
Aku bersemangat belajar membuat masakan, khususnya kue. Mas Luki paling suka kue basah. Aku buka-buka website yang menyuguhkan berbagai cara membuat kue basah. Di samping itu juga aku buka youtube untuk toturialnya.
Sekali dua kali praktek membuat kuenya gagal, aku sempat frustasi... hmmm memang aku gak bisa masak kali..
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam, Luki belum juga pulang. Iseng kutelpon dia..
Tut.. tut.. nada panggilan sibuk. "Ah aku tidak boleh berprasangka buruk." Mungkin memang ada rapat mendadak atau baru perjalanan pulang.
Aku duduk di sofa sambil menyalakan TV agar aku tidak jenuh. Satu jam, dua jam Luki tak kunjung pulang. Aku mulai gelisah. Ponselnya tidak bisa dihubungi.
Rasa kantukku tiba-tiba hilang saat bel rumah berbunyi. Buru-buru aku melihat CCTV apartemen, dan kulihat Luki yang datang. Segera kubukakan pintu untuknya.
"Maaf aku pulang terlambat, Lis." Mas Luki mengecup keningku. Aku tersenyum lihat mas Luki pulang.
"Tidak apa-apa sayang, kamu pasti lelah ya." Aku segera melepas baju kebesarannya dan sepatu kulitnya. Ia duduk di sofa dengan wajah lelah.
__ADS_1
"Lis... akhir-akhir ini, aku sibuk di kantor. Apa kamu marah jika aku pulang larut malam? " tanya Luki menatapku.
"Tidaklah mas, aku percaya ma kamu. Asal jaga kesehatan dan istirahat yang cukup, sudah membuatku tenang, " jawabku. "O iya mas aku bikin kue kesukaan mu lho, sebentar kuambilkan. Segera aku setengah berlari menuju ke dapur untuk mengambil kue lapis kesukaan nya dan teh manis.
"Ini mas..." Aku meletakkan nampan berisi kue dan dua cangkir teh manis lengkap dengan tekonya. Mas Luki tersenyum dan menggodaku.
"Ini benar buatanmu, sayang?" Langsung ia lahap kue itu dengan senyum nya.
"Iyalah masak bohong sih, " kataku sambil cemberut. Ia tidak tahu perjuanganku seharian membuat kue lapis itu. Luki langsung memelukku.
"Hmmm..." aku mendekat ke mas Luki.
" Mas.. seandainya aku hamil bagaimana?" tanyaku hati-hati.
"Maksudmu?" Sekarang kamu hamil? " tanya Luki menatapku tajam.
__ADS_1
"Belum tahu sih mas, tapi aku sudah telat satu minggu. Aku takut.. " ucapku lirih. Bukannya apa-apa, aku jadi paranoid lihat berita di sosmed, banyak wanita jadi korban rayuan pria. Abis manis sepah dibuang. Apalagi aku belum resmi menikah ma mas Luki.
"Lis.. aku tulus mencintaimu. Sudah sejak awal aku mengatakan hal ini. Jika kamu hamil, ya syukurlah kita gak perlu lagi program kan. Kapan kamu akan periksa ke dokter, biar kuantar.
Aku tak percaya dengan apa yang dikatakan Luki. Dengan tatapan harus kupeluk Luki dengan erat.
" Besok saja ya mas.. aku beli tesspack di apotik saja. Aku tahu kamu sibuk. Aku gak mau mengganggu pekerjaan mu."
"Yakin gak mau aku temani?" Luki menjawil daguku. Aku mengangguk pelan.
"Ya sudah, aku juga gak bisa memaksa. Apapun hasilnya, aku takkan berubah mencintaimu. Sebentar lagi pernikahan kita di depan mata. Aku ingin pekerjaanku terselesaikan tanpa menumpuk hingga hari itu datang."
"Iya mas.. tetapi jangan lupa istirahat, aku gak mau kamu sakit mas."
Mas Luki menatapku lama. Aku tak mau kehilangan orang yang paling kusayangi selain bapak dan ibuku.
__ADS_1
Waktu semakin berlalu dengan cepat. Tinggal satu hari lagi kami akan menikah. Persiapan pestanya sudah diserahkan ke event organizer yang biasa menangani acara resepsi pernikahan dengan segala pernak perniknya. Kami tinggal feeting baju ke butik. Sederhana tapi elegan. Undangan hanya beberapa rekan kerja dan kerabat terdekat kami. Rencana hari pernikahan kami laksanakan di Hotel Manggarai, besok pukul 8 pagi.