My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Misi Albert


__ADS_3

Hatiku hancur lebur, saat mas Luki dinyatakan hilang ingatan. Kenapa nasibku begitu tragis. "Bagaimana dengan anak kita, mas?" ratapku menatap wajah sendu mas Luki.


Wajah sayu itu menatap kosong, ia tak mengenaliku sama sekali. Padahal sebulan lagi aku melahirkan anaknya. Aku menangis dalam kesedihan.


"Mas... ini aku, Lisa istrimu. Kita akan memiliki anak mas. Kamu tahu kan, aku hamil anakmu?" Mas Luki tidak bereaksi sama sekali. Ia hanya menoleh dan kembali menatap langit - langit kamar.


Suster segera masuk dan menenangkanku. "Mbak... biarkan suami mbak istirahat dulu. Memorinya belum pulih seutuhnya. Butuh waktu yang lama untuk mengembalikan memori itu. Mbak harus sabar ya," kata suster.


"Gimana aku bisa sabar, Sus? Posisku hamil anak dia, aku belum siap hidup sendiri..." Aku menangis tersedu, suster itu mendekat dan memelukku erat.


Hari ini aku sudah boleh pulang. Mas Luki masih dirawat di rumah sakit. Teman - temannya datang menjenguk dan memberi dorongan moril untuk kami berdua. Sementara pekerjaan harus ia tinggalkan dengan kata lain cuti mandiri.


Aku sudah bingung, bagaimana nanti kami hidup tanpa pekerjaan?

__ADS_1


Untung perusahaan memberi santunan yang lumayan besar. Semoga dengan uang itu, aku bisa menabung dan membuka usaha kecil-kecilan. Rencana aku mau pindah ke kontrakan yang biayanya jauh lebih murah dari apartemen kami.


Saat sedang beres - beres, ada seseorang bermaksud datang ke kamarku. Saat kulihat monitor Albert sudah berdiri di depan pintu. Sontak aku kaget. Ya... aku harus sekalian pamit ma orang itu, agar hidupku jauh dari bayang- bayangnya.


"Ada apa Bert, suamiku tak ada di rumah, " kataku tak suka. Albert tersenyum melihatku.


"Aku ikut prihatin atas musibah yang menimpa kalian. Trus kenapa kamu mengemasi barang- barangmu?" tanya Albert keheranan.


Aku gak mau Albert bertanya macam- macam tentang suamiku. Perkataan ku barusan sudah mewakili semuanya. Tiba-tiba Albert memegang tanganku erat. Aku terkejut bukan main.


"Aku sarankan jangan pergi dari sini, Lis. Kamu tidak takut bayimu kenaoa- napa. Lagian hidup di kontrakan dengan lingkungan baru, apa bisa mereka membantumu jika kamu melahirkan nanti?" Aku termangu mendengar ucapannya.


"Aku bersedia membantumu dengan mengirim perawat, agar kesehatan bayimu nanti terjamin. Anggap saja ini sebuah permintaan maafku selama ini." Albert menatapku sungguh- sungguh.

__ADS_1


" Maaf Bert, aku gak mau berhutang budi padamu," jawabku singkat.


"Ayolah Lis. Buka hatimu kali ini saja Pertimbangkan bayimu jika kamu pindah dari sini. Untuk biaya sewa apartemen aku sanggup membayarnya."


Aku menatapnya tak percaya. "Adakah misi tersembunyi di balik ini semua? Tetapi aku juga butuh bantuan, apa salahnya kuterima tawarannya?" batinku berkata lain.


Ah... ini soal waktu, nanti kalau suamiku pulih ingatannya pasti semua masalah berakhir dan kami hidup kembali normal seperti dulu. Lagi pula Albert membantuku tulus.


"Ya sudah aku Terima tawaranmu. Terima kasih ya Bert, kamu mau membantuku," kataku sambil menunduk. Mara Albert langsung berbinar dan tersenyum lebar.


"Nah gitu dong... any way aku bantu kamu mengembalikan barang- barang itu di tempatnya ya, " tawarnya kemudian.


Aku mengangguk setuju. Sejenak aku duduk di sofa melepaskan lelah sambil memperhatikan Albert mengemasi barang - barangku.

__ADS_1


__ADS_2