
Albert semakin intens mendekatiku. Apalagi perutku kian buncit. Aku yang sebatang kara hanya bisa tergantung pada Albert.
Albert dengan tulus menemani dan menjagaku dengan kasih sayangnya. Sedangkan Luki sampai sekarang belum mengenalinya. Ia menjadi sosok asing yang lupa dengan jati dirinya.
Akubtergugu dengan semuanya ini. Jika menyerah pada nasib, apakah aku harus kehilangan Luki, suamiku?
Hati ini sepertinya waktu nya melahirkan. Aku berkemas mempersiapkan segala sesuatunya, dari mulai baku ganti, popok, sabun, dan lainnya.
Nanti setelah beres semua baru periksa ke dokter langgananku. Albert sudah siap menenaniku. Ia seperti malaikat yang selalu hadir jika aku membutuhkannya.
Setelah semua beres kamipun menuju rumah sakit dimana Mas Luki juga dirawat. Aku sudah gelap mata, apapun kulakukan demi keselamatan bayiku.
"Lis... kamu tunggu sebentar, aku akan mendaftar dulu di sana. Albert segera pergi meninggalkanku sendirian.
__ADS_1
Aku memegang perutku yang dari tadi berinteraksi. "Sabar sayang, sebentar lagi kamu akan lihat dunia baru, " kataku pelan. "Nanti kita jenguk papa di rumah sakit ya... "
Albert buru- buru mendekatiku dan bilang kalau aku sudah bisa masuk. Aku berjalan tertatih menanggung berat di perutku. Albert dengan setia memapahku masuk. Keringat dingin membasahi wajahku.
"Kamu tenang ya, Lis... semoga semua baik-baik saja, okey" Albert memberi semangat padaku. Aku tersenyum kearahnya. Pikiranku berkelana, andai yang ada disampingku adalah mas Luki, suamiku.
"Silahkan duduk mbak... masnya juga boleh duduk di sebelahnya." Aku duduk dengan wajah tegang. Ucapan Dokter itu berhasil membuatku malu pada diri sendiri. Albert dikira suamiku.
Albert tersenyum senang menatap dokter itu, sedangkan aku menahan rada sakit yang luar biasa di bagian perutku. Perut terasa mulas seperti mau bab, tetapi sulit untuk dikeluarkan.
"Makasih Bert... atas kebaikanmu." Albert mengangguk pelan.
Aku sudah berada di ruangan itu. Dokter dan kedua suster segara membantu prosesi kelahiran anak kami.
__ADS_1
Aku teriak dan berusaha sekuat tenaga mengeluarkan bayi itu. Sudah satu jam aku di dalam ruangan bersalin itu. Dan akhirnya... "uueek... uueek..." terdengar tangis seorang bayi. Keringatku mengalir deras dan hatiku lega.
Aku ingin melihat bayiku. dengan mata yang sayu suster tadi memperlihatkan bayiku. Tetapi tunggu, ada dua bayi di ruangan ini. Dan suster menjadikan satu dengan bayiku.
Aku mau protes, tetapi ia sudah mengetahuinya dari awal. "Selamat ya bu... bayi anda kembar, laki- laki semua."
Aku terkesima, kaget senang dan terharu. Boleh saya liat Sus?" tanyaku terbata. Suster tadi menyerahkan kedua bayi itu dengan pelan. Albert tiba- tiba datang, dan suster tersebut menyruhnya mengadzani kedua bayiku.
Dia terlihat bingung, dan aku tahu kenapa sikapnya begitu. Lalu ia menoleh padaku minta persetujuanku, Aku mengangguk pelan.
Aku tak berpikir panjang. Sebaiknya bayi yang baru lahir, harus langsung diadzani.. agar tidak terkena sawan( kata orang Jawa).
"Kembar ya Sus?" tanya Albert takjub. Ia segera mengambil salah satu dari bayiku untuk diadzani.
__ADS_1
Albert mencium dua bayi itu setelah ia adzan. Albert menatapku dengan kasih sayang. Tetapi hatiku takkan goyah. Hanya Luki yang ada di hatiku.
Aku tak sanggup menatapnya. Aku tertunduk serba salah. Di satu sisi ia sudah menolongku saat aku butuh dana yang besar untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar rumah sakit. Aku berasa berhutang budi padanya.