
Malam kian larut, kamipun berbincang hangat. Danar terlihat bahagia, demikian pula Meli temanku sesekali ia melirik ke arahku.
"Lis..sebagai puncaknya mari kita bersulang. Semoga Danar, teman kita cepat jodohnya ngikutin kamu. " Meli mengangkat gelas yang sudah berisi minuman soda berwarna merah. Aku pun ikut mengangkat gelas itu dan kamipun bersulang.
"Demi persahabatan kita." Danar meneguk sekali minuman itu, sedangkan aku meneguk nya beberapa kali. Sungguh udara di Jakarta panas, walaupun malam hari.
Akan tetapi setelah minum air soda itu mengapa tiba- tiba kepalaku pusing. Aku mencoba bertahan tetapi badanku mulai lemah. Kulihat Danar dan Meli menatapku dengan ekspresi sulit ditebak.. hingga akhirnya aku tak sadarkan diri.
Seketika tubuhku seperti dibopong menuju ke suatu tempat dan aku tak bisa bergerak sama sekali.
Meli mengedipkan mata dan sesuatu bakal terjadi di malam ini. Danar pun terlihat tersenyum puas.
* Pagi harinya
Mataku terasa lengket tetapi aku berusaha untuk membuka.. . kepalaku masih pusing.
__ADS_1
Kulihat sekelilingku.. "ini sebuah kamar, tapi kamar siapa?"
Tubuhku masih lemas dan kulihat tubuhku tidak menggunakan busana sama sekali. Aku bergetar hebat, dan ingin menangis.. siapa yang melakukan ini? kuingat-ingat kejadian malam tadi.. Oh ternyata akibat minuman itu. Aku merintih kesakitan di bagian kewanitaanku. Danar... apa laki-laki itu yang berbuat senonoh terhadapku. Aku menggeser tubuhku dengan pelan.. dan menangis sesenggukan. Aku tak percaya dengan semua ini. Mas Luki... maafkan aku.. Tinggal berapa hari kita akan bertunangan.. Ah impian itu sepertinya gak akan nyata. Aku geram dan memaki diriku sendiri..
"Aarg.. Danar!! " aku berjalan tertatih menuju kamar mandi.. dan menyiram tubuhku yang sudah kotor ini.
"Tidaaaaak... Tiba-tiba aku terbangun. Kamu sudah siuman Sit.. " ucap mas Luki pelan. Ada gurat kecewa dan sedih di matanya.
"A...aku kenapa?" Aku telusuri tubuhku dari atas hingga kaki.. dan aku heran kenapa masih menggunakan baju padahal tadi?.. ah kepalanya mulai pusing.
"Kalau tidak apa mas? " mataku mulai berair. Apakah Danar melakukan itu? " aku tak mau menyebutkan hal keji itu.
"Iya.. beruntung kamu Sit.. " kamu betutang budi pada pak Arya.
Lain kali hati- hati memilih teman. Luki menatapku serius sambil memegang erat tangan ku.
__ADS_1
"Terima kasih ya Mas, kamu masih percaya ma aku. Aku pikir hidupku sudah hancur dan tak ada harapan untuk hidup bersamamu. Tiba-tiba airmataku tumpah. Mas Luki memelukku erat. Jangan pernah tinggalkan aku mas.. " kataku lirih. Mas Luki membeli rambutku dengan lembut.
" Tidak akan sayang, selagi kamu selalu setia padaku, aku akan mencintaimu selamanya." Aku menatap haru.
"Terus Danar dan Meli sekarang dimana? aku ingin ketemu mereka. Akan ku buat menyesal sudah menjebak ku malam itu. " kataku geram.
" Sudah dihajar ma Pak Arya dan teman-. Mereka janji gakkan mengganggumu lagi. Aku mendesah pelan. Aku gak habis pikir terbuat dari apa otak kotor mereka, tega menjerumuskan temannya sendiri.
"Jakarta itu kejam Lisa, kalau kita tidak hati- hati bergaul, kita akan terjerumus di dalamnya. Makanya setelah lamaran nanti aku tak mengizinkan kamu kerja lagi. Apakah kamu setuju dengan permintaan ku? "
Aku kaget dan mendongakkan wajahku ke kepala kekasihku. Mas Luki menatapku, "kenapa? "
"Aa.. ku bukannya ga setuju mas, tetapi untuk kebutuhan ku sehari- hari darimana kalau keluar kerja? "
Mas Luki menyubit pipiku dengan gemas. "Aku yang menanggung semuanya, sayang. Toh kita akan menikah dalam waktu dekat kan?"
__ADS_1
"Ah mas Luki.. Terima kasih sayang." Aku mengecup pipi mas Luki tanda terima kasih. Mas Luki membalasnya dengan ciuman yang hangat. Kamipun larut dalam kerinduan yang memuncak.