My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Taman Belakang


__ADS_3

Rumah yang aku tempati begitu nyaman bagiku. Apalagi ada taman yang membentang dikelilingi bukit. Ingin rasanya bermain di tempat itu bersama si kembar.


Seperti biasa, saat Mas Luki berpamitan, aku mengantarnya sampai di depan pagar. "Hati-hati di rumah, jaga si kembar dan jangan sembarangan Terima tamu," pesan Mas Luki sebelum pergi meninggalkan rumah.


Aku hanya mengangguk pelan. Batinku malah ingin berteman dengan ibu-ibu kompleks sini. Mereka begitu ramah menerimaku menjadi tetanggaku.


Saat kutanyakan Prita tetangga yang diujung jalan, mereka terperangah kaget. Dan salah satu dari mereka bertanya, "Prita?"


"Iya Bu, kemarin ke rumah saya seharian malah bantu jagain si kembar."


Ibu-ibu di komplek jadi berubah raut mukanya dan berbisik-bisik tidak jelas.


"Beneran neng Lisa gak diapa-apain oleh Prita?" tanya seseorang yang bertubuh gemuk.


"Maksud Ibu apa ya, saya kok gak ngerti. "

__ADS_1


Buru-buru Ibu itu membisikkan sesuatu di telingaku, membuatku terkejut tak percaya.


"Apa? Kok bisa?" Aku jadi merinding mendengar penjelasan Ibu itu. Ternyata Prita itu gadis yang jiwanya terganggu dan kerjaannya suka menakut-nakuti orang tentang hantu.


"Neng Lisa harus hati-hati sekarang, soalnya ia suka nekat."


"Eh... iya Bu." Akupun menyudahi perbincangan pagi itu, dan buru-buru pulang. Moodku sudah hilang sekarang, tinggal ketakutan yang harus aku alami.


Setelah sampai rumah, aku mengunci pintu depan sebelum memasak.Kebetulan si kembar sudah tertidur pulas di kamarnya.


Aku menatap gagang pintu yang bergerak. Ada seseorang yang ingin membuka pintu belakang. Tiba-tiba jantungku berdebar, takut terjadi sesuatu.


"Siapa di luar?" teriakku . Jangan-jangan ada pencuri yang mau masuk ke rumahku. Aku bersiap mengintip dari celah dinding dapur, untuk melihat siapa yang ada di luar sana.


Aneh, tak ada siapa-siapa. Apa Prita yang ngerjain aku? Aku jadi teringat omongan ibu-ibu di kompleks tadi.

__ADS_1


Segera kelanjutan aktifitasku pagi itu yang belum selesai. Tiba-tiba suara tangis terdengar di dalam kamar. Hendra Hendri? Aku setengah berlari menuju kamarku, dan saat kubuka, kedua anakku sudah ada di lantai. Rupanya mereka terjatuh.


Aku buru-buru menggendongnya. Satu di sebelah kiri, dan satu di sebelah kanan. Lumayan berat tubuh anakku," keluhku.


"Sakit ya sayang, ayo kita jalan-jalan ke taman ya..." Aku seperti melupakan kejadian aneh di luar pintu dapur itu yang menghubungkan ke taman kecil.


Mereka langsung semangat dan tertawa mendengar taman. Aku merasa sudah melupakan kejadian aneh tadi.


Sesampai di luar pintu dapur aku tercengang, karena pintu tidak bisa terbuka padahal aku tak menguncinya. Kedua anakku tak sabar melihat kupu dan kumbang di taman yang banyak bunganya. Bunga yang paling kusuka adalah mawar.


"Aduh sayang, pintunya terkunci. Ibu cari kuncinya dulu ya. Aku bergegas mencari kunci di lemari dapur. Biasanya Mas Luki menaruhnya di sana. Kucari-cari sampai rak paling bawah tak kutemukan.


Akupun kembali ke pintu dapur dekat si kembar. Hendri mengacung-acungkan tangannya keluar. Aku melihat taman semakin indah dan ada bunga yang mekar, yang tak ada di sore hari kemarin.


Tetapi sial, pintu tak bisa dibuka. Mungkin Mas Luki sengaja menguncinya agar aku dan anak-anak tidak bisa bermain di sana.

__ADS_1


__ADS_2