
Aku kembali memulai kehidupan bersama Mas Luki, suamiku. Sesuatu masalah besar sudah kami lampau dengan sukses.Tak ada gangguan yang akan menimpa kami. Semoga saja...
Mas Luki juga sudah tak khawatir jika ia meninggalkan kami waktu ngantor. Aku bisa melakukan rutinitas dibantu dengan Mbok Minah.
Pesan Mas Luki sebelum pergi, agar aku bisa merawat tubuhku dengan baik, kalau perlu ke salon katanya. Aku pun setuju untuk melepaskan penat dan boring berada di rumah.
Salon langgananku berada tak jauh dari kantor Mas Luki, suamiku. Aku mantap ingin memanjakan diri agar penampilan ibu rumahan tidak dianggap miring, karena berkutat dalam rumah tangga.
Sampai di pintu masuk, aku disanbut beberapa karyawan salon yang kebanyakan mas-mas lemah gemulai. Aku sedikit risih waktu dulu, tetapi lama- kelamaan aku terbiasa dengan sikap mereka. Mungkin mereka bersikap seperti itu, karena pada umumnya yang berkunjung di salon adalah kaum hawa.
"Eh neng Lisa, pakabar Neng?" tanya Mince, Laki-laki setengah perempuan. Gayanya khas pelayan salon.
"Baik, Bang..." jawabku sekenanya.
"Eh... kok panggil abang sich, namaku Mince. Panggil Mince dong, ah..."
Mince pura-pura sewot dan mengayunkan jemarinya ke depan wajahnya.
"Ha ha ha... iya Mince... ayo ah creambath rambutku. Sudah berapa hari gatal nih," perintahku.
__ADS_1
"Siap, cantik..." Dan iapun menyuruhku duduk di tempat yang disediakan.
"Hmmm... rambutnya panjang dan lebar, cantik lho, Neng..." pujinya sembari menyiapkan alat untuk creambath.
"Makasih, Mince..." Aku tersenyum senang. Kutatap wajahku di depan kaca. "Lumayan cantik," gumanku dalam hati. Pantas saja Mas Luki tergila-gila padaku.
Saat kami sedang sibuk ngobrol untuk menghilangkan penat, Tiba-tiba datang wanita yang ingin facial dan rebonding.
Wanita itu terlihat angkuh dan berkacamata hitam dan marah-marah.
"Mana nih, manajer kalian, panggil sini!! " teriaknya. Aku dan Mince melongok ke depan.
"Tuh wanita sombong benar, pelanggan sini, tetapi sikapnya gak pernah berubah, " bisik Mince. Aku melirik sebentar ke arah wanita belagu itu.
"Dia tuh simpanannya Bos Arya yang punya beberapa perusahaan di kita Jakarta ini, " terang Mince.
"Oh...Aku mendesah pelan. Mentang-mentang orang kaya, bisa seenaknya di tempat umum, " pekikku dalam hati. Sayup-sayup beberapa karyawan berusaha menjawab pertanyaan si wanita itu.
"Brak... meja di gebrak oleh wanita arogan itu. Sontak aku dan Mince kaget. Rasa geramku mengalahkan segalanya. Akupun beranjak mendekati wanita aneh itu. Mince ketakutan, dan hanya bisa memanggilku dari jauh.
__ADS_1
" Hei... Mbak yang sopan dong, ini tempat umum. Sikap mbak itu membuat pelanggan tidak nyaman," kataku pekan tetapi tegas. Aku menatap tajam kearahnya.
Wanita itu balas menatapku dan menurunkan kaca matanya. Aku kaget dibuatnya. Bukankah wanita di depanku bernama Lia, teman sekantor Mas Luki, dulu.
Aku terdiam menunggu reaksinya. "Siapa kamu ngatur-ngatur saya?" tanyanya men yelidik. Sombong benar nih perempuan. Untung ia tak mengenaliku, jadi aku tak segan memberinya pelajaran.
"Siapapun anda, saya mohon agar dijaga kesopanan Mbak. Saya jengah lihat sikap sombong Mbak." Kata-kataku keluar begitu saja dari mulutmu.
"Kamu mengguruiku? Kamu gak tahu ya siapa aku? Siapapun yang berani melawanku, akan kena apes. Lihat saja nanti, " katanya dengan nada mengancam. Senyumnya misterius.
Mince berjalan tergopoh-gopoh dan menarik tanganku agar menghindarinya.
"Ayo Neng, kita belum selesai, " bisiknya.
Mau tidak mau Aku menurutinya. Aku mundur bukan karena takut ancamannya tetapi aku kasihan dengan usaha salon itu.
Wanita itu berjalan sinis melewatiku. Bisiknya, " Hati-hati dengan saya. Kamu bisa saja berurusan polisi nanti.
***
__ADS_1
Hallo reader, maaf beribu maaf karena baru offline, karena ada acara keluarga.
jangan lupa review dan subscribe