
Hari ini mas Luki libur. Aku merasa aman di dekatnya. Rencana hari ini mau berkunjung ke pemilik rumah yang kami tempati.
Masih dengan suasana segar dan sejuk, mengingat di belakang rumah kami terdapat hamparan bukit yang mengepung komplek perumahan ini.
Aku penasaran dengan kejadian aneh di rumah ini. Tentang Prita dan kebun belakang. Sepertinya menyimpan misteri yang sulit diungkapkan.
Perjalanan menuju rumah Pak Rendi termasuk lama, karena jalanan belum diaspal dan banyak batu-batuan cadas yang tidak rata dengan tanah. Mobil kami harus berjalan pelan Disamping jalan terdapat jurang yang cukup dalam, jika tidak fokus mengemudi akan tergelincir. Hal menakutkan terbayang di pikiranku.
"Mas, apakah masih lama perjalan kita. Si kembar sampai tertidur nih." Aku menyebabkan rambut lurusku. Hawa dingin dari AC tak membuatku tenang, malah sebaliknya seperti mengarungi jalanan yang tak bertepi.
"Sabar, sebentar lagi juga sampai," katanya tenang.
Benar saja, sepuluh menit kemudian kami sudah masuk ke pekarangan Pak Rendi.
Kamipun turun. Mas Luki turun lebih dulu dan menggensong Hendra sedangkan aku menggendong Hendri.
__ADS_1
Pekarangan luas terlihat di depan mata. Rumah dengan gaya klasik menambah siap yang melihat seperti kembali hidup di masa lalu, zaman tempo dulu.
Di serambi depan rumah tersedia meja kayu lengkap dengan kursinya untuk para tamu yang datang. Dan di atasnya teroasang lampu hias kuno, mewakili si empunya rumah memiliki gaya hidup yang tinggi.
Mas Luki segera menekan bel rumah yang ada di samping pintu. Tak lama kemudian suara langkah kaki menuju ke arah pintu dan membukanya.
Sejenak kami tertegun melihat postur tubuh laki-laki yang kerdil alias cebol. Laki-laki itu menatap sambil mendongakkan kepalanya ke atas Mas Luki.
Si kembar melihat laki-laki aneh itu menangis, dikira hantu. Aku langsung menjauhkan si kembar darinya. Kamipun tak enak hati.
"Perkenalkan saya Luki yang kemarin membeli rumah Pak Rendi, " kata Luki singkat. Ia rak mau berlama-lama bercakap dengan orang itu.
"Tunggu sebentar. Langkah gontai dan pelan dengan gerak badan yang mengikuti langkah kaki pendeknya hilang di balik ruangan.
Luki melihat-lihat isi ruangan tamu. Ada yang aneh di pojok ruangan. Saking penasaran, Luki melangkah mendekati meja yang atasnya ada benda asing yang tertutup kain putih. Hal yang aneh diantara benda lainnya.
__ADS_1
Lama menunggu, Luki mencoba memegang benda berkilat itu. "Oh rupanya benda pusaka. " Saat tangannya bergerak, tiba-tiba ada getaran hebat seakan melindungi benda keramat itu.
"Ehmm..." Tiba-tiba seseorang berdehem hingga membuat kaget Luki.
"Maaf Pak, saya begitu lancang melihat-lihat benda yang ada di ruangan ini." Luki tak enak hati.
"Tidak mengapa, ayo silahkan duduk, " ajak Pak Rendi. Orangnya gemuk, dengan perut membuncit dan kepala yang hampir botak. Kumis tebalnya bertengger di atasbibirnya yang tebal.
"Makasih Pak, begini Pak... saya merasa tinggal di perumahan itu begitu nyaman Tetapi akhir-akhir ini, istri saya diteror wanita yang bernama Prita. Apakah anda mengenalnya?" Mas Luki menyebutkan uneg-unegnya selama tinggal di situ.
Pak Rendi terlihat berpikir keras. Ia seperti ii mengingat sesuatu.
"Apa yang ia lakukan di rumah kalian? " tantanya khawatir.
"Dia hampir membunuh istri saya Pak, selama saya kerja, Prita selalu mengganggu dan menteror dengan mengaku-ngaku, rumah itu bakal jadi miliknya.
__ADS_1
Pak Rendi terlihat berpikir ada sesuatu yang ia sembunyikan dari semua orang.