
Semenjak aku disekap oleh Danar dan Meli, aku dilarang Luki untuk bekerja. Aku harus fokus dengan acara tunangan besok pagi. Semua persiapan sudah matang, tinggal menunggu waktu saja.
Luki hampir tiap hari ke rumah untuk memastikan semua baik- baik saja.
Rencana setelah lamaran, aku mau diboyong ke apartemennya, alasannya biar aman sampai hari pernikahan.
Aku tak bisa menolaknya karena aku percaya sepenuhnya pada Luki.
"Ting tong... " bunyi bel terdengar nyaring. Aku baru saja mengeringkan rambut, Tiba-tiba dari arah belakang sudah berdiri Luki.
" Mas Luki! ngagetin aku saja, " kataku sewot.
"Kaget ya sayang? Sini kupeluk biar gak kaget lagi." Buru- buru Luki memelukku dari belakang hingga membuat handukku melorot hampir lepas.
Luki memandang bagian dadaku tak berkedip, membuat wajahku merona.
"Mas... jangan ah, " ucapku gagap. Mas Luki dengan beringas menyentuh dan mendorongku ke dinding.
"Auw.." bibirku sudah dilumatnya habis, sementara tangannya gentayangan masuk ke dalam handukku.
"Sudah mas... malu ah!" pekikku.
"Malu ma siapa?" tangannya semakin menjalar ke bagian sensitif ku, membuatku geli dan menahan gejolak itu. Nafasku tersengal.. antara perih dan ngilu. Mas Luki memang jago dalam hal ini. Entah dia nemu teori dari mana, hingga aku bisa menikmatinya.
" Aku gak sabar menanti Lis, " ucapnya lirih. Bolehkah aku... "
"Ups.. gak boleh, " ucapku tegas. Bagiku kehormatan adalah nomor satu. Harus dijaga sampai menemukan halal.
"Abis kamu bikin nafsuku naik. Kamu gak kasihan ma junior ku? " Luki menunjukan barang miliknya.
__ADS_1
"Aaaa..." Aku menutup mata menjerit ketika melihat barang itu menonjol.
"Ting tong..." Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Luki mendesah pelan dan menatapku.
" Kita lanjutkan nanti ya sayang? " Ia tersenyum dan beranjak ke kamarku.
"Apa? " Ah Semoga tamu yang di sana jadi penyelamatku. Aku bergegas ganti baju dan menuju ke ruang tamu.
"Wah.. ibu!" tanyaku terkejut campur bahagia. Aku langsung memeluknya.
"Gimana keadaanmu Lis? "Ibu melepas pelukanku.
"Aku baik- baik saja bu.. O iya ayo masuk bu. Aku buatkan teh, sebentar ya ibu duduk dulu, okey.. " Cepat- cepat aku meninggalkan Ibu di ruang tamu. Mas Luki.. gawat ini, kenapa dia pake acara ke sini sih, kan belum saatnya. Dan "krek.." kulihat mas Luki sudah ngorok dengan telanjang dada.
Segera kututup pintu kamar, berniat membangunkannya.
"Mas.. bangun.. ada Ibu! " bisikku ke telinganya. Tak ada reaksi, ia kalau tidur susah dibangunin. Aku gak kehilangan akal. Kucubit lengannya agar dia segera bangun. Dan manjur juga cubitanku. Dia langsung bangun dan meringis kesakitan. Bodo amat, ini darurat.. aku gak mau ibu beranggapan kalau aku sudah...
"Sst.. ibuku datang mas, gimana ini. Kamu harus pulang sekarang ya.. lewat jendela. " Aku sudah mondar mandir tak tenang.
Mas Luki buru- buru memakai baju. Dia terlihat panik juga.
"Wah bisa- bisa aku ditolak jadi menantunya nih, " kata mas Luki.
Terdengar langkah kaki mendekat ke kamarku.
"Lisa... kok lama bikin tehnya?" teriak ibu.
Aku gelagapan dan mengatur nafas. Kulihat mas Luki bersiap melompat. Aku pastikan ia sudah lenyap dari pandangan mata. Hatiku lega sekarang. Segera kubukakan pintu kamarku.
__ADS_1
"Ibu.. maaf tadi aku terima telpon dari mas Luki, jadi agak lama. Yuk sekarang aku buatkan teh spesial untuk ibu. Aku menggandeng tangan ibu ke dapur. Ia tersenyum ke arahku dan berjalan menuju ke dapur.
" Ngomong- ngomong calon menantu ibu tuh baik tidak orangnya? Apa seperti ayah kamu? Baik, tanggung jawab dan sayang keluarga."
Aku tertegun mendengar ayah. Sudah lama ayah meninggal karena kecelakaan itu. Aku masih berusia 5 tahun waktu itu.
" Lisa.. kok malah bengong? Kamu mikirin siapa?"
"Aku ingat ayah bu. Mas Luki insya Allah baik orangnya bu, sayang ma Lisa., " jawabku pendek sambil menyeduh teh.
"Oh syukurlah kalau begitu, ibu penasaran dengan Luki calon menantu ibu."
Aku tersenyum senang melihat ibu sebahagia hari ini.
***
Hari yang ditunggu tiba. Acara lamaran berjalan lancar. Walaupun sederhana acara itu terlihat sakral dan aku menyukainya. Nampak di antara tamu ada Meli dan Danar. Aku tak mau melihatnya, terapi mereka mendekati kami.
"Selamat ya Lis.. semoga bahagia dan lancar sampai pernikahan, " kata Meli. Danar hanya menunduk malu.
"Makasih Mel.. " jawabku pendek. Hubungan kami jadi renggang gara-gara kejadian malam itu.
Setelah acara selesai, kami berkumpul di ruang keluarga. Ibu dan ayah Luki bahagia dengan acara lamaran ini.
Luki menggandengku ke taman belakang rumah, dan duduk di balkon sambil memandang bintang.
"Kamu bahagia Lis? " tanya Luki sambil memelukku erat.
"Sangat... aku tak sabar untuk menjadi istrimu. "
__ADS_1
"Aku juga.. ingin segera menikahimu. Satu bulan tak terlalu lama untuk kita. " Luki mengecup keningku. Aku bahagia sekali.