My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Kembar Hilang


__ADS_3

Kupanggil mbak Desi dengan keras. Sambil menyalakan lampu, aku menuju ke kamar. Mas Luki mencari mbah Minah ke kamarnya. Aneh... tak ada siapa-siapa.


Mas Luki langsung panik, ia berhasil tergesa-gesa menemuiku. "Gimana Lis, perawat itu tidak ada di kamarnya, katanya dengan panik.


Aku langsung lemas seketika. Aku baru ingat tentang perawat itu dari Albert. Baik aku harus menghubungi Albert. Dengan tangan gemetar aku menelpon Albert.


*Telpon yang Anda tuju tidak dapat dihubungi*


Aku tak menyerah, kuulangi menghubungi Albert, tetapi tetap sama. Pesan di panggilan, tidak bisa dihubungi. "Jangan-jangan Albert bersama perawat itu kerjasama menculik anakku?"


Mas Luki penasaran atas sikapku yang menghubungi Albert. Ada apa ini? Jangan-jangan mereka berselingkuh di belakangku? Berbagai pertanyaan datang bertubi-tubi di pikirannya.


"Apa yang terjadi, kenapa kamu menghubungi dia? Apa yang kalian perbuat di belakangmu? Jawab!! " Mas Luki lepas kontrol dan meluapkan emosinya padaku.


Aku menangis sesenggukan, dan dengan terbata aku menceritakan semua dari awal musibah kecelakaan itu. Mas Luki marah dan ia memukul tembok hingga tangannya berdarah. Ia juga tidak bisa menyalahkanku. Karena keadaan aku melakukannya demi anak-anakku.

__ADS_1


"Semua sudah terjadi, Mas. Kita harus lapor polisi, aku gak mau anak kita diambil mereka." Aku menangis dan memegang tubuh suamiku dengan bergetar.


Aku dan mas Luki segera berangkat ke kantor polisi. Di perjalanan kami banyak terdiam, enggan untuk bicara. Aku tahu mas Luki marah akibat keputusanku menerima bantuan dari Albert.


Tiba di kantor polisi, mas Luki melapor atas hilangnya anak kembar kami dan juga melaporkan Albert dalang di balik penculikan itu.


Pak polisi segera tanggap dan mencari keberadaan anak kami. Tangisku tak berhenti, mas Luki menenangkanku.


"Sudah... jangan menangis terus. Kita pasrahkan pada polisi, semoga penculik itu tertangkap dan dihukum seberat-beratnya."


"Lis... coba kamu nyalakan gps, dimana posisi Albert itu sekarang," perintah mas Luki. Aku menurutinya. Mungkin dengan jalan ini, aku bisa menemukan Albert.


Kutelusuri aplikasi canggih itu dan kutemukan posisi Albert dimana sekarang Aku terbelalak kaget. Lokasi Bandara Soekarno-Hatta.


Mas Luki langsung melaju mobilnya dengan kencang Ia tidak mau kehilangan waktu sedikitpun walau sedetik untuk bertemu dengan Albert.

__ADS_1


"Cepat mas... jangan sampai dia menghilang lagi." Beruntung jalanan tidak macet, jadi kami gak perlu lama menuju ke bandara.


Sesampai di sana, mas Luki mencari posisi Albert yang sejam yang lalu berasa di bandara. Matanya liat dan memandang ke segala penjuru.


Akupun melakukan hal yang sama. Hingga aku menemukan sosok wanita yang ciri-cirinya seperti mbak Desi.


Saat aku mendekati wanita itu, ia langsung kaget dan mulai menghindar. Aku gak mau kehilangan wanita jahat itu Mas Luki yang menyadari sasaran di depan mata, langsung berlari dan berusaha menangkapnya. Hingga aksi kejar-kejaran kami lakukan. Perawat gadungan itu panik dan terjatuh Mas Luki langsung menubruknya dan dengan sekali sigap, ia menangkap wanita itu.


"Ampun... Tuan... saya tidak bersalah, " katanya memohon. Orang-orang yang melihat kami, langsung mendekat. Aku tidak mau menjadi salah paham, segera kuceritakan pada mereka apa yang menimpa kami.


"Ayo katakan dimana kamu bawa anak kami dan mana si Albert?" tanya suamiku dengan keras.


"Wah ini gak bisa dibiarin. Laporkan saja ke polisi, pak." Suara- suara di sekitarku menganjurkan untuk dibawa ke kantor polisi.


"Iya Pak.. pasti akan kuurus semua ini, biar wanita ini dipenjara." Mas Luki sengaja menekan suaranya agar mbk Desi mengakui kesalahannya.

__ADS_1


Sedangkan di kejauhan, seseorang tersenyum kecut melihat peristiwa yang memalukan terhadap dirinya.


__ADS_2