan tadi?" Pak Luki menatap tajam ke arahku.
"S..sudah Pak..." jawabku gugup.
"Oke sekarang kembali ke tempat kerja kalian. Semoga hari ini kita bisa target."
Anak-anak segera bubar.
Satu line berjumlah 5 mesin dengan operator mesin 2 orang.Di antara line ada yobiin yang bertugas membantu operator produksi yang keteteran.
Yobiin adalah jabatan di bawah Leader.
Aku memandang mesin panjang sekali hampir 5 meter.Selagi mengamati mesin dengan takjub, tiba-tiba pria impianku datang. Akupun dibuat grogi.
" Kenapa bengong.. cepat kerja..kalo ada masalah lapor saja ke Yobiin."
Laki-laki muda berusia 30an itu meninggalkanku sendiri. Cepat-cepat aku hanyut dalam pekerjaan baruku. Hari-hari menyenangkan buatku. Semangat kerja tentunya, untuk ketemu dengan pria idolaku. Walau pernah sakit, kupaksa masuk kerja.
Esok harinya
"Wajahmu pucat gitu, mau tetap kerja Lis?" tanya Siska tetangga kost.
"Iya teh.. soal nya Aku karyawan baru,. nanti kena SP (surat peringatan) ?"
"Ya udah.. hati-hati ya, Lis."
"Makasih.. "
__ADS_1
Aku berjalan sempoyongan.Aku harus kuat, kalau tidak aku bisa kehilangan pekerjaan. Apalagi zaman sekarang susah mencari pekerjaan.
BUS jemputan datang dan aku segera naik. Perjalanan dari tempat kost ke kawasan pabrik membutuhkan 30 menit perjalanan. Kugunakan untuk istirahat.
***
Sampai di Line, seperti biasa meeting pagi bersama pak Luki.
Aku berdiri sekuat tenaga, kepalaku pusing dan muter-muter tak beraturan.
Aku..aku gak kuat rasanya..dan dalam hitungan detik semuanya sudah gelap.
*** Di ruangan mess
" Kamu sudah sadar Lis?"
Aku membuka mata pelan-pelan.Mataku tertuju kepada laki-laki di samping ranjang. Ia menatapku iba.
"Pak Luki??"
Kenapa dengan diri saya, Pak? Aku segera berusaha duduk, tetapi kepalaku sungguh berat.
"Sudah jangan bergerak dulu. Kalau sakit jangan dipaksakan masuk." pak Luki berkata sambil mengambil beberapa obat di atas meja Ia duduk dekat ranjang disampingku. Jantungku terasa mau copot.
" Kamu tadi pingsan di Line, terus aku bawa kamu ke sini."
"Hah ... bapak yang membawa saya ke sini?" Aku tak percaya dengan ucapannya.
"I... ya... memang kenapa?" Itu sudah tanggung jawabku.
__ADS_1
" Oo..makasih ya Pak.. Bapak baik banget." Aku terharu dengan perhatiannya. Aku berharap ia memperhatikanku lebih dari seorang leader dengan anak buahnya.