
Rasa tak karuan menyelimuti hatiku, saat mas Luki ternyata berhubungan dengan Lia. Tak sampai di situ, ia mulai berani chatingan dengan Lia, wanita yang tak kusukai karena perangainya. Tetapi hatiku masih berpikiran positif, mungkin bukan Lia yang kupikirkan selama ini.
Aku pun masih berpikiran positif Lia sekretaris mas Luki. Semoga tak terjadi hubungan spesial antara mereka.
Setelah menyimpan nomor ponsel Lia, aku kembalikan ponsel suamiku di tempatnya semula. Tentunya aku menghapus semua jejak penasaran, dengan jari lentik ini.
Tak berapa lama, pintu diketuk orang. Aku segera ingin membukanya, pasti mas Luki balik untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
"Krek... " Benar saja, suamiku dengan wajah tak tenang berdiri di hadapanku.
"Kenapa, Mas? Kok balik lagi? " tanyaku berpura-pura.
"Anu, Dek. Ponselku ketinggalan, " jawabnya singkat. Aku pun memberi jalan padanya.
__ADS_1
"Makanya hati-hati dong,Mas. Sebelum pergi dicek perlengkapannya, " kataku ketus dan mengekor di belakangnya.
Mas Luki berhenti dan berbalik menatapku. Ada raut wajah keheranan terpancar dari sorot matanya.
"Kamu kenapa, Dek. Tak seperti biasanya bicara ketus begitu?" tanya mas, Luki tak suka. Bodo amat, aku sudah kesal dibuatnya gara-gara panggilan dari Lia itu.
"Aku gak papa, Mas. Maafkan aku, mungkin aku lelah. Tadi bersih-bersih di belakang." Aku menjawab sekenanya, agar ia tak menaruh curiga padaku.
"Oh begitu, kamu jangan kelelahan dong sayang. Kan ada pelayan, kamu jaga kesehatan bayi kita, okey?" Mas Luki memelukku erat. Pelukan ini terasa tak seperti biasanya. Kenapa aku jadi baper begini, gara-gara panggilan telpon itu yang belum tentu benar, ia berselingkuh?
Setelah suamiku pergi, akupun berkemas, untuk membuntutinya. Si kembar kutitipkan pembantu baruku, dan akupun langsung pesan taksi online.
Tak perlu waktu lama, akupun bisa membuntuti mas Luki dari belakang. Udara hangat di pagi hari tak membuatku segar, berbagai rasa berkecamuk didadaku. Tiba-tiba mobil mas Luki berhenti tepat di depan restaurant.
__ADS_1
Hatiku berdesir hebat, saat wanita yang sangat kukenali dan sekaligus kubenci muncul dari dalam resto tersebut. "Lia, wanita itu!" pekikku dalam hati.
Dengan sisa kesabaranku, kuamati gerak gerik wanita itu. mas Luki tak terlihat keluar dari mobilnya. Dan Lia langsung masuk ke dalamnya. Aku terbelalak tak percaya apa yang kulihat di depan mataku. "Mas Luki, tega sekali kamu mas!! " teriakku di dalam mobil.
"Ibu tidak apa-apa? " tanya sopir taksi. Aku tersadar dari sikap histerisku. Akupun meminta maaf pada pak sopir tersebut, dan ia pun mengangguk sambil tersenyum.
"Ibu barusan melihat suaminya jalan dengan wanita lain ya? " tanya bapak itu penuh selidik. Akupun bertambah kecewa, kesal dan marah merasa dikhianati.
"Jangan menyerah, Bu. Rebut kembali suami Ibu dari wanita itu. Saya yakin wanita itu hanya ingin memanfaatkan suamimu, " katanya sekali lagi.
Akupun mengangguk setuju. Rasa geramku untuk balas dendam kepada Lia. Terus Albert kenapa dengan pria itu. Ia tidak tahu atau sudah tahu kelakuan pacarnya itu?
Diantara gundah gulana, aku pulang dengan hati perih. Bayi yang ada di perutku juga merasakan kesedihan mamanya.
__ADS_1
"Sabar, ya Dek. Papamu sedang bermasalah, semoga ia terhindar dari fitnah di luar sana. Amiin... " kataku lirih, sambil mengelus perut buncit.