My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Lisa terluka


__ADS_3

Aku harus mempersiapkan diri, seandainya orang misterius itu mau melukaiku saat Mas Luki tidak ada di apartemen.


Hari ini Mas Luki full menemaniku di kamar. Bayi-bayi kami nampak segar dan menggemaskan. Mata mereka bulat seperti kelereng dengan bening tak ada noda merah.


"Lis, apa sebaiknya kita pindah tempat saja? Kurasa tempat ini sudah tidak aman. Setiap hari teror itu terus menghantuimu. Apa kamu gak kasihan dengan bayi kita. Mereka butuh ketenangan juga."


Aku menatap suamiku sekilas. Ada benarnya juga jika kami pindah. Minimal untuk menghilangkan jejak saja.


"Aku setuju Mas.. terus di mana kita pindah? Jakarta sudah penuh untuk sebuah rumah. Kalaupun ada, pasti harganya cukup membuat kita jantungan."


Mas Luki mendesah pelan, satu-satunya jalan agar mereka tidak diteror yaitu menghilang sementara waktu.


Akupun mencari informasi berkaitan dengan rumah yang bisa disewa atau dijual murah.


"Hallo Rin... gimana sudah dapat infonya belum?"

__ADS_1


"Ada sih, Kak. Tempat itu jauh dari kota. Lebih tepatnya di pinggiran kota. Aku rasa tempat itu aman dari tangan-tangan penjahat. Semoga Kak Lisa dan keluarga suka."


"Oke... nanti shareloc ya... biar kami ke sana mengecek tempatnya."


"Oke... Kak, Bye... "


Telpon ditutup.


Segera aku beranjak dari tempatku semula. Suamiku keluar untuk mengambil minum. Tiba-tiba dentuman keras datang dari arah jendela kamar. Spontan aku kaget. "Mercon," pekikku.


Aku mundur selangkah, buru-buru aku mendekati bayiku yang tertidur nyenyak. Dan ketika dekat dengan jendela, tubuhku seperti terkena api, panas sekali. Ternyata percikan mercon itu mengenai kulitku. Aku berteriak histeris.


"Apa yang terjadi, Lis. Siapa yang melakukannya?" Mas Luki terlihat panik.


"Gak tahu Mas, tadi ada mercon dilempar ke jendela kamar, dan aku penasaran mendekat ke jendela, tetapi aku terkena percikan mercon itu."

__ADS_1


Aroma mercon masih menyengat di dalam kamar. Mas Luki segera memeriksa bayi dan benda berbahaya itu. Tak ada lagi keanehan di kamar itu.


"Jangan-jangan apartemen yang ia sewa ini angker? Padahal sebelum Robert ke sini, aman-aman saja," batinnya menyelidik.


"Kita harus pindah secepatnya, Lis. Aku tak mau keluarga kita celaka karena teror ini."


Setelah memberi salep pada kulitku, Mas Luki beranjak mengambil juice mangga. Sengaja ia membuatnya agar aku fresh tidak stres lagi.


"Makasih ya Mas." Mas Luki menyodorkan minuman itu untukku. Ia mengangguk pelan dan juga meminum seteguk.


"Mas tadi aku ditelpon temanku, katanya ada rumah untuk disewa tetapi berada di pinggiran kita. Apa Mas minat, kalau minat kita survey ke sana secepatnya." Aku meneguk minuman itu dengan pelan.


"Oh kebetulan... sekalian kita belanja untuk keperluan sehari-hari kita dan bayi kita." Mendengar belanja, mataku langsung berbinar senang, setidaknya mata ini akan berkelana melepaskan stres yang menghantuiku.


"Oke Mas, aku siap. Aku mandi dulu ya, jagain Baby kita." Aku ngeloyor pergi saking gak kuat menahan rasa senang, kubiarkan suamiku menatapku penuh tanya.

__ADS_1


"Wanita kalau sudah dengar belanja, langsung mukanya ceria. Apakah kodrat wanita seperti itu? Ia menggelengkan kepalanya sambil berjalan ke Box bayi. Hendra dan Hendri tampan sekali, tidak rewel meskipun keadaan ngompol atau bab. Akupun senang memiliki mereka.


" Maafkan ayah ya sayang, belum memberikan tempat yang nyaman untuk kalian," ucapnya sedih.


__ADS_2