
"Mas kerja dulu ya sayang.. " Luki mengecup keningku dengan pelan dan ke perutku. Ah ...romantis banget. Aku menyukai moment itu.
"Iya.. sayang, pulangnya jangan malam- malam, aku kesepian, " ujarku sambil membenahi letak dasi mas Luki.
"Hmmm.. kamu pasti gak betah ya sendirian? " godanya.
Aku cemberut saja.
"Itu mas tahu.. aku gak punya teman di sini."
"Kamu boleh kok jalan-jalan keluar, belanja atau apa."
"Beneran mas membolehkan? " tanyaku ragu.
"Iyalah masa mas bohong sih.. " Dia menjawil daguku gemas.
"Makasih ya sayang." Aku buru-buru mencium pipinya.
Setelah pamit, mas Luki menuju ke garasi untuk menyalakan mobilnya.
Dan aku mulai beres-beres kamar. Sejenak aku duduk bersandar di tempat tidur. Aku merasa mual lagi, morning sickness sungguh menyiksaku.
__ADS_1
Terasa begitu lemas, kuurungkan untuk jalan-jalan ke mall. Hari ini kuhabiskan waktuku untuk berbaring sambil lihat- lihat Shopee yang sedang diskon besar- besaran.
Belum berajak dari Shopee, Tiba-tiba gawaiku berdering. Tak ada nama di sana. Aku mulai ragu untuk menerima panggilan itu.
Pelan ku angkat ponsel itu.
"Hallo... " sapaku pendek.
"Hallo juga.. "
"Suara itu... !"seruku. Albert..
" Kaget ya... sayang, " katanya ngawur.
"Tenanglah say.. O iya sejak ketemu kamu, aku gak bila lupa. Ingat kamu terus, sepertinya aku masih jatuh cinta ma kamu Lis. "
"Jangan berharap lebih, Bert. Kamu sudah melakukan kesalahan di masa lalu, kenapa kamu mau kembali padaku di saat aku sudah milik orang lain? " tanyaku berapi-api.
"Iya aku salah waktu itu. Bisakah aku miliki kamu kembali? "
"Apa? " Sudah gila ya kamu? " Kututup telponku dengan kesal. Dan kumatikan ponselnya.
__ADS_1
"Albert.. kamu membuatku tak tenang. Apa yang harus aku lakukan?" Terus terang ke mas Luki, kayaknya malah bertambah runyam nanti masalahnya.
Bisa-bisa stres aku. Segera kubersihkan tubuh ini dan berganti baju yang agak longgar agar janinku bebas bergerak. Aku berniat jalan - jalan untuk mengusir penat.
Aku menutup pintu rapat dan masuk ke dalam lift menuju lantai satu.
"Ah akhirnya bisa keluar juga," kataku dalam hati.
Aku segera memesan taksi dan tidak lama akupun meluncur ke mall tempat favorit ku.
Tempat yang pertama kusinggahi adalah pakaian bayi. Di rak baju-baju mungil itu bergantung. Aku tak sabar membelinya.
"Ups ...bukankah usia kandunganku masih 3 bulan," desahku pelan. Tetapi segera kutepis anggapan pamali itu. Aku harus mengirim video ini untuk mas Luki. Pasti ia senang melihatku ke sini.
"Ting... video sudah kukirim untuknya. Tinggal tunggu balasan. Jam segini biasanya jam istirahat. Sambil nunggu balasan dari mas Luki, aku berkeliling naik lift ke lantai 2.
Aku harus istirahat sejenak dengan minum orange juice di depan itu. Resto mini yang menyajikan makanan cepat saji ada di depanku.
Setelah pesan minuman aku duduk sembari melihat ponselku. "Ah.. mengapa mas Luki tidak membalas kiriman videoku," kataku keheranan.
Ketika hendak mengetik sebuah pesan, ada telpon masuk. Sepertinya aku kenal nomor ini. "Ya.. ini nomor Albert. Mau ngapain sih ia menelponku terus?" Tiba-tiba aku kehilangan mood. Aku harus matikan ponsel ini sementara waktu.
__ADS_1
Aku jadi pingin cepat pulang. Aku merasa diriku terancam dengan terornya.