My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Teror


__ADS_3

Aku lebih sedikit tenang, karena bayiku sudah kembali. Albert yang asli masih dalam pengejaran polisi. Aku dan Mas Luki berharap Albert ditemukan, agar tidak mengganggu kami.


Mas Luki kembali bekerja seperti biasa. Ia disambut teman sekantornya dengan bahagia. Bagaimana pun juga Mas Luki orang yang berpengaruh di perusahaan nya.


"Wah... akhirnya kamu pulih kembali, semangat ya Boz... " kata Joni. Ia adalah teman sekaligus asisten pribadinya.


"Makasih... anyway tolong laporan berkas yang belum kutandatangi bawa ke sini segera, karena kita mau meeting siang hari nanti." Mas Luki memberi perintah. Ia tak mau keteteran sejak ia cuti sakit kemarin.


"Baiklah... tunggu sebentar," ucapnya sambil pergi berlalu di hadapan Mas Luki.


"Ah... semangat benar aku ini... masalah penculikan sudah selesai, walaupun pekaku sebenarnya melarikan diri."


Ia mengirim pesan padaku agar jangan lengah menjaga Hendri dan hendra. Karena Albert sewaktu-waktu akan mengambil anak itu."


Aku membalasnya dengan singkat, karena kesibukanku di dapur, sementara bayi kembarku tertidur di kamar.


Hari-hari ku begitu menyenangkan. Aku merasa keinginan dalam hidupku sudah lengkap, diberi suami yang setia, anak yang lucu-lucu, dan kehidupan yang mapan. Tidak semua orang mampu sepertiku.

__ADS_1


Setelah selesai memasak makanan kesukaan suami, aku lanjut beres-beres rumah, mumpung si kembar tidur. Kunyalakan musik "kotak" kesukaanku dari tape, agar aku semangat kerjanya.


Ternyata menjadi ibu rumah tangga begini rasanya, sama lelahnya dengan kerja di luar. Kuseka keringat yang menempel di dahi. Samar kudengar suara tangis bayi di dalam kamarku. Aku matikan musik dan berjalan tergesa ke kamar.


Aku membuka pintu kamar, dan ternyata si kembar bangun. Mereka menangis bersahutan. Aku jadi bingung, tetapi aku mencoba setenang mungkin. Kata orang dalam menangani anak harus dengan perasaan.


Ternyata mereka ngompol, aku tersenyum lega. "Ngompol ya sayang, ayo ganti popok dulu." Dengan cekatan aku menghilang air hangat dan menaruhnya di ember. Segera kebersihan kain yang kotor dan kugsnti yang baru. Hendra kecil tersenyum kearahku, sementara Hendri masih menangis karena belum diganti popoknya.


"Sabar ya sayang, satu satu. okey... " aku lirik Hendri dengan senyuman. Segera membersihkan bekas ompolnya dan tak lupa menggantinya dengan popok yang baru. Badan mereka harum sekali, setelah kubalurkan minyak telon di perutnya.


Tiba-tiba suara telpon berbunyi. Segera kuletakkan bayi kembarku di box bayi dan aku mengambil ponselku yang berdering.


"Nomor tak dikenal," gumanku dalam hati.


Dengan hati berdebar, aku mengangkat panggilan masuk itu.


"Hallo..."

__ADS_1


Tak ada jawaban


Aku semakin panik dan melihat bayiku yang kembali tertidur pulas.


Segera kumatikan ponselku, karena menggangguku. Pekerjaanku belum tuntas, aku harus menyelesaikannya sekarang juga.


Saat ingin melangkah keluar kamar, sekelebat bayangan berjalan mengendap di bibir jendela kamar. Aku terkesima kaget. Jantungku naik turun. Dengan tangan gemetar, aku memegang sapu, untuk melindungiku.


Aku berjalan mengendap kearah jendela, dan mataku melihat ada siapa di luar sana. Aneh tak ada siapa-siapa. Apa aku berhalusinasi saja?


Ah sudahlah, mungkin aku salah lihat. Aku membalikkan badan, tetapi secara tiba-tiba ada suara pecahan kaca di jendela kamarku. Aku terkaget dan menoleh ke belakang.


"Siapa itu??" teriakku. Dengan sisa keberanian, aku membuka jendela dengan hati-hati. Serpihan kaca tak kuhiraukan kalah dengan penasaran.


Aku melihat ke samping kanan dan kiri. Tak ada yang mencurigakan. Setelah itu aku melongok ke bawah, kebetulan apartemenku ada di lantai dua. Sepi tak ada yang mencurigakan juga. Di sana tertata rapi deretan mobil terparkir di halaman apartemen.


Aku menghela nafas. Sebelum akhirnya aku menghubungi Mas Luki tentang kejadian aneh ini.

__ADS_1


__ADS_2