
Danar terlihat santai saat mendengar pertunangan ku minggu depan. Ya syukurlah.. untung dia gak sakit hati dan move on dariku.
Tetapi ada yang aneh dari sikap cueknya. Tak sengaja aku mendengar percakapan antara Meli dan Danar. Danar begitu antusias mencari info tentang kedekatan ku pada mas Luki.
Mungkin ia Jaim, hingga memasang sikap tak peduli dengan sahabatnya. Aku tahu sifat asli sahabatku itu.
Hari ini aku kembali masuk kerja. Banyak stok pcb yang harus di isi dengan material seperti elco, pin, resistor, dan sebagainya. Komponen dalam pcb lumayan banyak, bisa ratusan komponen yang satu sama lain berbeda fungsinya.
Suara mesin menderu teratur. Aku larut di dalam pekerjaanku hingga waktu jam makan siang tiba.
Segera ku bereskan alat-alat yang kugunakan ke tempatnya semula. Mesin kumatikan, dan berjalan melangkah keluar.
Sayup-sayup terdengat percakapan yang tak asing di telingaku. Danar dan Meli.
"Apa rencanamu Nar? " tanya Meli setengah berbisik.
"Aku akan menggagalkan pertunangan mereka. Aku tidak rela Lisa jatuh ke pelukan Leader yang sombong itu. "
__ADS_1
Aku terkejut dengan rencana busuk mereka. Ternyata mereka berniat jahat padaku.
"Wow.. ini sungguh-sungguh terjadi. Sahabatku sendiri ingin menghancurkan kebahagiaan hidupku, " rutuk Lisa dalam hati. Ia seakan tak percaya apa yang telah terjadi.
"Baiklah aku layani permainan kalian, jangan heran kalau aku berubah sikap dan menjauh dari kaluan." Lisa memilih jalan ke samping untuk keluar dari pabrik itu.
"Hai.. lis! " seru Meli pura-pura menyapaku.
"Hai juga... " sapaku pendek.
Setelah tiba di kantin, Meli menatapku dengan serius. Aku jadi jengah melihat sahabatnya.
"Sudah Mel, cepat katakan apa yang kau inginkan? " tanyaku, dengan wajah berubah tak suka.
"Sabar dong say,.. begini Danar mengundang kita sabtu besok untuk merayakan ulang tahunnya. Sepertinya ia ingin mengabadikan momen hari spesialnya. "
"Ooo.. cuma itu? gak ada yang lain? "tanyaku ketus, ia sudah tidak minat setelah mendengar percakapan mereka berdua tadi.
__ADS_1
'Nanti aku minta ijin ma mas Luki. " jawabku singkat. Meli terlihat tidak suka, entah apa yang ada di benaknya.
Aku berharap mas Luki melarang ku pergi bersama Meli. Tetapi diluar dugaanku mas Luki mengijinkan ku pergi asal aku bisa jaga diri baik- baik. Jabatan yang diraihnya sebagai wakil direktur tak mudah diraihnya tanpa kerja keras.
Berkat kinerja nya yang baik ia dipromosikan menjadi wakil direktur di perusahaan Samuki tempat kami bekerja. Aku turut senang atas prestasi kekasihku.
*Sabtu malam di rumah Danar
"Akhirnya kamu datang, Lis." Danar terlihat senang dengan kehadiran ku. Aku tersenyum kearahnya. Ia sampai tak berkedip memandang penampilanku malam ini. Aku mengenakan gaun merah maron dengan aksesoris yang sederhana. Melipun berdecak kagum dengan penampilanku. Rambut kubiarkan terurai panjang dengan jepit rambut berwarna senada. Aku bak seperti putri.
" Cantik kamu Lis, " puji Meli.
" Makasih Mel. teman yang lain mana kok belum datang? " tanyaku heran. Aku melirik arloji ku sudah jam 9 malam.. bagiku sudah larut.
"Mm...Meli gak cerita ke kamu ya, kalo pesta ini hanya kita bertiga yang merayakannya. " jelas Danar.
"Apa? " Perasaan ku jadi gak enak. Seperti akan terjadi sesuatu denganku malam ini.
__ADS_1