
Setelah beberapa waktu yang lalu kami tunangan, aku dibawa ke apartemen Luki yang ada di daerah Jakarta Selatan. Apartemen itu cukup mewah untuk kelas seperti Luki.
Sebelum diboyong ke apartemen Luki, aku minta saran ibu dengan berbagai pertimbangan. Dan ibu menyetujuinya.
"Semoga lancar sampai hari " H" nak, ibu harus pulang kampung dulu, kasihan rumah kita kosong melompong. Mending ayah kamu ingin rumah itu tetap ditempati sampai hari tua nanti."
Ada rasa sedih, melepas ibu sendirian di kampung. Tetapi bagaimana lagi, beliau tidak betah di kota Jakarta ini, baru dua hari sudah pingin pulang. Memang kampung halaman itu selalu bikin kangen, apalagi orang yang merantau ke sini.
Setelah mengantar ibu pulang, aku bersiap membereskan semua barang- barangku untuk dibawa ke apartemen Luki. Orang suruhan Luki sudah bersiap di luar.
" Sudah Non.. biar kami saja yang membawa barang- barang Non Lisa."
"Baiklah..mang." Aku senang dengan kepindahan ini. Tak lupa aku pamit ke ibu kontrakan.
Kira-kira satu jam aku sudah sampai di apartemen Luki. Aku mengedarkan pandangan ke segala arah. Terus terang aku belum pernah tinggal di bangunan yang kata orang mirip hotel, bedanya apartemen bisa dibeli dengan kantong yang lumayan besar.
Setelah beres- beres, aku menghubungi Luki di tempat kerja nya. Biasanya jam segini waktunya makan siang.
"Hallo yang..." Aku berkata riang sekali hari ini.
"Hallo Lis... sudah pindah kan hari?," tanya Luki. Terdengar suara mesin pabrik bergemuruh. Aku yakin Luki belum istirahat.
"Sudah dong..." aku memperlihatkan video di apartemen.
__ADS_1
Luki tersenyum lega. " Ya sudah ya sayang.. aku mau makan siang dulu, bye. "
" Bye.. honey," aku langsung mematikan telponku.
Aku merebahkan tubuhku di kasur. Terasa lelah, setelah acara lamaran kemarin ditambah ibu datang, mengurangi waktu luang ku.
Pelan- pelan aku menutup mata terbuai mimpi.
"Tok.. tok.. " suara pintu kamar diketok orang. Aku memicingkan mataku, sudah jam 6 sore. Ya ampun.. aku tidur lama banget.. "
Kembali pintu diketok orang.. Segera aku bergegas mendekat dan melihat siapa yang datang lewat CCTV. Mas Luki.. wah bagaimana ini, aku masih berantakan belum mandi pasti bau... pasti Luki tahu wajah polosku..
Tetapi mau gak mau kubuka juga pintunya. Luki menatapku heran. Terapi hanya sekilas, dan iapun mendorong ku masuk ke kamar.
"Aarg.. apa-apa sih mas.. " teriakku sambil mencengkeram bahu kokohnya.
Luki tersenyum melihat reaksi ku.
"Kamu lebih cantik kalau begini, Lisa. "
"Ah.. masa.. berantakan begini di bilang cantik," protesku.
Mas Luki menghujani aku ciuman, dari kening, pipi, sampai mulut hingga aku tak kuasa menahannya.
__ADS_1
"Mas.. argh.. " aku mendesah pekan. Ia mulai melucuti pakaianku.
"Jangan mas.. belum saatnya, " aku merintih antara geli dan nyeri. Tangannya brutal masuk ke dalam bagian paling intim dan bibirnya ******* dadaku dengan ganas.
"Mas.. " argh.. aku menikmati itu semua.
"Lis.. aku gak tahan lagi.. mau kan aku lakukan sekarang?" ucap Luki dengan suara berat. Matanya memerah. Dan belum sempat kujawab, ia memasukkan juniornya ke dalam organ kewanitaan aku.
Aku menjerit.. sakit sekali.. apa yang terjadi di sana. Seperti diaduk-aduk, disayat dan perih.
"Arg... mas.. sakit.. sakit.. mas.. " erangku. Aku menangis tersedu. Lepas sudah kehormatan ku di depan orang yang kucintai. Darah segar keluar dari organ intimku.. aku menangis terus menerus. "
Mas Luki.. tega kamu.. Hu hu.. Hu"
Mas Luki terkulai lemah. Ia menatapku dan meminta maaf.
"Maafkan aku.. Lis.. aku gak kuat lihat keseksianmu tadi. Aku minta maaf.. "
Ia segera memelukku. Kami berpeluksn erat. Dengan kejadian ini, aku sudah pasrah dan tubuh ini milik Luki seorang.
"Tenanglah sayang, sebentar lagi kita menikah.. aku ingin segera memiliki anak dari kamu. " Luki mencium kening ku.
Aku pun percaya ucapannya yang tulus. Badanku sakit semua, aku berjalan ke kamar mandi dengan tertatih. Begini rasanya kalau sudah berhubungan intim. Terasa sakit seksli.
__ADS_1