
Prita masih bermain di tempatku. Gadis itu berusia kira-kira 20 tahunan. Cantik, dengan rambut hitam panjang dan tebal. Yang menarik perhatianku adalah baju yang dikenakannya gaun orange dengan motif bunga-bunga kecil, menambah anggun gadis itu.
Rumahnya, katanya di ujung jalan komplek perumahan kuno ini. Aku sih belum sempat main ke sana, karena keadaanku yang memiliki si kembar yang aktifnya bukan main, ditambah pekerjaan rumah tangga yang tidak kelar-kelar menurutku.
Mumpung ada Pria, aku mau menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda, memasak untuk mas Luki.
"Mbak... aku mau memasak sebentar ya, kamu gak masih lama kan di sini?"
"Iya Mbak... aku orangnya santai kok, tinggal sendiri di ujung jalan membuatku tak betah di rumah," katanya sambil menemani si kembar main di lantai.
"Oke kalau begitu... aku masak sebentar ya, nanti kamu boleh mencicipi masakanku."
__ADS_1
"Wah... makasih mbak... aku jadi lapar nih." Aku tersenyum kearahnya dan berlalu di hadapan Prita. Selepas kepergianku, ia kembali menatap kebun di belakang rumah kami. Tatapannya kosong dan berharap sesuatu muncul di sana.
Tepat pukul lima sore, suamiku pulang. Ia heran melihat kondisi rumah yang sudah rapi, dan aroma masakan sudah menusuk hidungnya. Didapatinya dua gelas sirup di atas meja ruang tamu, berarti ada orang yang bertamu di sini. Segera Mas Luki mencariku.
"Lis... Lis, dimana kamu sayang!" Mas Luki mencariku dengan panik. Ia takut kalau terjadi sesuatu dengan kami.
Di kamar mandi, tidak ada, di dapur tak ada, di kamar juga tak ada. "Kalian kemana sih, bikin aku khawatir saja," gerutunya dalam hati.
Tiba-tiba terdengar gelak tawa si kembar. Mas Luki mencari arah suara itu. Di belakang rumah, o iya tadi Lisa pernah bilang kalau di belakang rumah ada taman kecil yang enak untuk beristirahat dengan duduk-duduk di sana.
"Wah indah sekali, tempat ini." Dari depan hampir tak terlihat karena tertutup bangunan tinggi yang dibangun oleh pemilik rumah di komplek ini. Hampir rara-rata rumah di komplek ini berlantai dua dan semunya memiliki pagar di depan rumah mereka. Jadi semua warga mungkin jarang bertemu dan ngobrol.
__ADS_1
Demikian kami, tetapi saat mas Luki melihat dua gelas sirup di meja temu, jadi penasaran siapa yang bertamu tadi siang di rumahnya.
"Eh... suamiku sudah pulang." Aku langsung mendekatinya dan menyalaminya. Pasti dia penasaran te yang taman ini.
"Siapa tamu yang datang ke rumah kita, Lis?" tanyanya penuh penasaran.
Aku kaget, dan kembali dengan sikap setenang mungkin. "Itu... sahabatku. Namanya Prita, ia tinggal di ujung jalan komplek sini, Mas. Aku sih belum tau tepatnya di mana. Barusekali dia main ke rumah dan kami pun langsung akrab," jelasku sambil memilih bunga yang kupetik di balik rerimbunan pohon itu.
Mas Luki mendesah pelan. "Kamu harus hati-hati ketemu orang apalagi yang baru kau kenal. Aku takut orang itu ingin kita celaka. Kita harus waspada."
Aku termenung mendengarnya. "Masa sih Mas, kita sudah pindah jauh dari kita, Albert masih mengejar kita? Lagi pula Prita anak yang baik. Tau gak Mas seharian ia menjaga si kembar, makanya aku bisa beres-beres rumah dan masak makanan kesukaanmu."
__ADS_1
"Apa, seharian? Betah banget orang itu main ke tempat orang yang baru dikenalnya. Ah... ia mendesah pelan."
"Aku mandi dulu, nanti aku menyusul di ruang makan." Ia segera berlalu dari hadapanku. Aku heran dengan sikapnya yang Panaroid itu.