
Aku sudah bersiap dari pagi untuk mengajak jalan mas Luki di luar. Bayi kemvarku kutitipkan kepada perawatku. Agar ingatan mas Luki kembali normal, l aku gak mau melibatkan mereka.
Tepat jam delapan pagi, aku memesan taxi online. Setelah semua beres, aku dan mas Luki pergi menuju sebuah mall di wilayah Jakarta Pusat. Di sana banyak kenangan yang kami lalui bersama. Dari bermain game hingga makan dan nonton di bioskop.
"Tempat apa ini? Aku belum pernah melihat sebelumnya," kata mas Luki heran.
Aku gak berkecil hati. "Ini mall Mas. Di sini kita habiskan waktu bersama dulu."
Mas Luki mengernyitkan keningnya. "Aku gak mengingatnya. Mungkin kamu salah orang, " katanya putus asa.
"Pelan-pelan Mas. Nanti kamu juga akan ingat semua. Memory kita dulu. Aku sabar menghadapinya.
Tiba-tiba seseorang berlari dan menabrak mas Luki. Badan Mas Luki limbung dan jatuh. Kepalanya terbentur pagar besi di lantai dua. Aku menherit memanggilnya. Orang-orang segera berdatangan dan menolong kami.
Sesaat Mas Luki hilang kesadarannya. Ia didudukkan di ruangan khusus karyawan Mall. Aku menjaganya sampai ia tersadar. Beberapa orang membantuku untuk memberi reaksi agar mas Luki sadar dari pingsannya.
"Maafkan kami, ya mbak.. kurang memperhatikan keamanan dalam gedung ini, " kata manajer kami.
__ADS_1
Aku menoleh ke manajer pemasaran ini. Hingga orang yang berlari itu ternyata pencopet yang mau kabur. Sontak semua orang panik. Dan mas Luki jadi korbannya.
***
Di suatu tempat
"Gimana, apa kamu sudah berhasil mencelakainya?" tanya seseorang pada pria di depannya.
"Sudah bos... mungkin sekarang ia sekarat."
Pria yang disebut bos itu tersenyum puas. Ia tak lain adalah Albert yang ingin memiliki Lisa.
"Makasih Bos... saya janji mau menghilang untuk sementara waktu. Jika suatu saat Bos membutuhkan saya, saya siap datang." Itulah pesan terakhir mereka bertemu.
Albert mengangguk pelan dan menyuruh orang itu pergi dari hadapannya segera.
***
__ADS_1
Sementara di Mall Pondok Indah, aku memapah mas Luki dengan pelan keluar dari gedung itu. Beruntung sekali suamiku tidak terluka. Hanya refleks kaget saja yang ia alami tadi.
"Lisa, kenapa aku jadi lemah seperti ini. Aku di mana?" tanyanya bingung meluhat tempat yang asing di matanya.
"Ini di Mall mas, tadi mas pingsan dan beberapa karyawan membantu kita. Kita sekarang pulang dulu ya... " Aku bicara penuh penekanan, karena tak sabar menemui dua babyku.
"Aku sekarang ingat, Lis, Semenjak kecelakaan itu, aku gak ingat apa-apa lagi. Bayi kita dimana?" tanyanya panik.
Aku menjelaskan kalo bayi kami kembar dan ada di rumah bersama perawat.
Tiba-tiba aku ingin menghubungi perawat yang baru kerja sebulan lalu. Segera kupencet nomor telponnya. Tak ada nada sambung.
"Ah mungkin mbak Minah lagi sibuk dengan bayiku," pikirku kemudian.
Jalanan terasa lambat sampai tujuan. Sore begini jalan macet total. Aku jadi khawatir dengan anak-anak ku. Stok susuku sepertinya habis. Dan pasti meteka rewel. "Maafkan aku nak. Kenapa aku jadi teledor begini?"
Hari sudah mulai gelap. Tibalah kami di apartemen. Mas Luki tak sabar ingin memeluk bayi kembarnya. Akupun tergesa-gesa ingin segera tiba.
__ADS_1
Saat naik lift di lantai dua, suasana apartemenku sepi. Lampu lupa tak dinyalakan. Hatiku mulai tidak enak. Mas Lukipun demikian.
Aku segera menekan sandi untuk masuk ke dalam, dan berhasil. Kunyalakan lampu di. pojok ruangan dan kupanggil nama mbak Desi, nama perawat itu.