My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Rahasia Terungkap


__ADS_3

Aku dan Luki sudah tiba di depan pintu ruangan tempat Mbah Minah dirawat. Orang yang bersama Mbah Minah seakan akrab dengannya. Walaupun Mbah Minah terlihat lemas, tetapi orang itu seakan berbicara layaknya orang normal.


Aku dan suamiku menunggu sejenak di luar. Luki terlihat gelisah. Sesekali ia menengok ke arah dalam bangsal.


"Kenapa sih, mas gelisah begitu. Biarin mereka bicara satu sama lain, kita tidak boleh mengganggunya.


" Bukannya begitu, Lis. Aku takut ada sesuatu yang jahat menimpa Mbah Minah. Apa aku langsung ke dalam saja ya?"


Aku ragu dengan keputusannya. Tetapi mas Luki segera beranjak untuk masuk ke ruangan itu. Aku mengikutinya dari belakang.


"Permisi... " kata suamiku pada orang itu. Sejenak orang itu kaget dan langsung berdiri. Kaca mata hitam bertebgger di telinganya dengan kumis tebal. Aku seperti mengenali orang ini, tapi di mana ya? Aku berusaha mengingatnya.


Sebelum kutanyakan langsung, pria misterius itu segera pamit pada kami.


Pria itu melirik Kulirik sebentar dan menghilang di balik pintu. Aku dan Luki berpandangan. Luki mengangkat bahunya, tanda masa bodoh. Ia melihat Mbah Minah dengan wajah sayu.

__ADS_1


"Maafkan kami Mbah... kami tidak bisa melindungimu. Segeralah sadar agar kami tahu siapa dalang di balik ini semua."


Aku menatap Mbah Minah dengan sedih. Belum ada keakraban diantara kami, dia sudah tak percaya di sini.


Setelah lama kami berkunjung, perawat datang mengantarkan obat.


"Maaf, Sus... Kira-kira berapa lama pasien akan tersadar ya?" tanya mas Luki.


"Kami tidak bisa memastikan pak... tetapi kondisinya sudah mulai stabil kok. Nanti kami infokan kembali perkembangannya," jelasnya.


Tepat di pertigaan jalan, tiba - tiba motor nyelonong berbelok tidak memberi tanda. Otomatis mobil kami oleng, mas Luki membanting setir ke samping untuk menghindari tabrakan tetapi naas dari arah samping mobil menyalip dengan kecepatan tinggi dan " Brakkkk...."


kamipun tak sadarkan diri.


Setengah sadar, aku dan suamiku diangkut ambulance menuju rumah sakit. "Bayiku.... bagaimana dengan bayiku..." doa tak putus-putus kupanjatkan pada Tuhan.

__ADS_1


Darah mengalir deras dari arah organ ke.... anku. Aku menangis sesenggukan takut dan panik jika terjadi sesuatu dengan bayiku.


Di ruang ICU, kami dibaringkan. Aku melihat mas Luki terluka parah. Darah segar mengalir deras di bagian kepalanya. Aku takut terjadi sesuatu dengannya.


Dokter segera menanganiku. Semua peralatan medis diletakkan di meja. Aku bergidik ngeri melihat kondisiku, terpaksa salah satu dokter itu membiusku agar tidak stres.


Beberapa jam kemudian...


Aku menatap langit-langit kamar yang serba putih itu sambil mengingat berbagai kejadian beberapa waktu yang lalu.


Tiba-tiba aku histeris dan menangis memanggil suamiku. Perawat segera datang dan membantuku duduk. Aku mengusap air mata yang semakin deras sambil bertanya bagaimana keadaan suamiku.


Perawat tersebut memberitahu bahwa mas Luki dalam perawatan intens karena pendarahan di otaknya. Benturan keras yang menyebabkan kepala mas Luki berdarah.


Aku sesenggukan dan baru ingat tentang bayiku. Kirana perutku yang buncit ada sedikit kelegaan di sana. Dan Suster memberitahu bahwa bayiku selamat.

__ADS_1


Padahal benturan itu keras sekali. Aku mengingatnya dengan air mata yang berlinang. Aku bersyukur sekali bayiku selamat. "Kamu hebat jundiku," bisikku pada diriku sendiri.


__ADS_2