My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Albert tertangkap


__ADS_3

Polisi mengintrograsi mbak Desi dengan berbagai ancaman jika ia bohong.Mas Luki juga membantu polisi untuk melancarkan penyidikan, sedangkan aku masih trauma di apartemen. Aku shock berat kehilangan dua putra kembarku. Sudah satu hari bayi kembarku belum ditemukan.


"Nyonya... makan dulu, nanti nyonya sakit," ucap pelayan. Sengaja mas Luki memberikan pelayan untukku agar aku tak stres berat mikirin anak-anakku. Tetapi pelayan itu malah membuatku pusing, tiap kali mengetuk pintu kamarku memastikan aku baik-baik saja.


"Taruh di meja saja, mbak. Aku juga nanti makan. Maaf aku gak mau diganggu, tolong tutup pintunya kembali kalau sudah, " kataku datar.


"B.. baik nyonya." Pelayan itu langsung pergi dari hadapanku.


Kuraih ponsel untuk menghubungi Albert. Barangkali sekarang sudah on. Dengan lincah aku menekan nomor ponsel Albert. Mungkin dengan aku menelponnya, ia mau mengangkat telponku.


Nada panggilan tersambung di sana, tetapi tak diangkat. Kuciba lagi menekan nomor ponselnya. Sama... kedua kali ia tak mengangkatnya.


"Kamu kejam Bert, sudah merusak kebahagiaan ku," rutukku dalam hati.


Tiba-tiba ponselku berdering. Segera kuambil ponsel di atas meja yang tadi kuletakkan. Aku mengerutkan kening, nomor yang tak kukenal menelponku.


Segera kuangkat, siapa tahu ada informasi penting dengan bayiku.


"Hallo... " ( suaraku serak saking banyaknya air mata yang tak berhenti)

__ADS_1


"Hallo... Lis, aku Albert."


"Bert... kamu tahu kan posisi bayiku, tolong kembali kan bayiku, aku gak bisa hidup tanpa mereka."


"O ya... kenapa kau begitu yakin bayiku ada di tanganku?"


"Aku yakin dan tahu, kamu begitu menyayangi bayiku. Desi yang sudah menghilangkan bayiku. Itu perintah kamu kan?"


"Kalau iya kenapa? kita impas, kamu bahagia dengan Luki. Aku bahagia dengan anakmu!"


"Jangan ngawur, Albert. Cepat kembalikan bayiku, kamu gak berhak memilikinya!"


dan "tuut..." telpon terputus.


semua barang yang ada di kamar kuhancurkan, hingga bunyi keras terdengar sampai dapur. Aku teriak histeris sambil menangis...


"Albert sialaan...!" Kembalikan bayiku... ba..... n!"


Aku kesal dan menjambak rambutku sebagai wujud kesal pada diriku sendiri. Terlalu percaya ma Albert. Ternyata kebaikannya ada maksud tersembunyi.

__ADS_1


Pelayanku tiba-tiba mengetuk pintu kamar, ia panik mendengar jeritanku.


"Keluar, jangan mendekat... aku tak ingin diganggu!" teriakku.


Pelayan itu buru-buru lari ke dapur.


Tak lama kemudian suamiku datang. Ia begitu kasihan melihat keadaanku. Mungkin pelayanku menelponnya hingga mas Luki datang.


"Kamu kenapa sayang?" mas Luki memelukku erat. Aku masih menangis di pelukannya. Penampilan ku tak karuan, rambut acak-acakan dan baju basah dengan air mata.


"Kamu sabar ya. Anak kita pasti ketemu, kita berdoa saja," ucap mas Luki pelan dan menghiburku.


"Benarkah mas?" Aku menatapnya tajam. Kulihat kesungguhan di mata suamiku.


"Desi sudah mengakui perbuatannya. Pelaku dalam penculikan anak kita adalah Albert." Polisi sedang memburunya.


Aku terpana kaget. Belum lama ia menelponku, sekarang polisi sedang mengejarnya. Apakah aku harus ngomong ke mas Luki?


"Mas... tadi ia telpon dan mengatakan kalo bayi kita adalah menjadi miliknya sebagai ganti karena ia tidak bisa memilikiku." Aku terbata menyampaikan ini pada suamiku. Mas Luki melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Berarti benar, ia pelakunya. Dasar laki-laki gila, semoga membusuk di penjara," maki suamiku. Aku terdiam, masih belum bisa mencerna pikiran Albert itu.


Setelah dua jam berlalu, mas Luki ditelpon polisi kalau Albert sudah tertangkap. Aku bahagia sekali dan tak sabar melihat bayi kembar kami.


__ADS_2