
Besok mas Luki pulang. Tak terasa sudah sebulan ia meninggalkanku. Rindu yang teramat sangat memburu di hatiku. Aku akan tampil memesona untuk menyambut kedatangannya.
Sederet pesan masuk ke ponselku. Aku mengambil dari nakas dan langsung membuka aplikasi hijau itu.. Mas Luki.
"Hai sayang lagi apa? " Pesan pertama masuk. Mungkin geregetan hingga berpuluh WA tak sempat kubalas. Aku tertidur pagi ini karena shift malam pulang jam 1 dinihari. Inikah resikonya kerja menjadi karyawan di pabrik.
Langsung kubalas satu- satu dengan emot menyesal.. karena ga membalas pesannnya. centang satu.. "ah mungkin ia sedang sibuk atau tidur jam segini."
Aku berprasangka baik.
*Di bandara
Menunggu adalah waktu yang membosankan untukku. Biasanya aku tak pernah menunggu sampai pantatku penat. Hampir satu jam pesawat yang ditumpangi mas Luki belum mendarat. Kusibakkan rambut yang panjang terkena angin dengan pelan. Tak ku sengaja ada seseorang memperhatikan ku dari tadi..
Orang itu mendekatiku. " Lisa? " kamu Lisa kan?" Laki-laki berkacamata hitam itu bertanya dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Aku memandang wajah dan penampilan nya. Tampan dan elegan dalam berpakaian. Saat aku ragu menebaknya, spontan ia melepas kacamatanya.
Aku terpana kaget. "Albert?"
"Iya ini aku?" Tangannya memegang pundakku dan hendak memelukku. Aku belum sempat menolak, Tiba-tiba ia sudah memelukku erat.
"Aku kira tidak akan ketemu kamu selamanya, Lis?" tubuh Albert bergunjang hebat. Sebuah mukjizat bisa dipertemukan dengan kekasih ku dulu.
Aku masih terpaku.. dan mencerna apa yang saat ini terjadi. "Apakah aku bermimpi? Ah tidak.. ini kenyataan." desisku dalam hati.
"Aku.. aku kabarku baik, " kataku singkat. Kamu kenapa meninggalkanku dulu, Bert. Aku frustasi saat itu.. hingga aku berusaha dan berhasil melupakanmu.
"Maafkan aku, Lis. Aku dijemput paksa oleh papa untuk diajak ke luar negri tempat perusahaan papa. Karena situasi genting, aku diminta menggantikan papa menjadi pimpinan tempat perusahaannya hingga sekarang. Wajah teduh dan ambisi masih melekat di sana. Lisa hanyut dalam perasaan.
Tiba-tiba sosok yang membuatnya menunggu sudah ada di sampingnya. mas Luki? " pekik Lisa dengan terkejut. Raut muka mas Luki berubah masam. Ada sirat kekecewaan di sana.
__ADS_1
Aku langsung beranjak memeluk mas Luki tapi kuurungkan. Albert bersikap santai dan tahu seperti apa yang terjadi di antara kami.
"Mas bisa aku jelaskan nanti. Ayo kita pulang, " bisikku di telinganya. Mas Luki tak mengindahkan ucapanku.
" Siapa dia, Lis? "tanya mas Luki dengan tegasnya. Ia menatap Albert tak bersahabat. Sebelum kujawab, Albert sudah berucap, " perkenalkan namaku Albert kekasih Lisa yang sempat mrngjikng." Sorot matanya tajam tak mau kalah dengan mas Luki. Aku melotot ke arah Albert.
"Sayang.. bisa aku jelaskan nanti." Aku berusaha memegang tangan mas Luki yang sudah terbakar api cemburu.
"Kenapa kamu gak jujur padaku, Lis? " Sikapnya sudah mulai lunak. Ini kesempatanku untuk menghindar dari Robert.
" Maaf Bert.. aku tidak bisa berbincang lama kami harus pergi sekarang, " kataku dengan ketus sambil menggandeng tangan mas Luki.
Kulihat Albert tersenyum.
" Silahkan Lis.. aku tunggu kabarmu? "
__ADS_1
Aku melirik sekilas dan membenamkan kepalaku di bahu mas Luki sambil berlalu di hadapannya. Mas Luki tersenyum puas, tetapi gejolak di hatinya masih menimbulkan tanya. Siapa laki-laki itu?