My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Terjebak


__ADS_3

Aku semakin inten merawat diri. Si kembar juga semakin pintar sejak bertambah usianya. Tampan seperti ayahnya. Hampir tidak mirip denganku.


Seperti biasa, di akhir pekan aku pergi ke salon untuk spa, facial, manipedicure, dan tentu saja luluran dengan aroma terapinya yang kusuka. Salin kecantikan "x" pelayanannya memuaskan. Walaupun ditangani setengah makhluk jadi-jafuan, tetapi aku suka.


"Hallo neng Lisa, akhirnya datang juga. Sudah lama Mince menantimu, lho, " katanya dengan nada dilembutkan dengan gayanya yang lemah gemulai.


"Oh ya... abang menantikanku?" tanyaku sambil tertawa. Ada-ada saja karyawan merayu pelanggan.


"Iya... masa boong sih," pelototnya sambil tangannya menyebutkan lenganku dan matanya mengerling. Rambut blondo nya terurai di pundaknya. Aku tahu ia memakai rambut palsu. Kalau wajahnya sich natural, hanya di bagian mata dan bibir yang sensual.


"Eh... neng Lisa, ike kemarin ketemu Mak Lampir lagi loh, masa sih mulutnya pedas sepedas cabe rawit. Ike dimarahin tau. Padahal ike gak berbuat salah," kata Mince kesal.


Aku tertegun sesaat, siapa gerangan mak Lampir itu? Dengan santai aku berkomentar, "memang yang mana mak Lampir itu? Maaf aku gak hafal, " kataku bodoh.

__ADS_1


"Itu loh neng Lia. Ia demen banget marah-marah jika ke sini kayak kesambet setan." Mince berkata panjang lebar sambil meremas rambutku.


"Aduh pelan dong, Bang!" teriakku.


"Ih... dibilang panggil mince, si eneng ngeyel sih, " gerutunya. Akupun tersenyum melihat kelucuannya.


Lebih dari dua jam aku berada di salon Mince. Dari Mince aku tahu kalau Lia itu menjadi wanita simpanan Om-Om, gak tahu siapa itu. Aku tersenyum sinis, ternyata dia kaya mendadak, sebabnya seperti itu.


Saat aku pulang, tiba-tiba bahuku disentuh seseorang. Albert?? Aku serasa mau pingsan melihat pria di belakang saat aku menatapnya.


"Iya, ini aku. Albert, pria di masa lalumu. Apa kabar, honey?" Senyumnya membuatku... ah tidak!! Walaupun ia memiliki pesona yang kuat, aku harus bisa menahan agar tak tergoda, aku sudah punya mas Luki.


"Sedang apa kamu di sini? " tanyaku penuh selidik. Aku takut Albert akan berbuat jahat padaku.

__ADS_1


Yang ditanya hanya diam mematung. Dan ia pun berdehem. "Aku menunggu seseorang. Ia orang yang spesial untukku, " ucapnya tanpa berkedip memandangku.


"Oh ya... syukurlah kalau begitu. Akhirnya kamu bisa move on dariku," kataku basa basi.


Albert tersenyum melihat reaksiku. Tiba-tiba dari arah depan seorang yang familiar di telingaku, memanggil Albert.


"Sayang...! " teriaknya. Aku melongo melihat siapa yang datang. Lua?? Jadi ia adalah... Oh no... "


Lia tertegun dan kaget melihat kami bertemu dan berbicara akrab. Dari sorot matanya ia tidak suka aku ada di sini. Aku pun tersenyum. "Ah seleramu tinggi juga, Lia, " kataku dalam hati. Albert memandangku bergantian dengan Lia. Seolah ingin pamer, Lia menggandeng Albert.


"Eh kamu... wanita sombong, jangan coba-coba dekati pacarku ya," bentak Lia sambil memeluk Albert. Albert terlihat tidak nyaman tetapi ia menyembunyikan dariku. Ia pun tersenyum mengejek.


"Waw... tak perlu khawatir Lia, aku gak akan menggodanya, lagian suamiku lebih tampan dan gagah dari pada orang ini, " kataku sinis.

__ADS_1


Aku melirik ke arah Albert dan berlalu. Sontak wajah Lia merah padam, dan Albert merasa diremehkan. Mukanya memerah seperti kepiting rebus. Aku pun berlalu, dari hadapan mereka. Hari ini aku puas mempermalukan Albert dan wanita ganjen itu.


"Kau... awas ya!" teriak Lia.


__ADS_2