My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Menjadi Ibu yang Bijaksana


__ADS_3

Ancaman Lia ternyata mengganggu pikiranku. Aku jadi merasa nyawaku terancam. Apa aku harus lapor ke Mas Luki, ya?


Baiklah, nanti aku akan diskusi mengenai si Lia yang sombong itu. Sampai-sampai wanita itu tak mengenaliku. Dulu satu pabrik denganku.


Si kembar semakin beranjak besar. Kini usianya sudah tiga tahun. Waktunya untuk sekolah. Zaman sekarang anak-anak walaupun masih balita, sudah di masukkan ke sekolah PAUD, di samping agar banyak bergaul dengan temannya, ada juga bertujuan agar Ibu tak disibukkan dengan pekerjaannya yang notabene wanita karir.


Kalau aku sih, ambil sisi positifnya. Anak pasti senang bertemu dengan teman-temannya dan pastinya juga guru mengajari mereka dengan hal-hal yang mudah, seperti melatih fisik motorik mereka. Aku begitu menikmatinya.


Hendra dan Hendri dengan pipi gembulnya membuat teman dan gurunya menyukainya.


Hari-hari menyenangkan buatku. Mengasuh anak, menemani mereka sekolah, sambil ngobrol ngalor ngidul dengan ibu-ibu rumah tangga. Ternyata seru juga bercengkerama dengan mereka. Santai dan tanpa beban. Tidak seperti wanita karir yang tiap hari memikirkan pekerjaannya. Belum kalau tidak target, mereka akan stres memikirkannya.


Jalan hidup penuh berliku, tiap manusia berbeda satu sama lain, dan aku menyadarinya. Menjadi Nyonya Luki, membuatku bangga sekaligus senang bisa menemani suka dan duka suamiku.

__ADS_1


"Hei... Bu Luki, kok bengong saja? Ayok ikut arisan ma kita-kita. Ketimbang di rumah ga ada teman, gabung aja ya," celetuk Bu Sofi teman sesama wali murid. Aku berdehem sebentar.


"Pingin juga sih, Bu. Tetapi aku ijin dulu ya, sama suamiku. Takutnya gak memperbolehkannya," kelasku. Aku bisa membayangkan jika kegiatan arisan Ibu-ibu sosialita itu bisa menyita waktuku bersama anak dan suamiku.


"Aku juga ikut, kok Bu. Biar seru aja... suamiku sudah mengijinkan, bahkan ia senang aku bisa gabung dengan ibu-ibu di sini. Ngilangin stres, tiap hari ngurusin rumah tangga," kata Ibu gendut di sampingku. Namanya, Bu Mira.


Stres?? Apa aku juga merasakan hal yang sama? Akhir-akhir ini aku dihantui perasaan was-was, takut suamiku diambil orang.


"Mana kenapa, kok melamun?" tanya Hendra memperhatikanku dari tadi. Aku terhenyak kaget dan tersenyum kearahnya.


"Tidak, sayang... Mama hanya membayangkan kalian jika sudah besar, pasti tampan seperti papa," jawabku sekenanya. Semoga Hendra rak curiga. Hendri sibuk dengan YouTube di ponselnya.


Dua anak tetapi berbeda karakter. Hendra peka sekali dengan orang-orang terdekatnya, sedangkan Hendri tampak cuek cenderung dingin. Ngomong seperlunya. Seperti foto copi dengan Mas Luki.

__ADS_1


"Kita mau kemana dulu, sayang? Langsung pulang atauuu... " Sengaja aku tidak meneruskan ucapanku, biar mereka menebak sendiri.


"Beli es krim...!!" seru Hendra dan Hendri bersamaan.


Aku tertawa melihat tingkah anak-anakku. Untuk urusan makan, mereka lebih tahu selera makannya.


"Oke... kita ke Mall sekarang," kataku pelan sambil tersenyum memandangi mereka.


Membuat mereka bahagia adalah sesuatu yang luar biasa. Aku lega dan puas, tidak sia-sia aku berhenti kerja demi anak-anakku. Dan suamiku mendukung sepenuhnya.


Setelah mobil terparkir di area Parkiran, aku segera keluar dan membukakan pintu untuk mereka. Sebelum masuk ke Mall, aku ingatkan agar mereka tidak nakal di sana dan tetap di sampingku.


Suasana Mall cukup ramai, kami langsung menuju ke resto mini yang menyajikan minuman dan makanan cepat saji. Setelah antri di kasir kami memilih duduk di ujung dekat kolam ikan mini di tempat itu. Hendra dan Hendri senang sekali melihat ikan hias itu. Aku pun mengabadikan moment penting ini. Mom and Kid's...

__ADS_1


__ADS_2