My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Pak Rendi Ditangkap


__ADS_3

Aku semakin curiga dengan keadaan aneh di taman belakang. Dengan ditemani Siska, ia menyelidiki sesuatu di belakang rumahnya. Tak ada kejanggalan di tempat itu.


Pohon Mangga yang rimbun dan di sampingnya rerumputan liar yang menjulang, seperti tanaman sereh. Di sekitar Taman, berbagai tanaman bunga juga tumbuh liar dan tak terawat.


Ada satu tanaman mawar yang tumbuh segar dan rimbun daunnya. Sita mendekati tanaman mawar itu. Dipetiknya satu dan diberikan pada Siska, lalu ia memetik satunya lagi. Dan dihirupnya pelan. Saat mengangkat tangan untuk mencium bunga merah merekah itu, tak sengaja kakiku menginjak sesuatu yang keras. Ia menunduk dan jongkok.


Sebuah papa kayu yang sudah mulai lapuk. Aku memungut benda pipih itu, dan diamati ada goresan cat yang bertulis nama seseorang. Siska yang ada di sampingnya ikut mengamati benda seperti papan kayu itu.


"Menurutmu ini apa?" tanyaku kepada Siska terdiam sejenak, lalu ia berkata," Seperti papan nama orang yang sudah meninggal.


Aku terbelalak kaget. Apa yang dikatakan Siska benar. "Papan nama orang yang sudah meninggal, tetapi siapa yang dikubur di sini?" tanyaku kemudian.


Siska mengamati papan dari kayu itu. Dan ia pun kaget. "Bu, lihat ini sepertinya ada tulisan nama seseorang," ucap Siska.


Aku membersihkan papan kayu tersebut, dan terlihat jelas nama yang ditulis di sana. "Rama... iya Rama tulisan nama itu."


"Berarti orang yang dikubur di sini bernama Rama," kataku. Siska pun terkejut bukan main. Tiba-tiba aroma bunga mawar kembali menyengat.


Aku dan Siska berpandangan dan segera pergi terburu-buru dari tempat itu.


"Sis, gimana perasaanmu saat ini, apakah kamu takut tinggal di sini?" tanyaku. Aku pasrah jika Siska mengundurkan diri bekerja di rumahku.


"Saya takut, Bu. Tetapi saya akan tetap menemani Ibu di sini."


"Makasih ya, Sis. Aku memang butuh teman di rumah ini. Setelah bukti-bukti kuat adanya ketidakberesan, aku menunggu Mas Luki pulang.


Tepat pukul lima sore Mas Luki pulang ke rumah. Aku menyambutnya dengan lembut, melepaskan dasi dan sepatunya. Mas Luki tersenyum dan menatapku intens.


"Makasih ya sayang... kamu bikin aku tambah cinta," kata suamiku sambil tersenyum penuh arti."

__ADS_1


"Aku sepatutnya melayani suamiku dengan sepenuh hatiku, nanti setelah makan malam ingin aku membicarakan sesuatu yang penting sekali."


"Apa itu, sayang?" tanya Mas Luki penasaran.


"Nanti lebih jelasnya, tentang rumah ini dan keanehan yang terjadi di rumah ini. "


"Oh... itu, kamu masih memikirkannya? "


Aku mengangguk pelan. Aku melihat raut muka suamiku tidak bersemangat.


"Ya sudah, kamu mandi dulu, akan kusiapkan baju ganti dan makan malamnya."


"Ya... aku akan segera mandi, cukup melelahkan masalah di kantor tadi. "


Mas Luki berjalan menuju ke kamar mandi. Guyuran air di shower membuat tubuhnya segar kembali. Banyak masalah di kantor membuatnya pusing tujuh keliling.


Makan malam yang hening, menyelimuti kami di ruang makan. Baby sitterku mengajak kedua anaknya bermain di ruang kamarnya.


"Maafkan aku, Lis membawa permasalahan kantor ke rumah. Oh iya, tadi kamu mau cerita apa?" Mas Luki menyudahi makan malamnya. Aku tidak mood untuk bercerita saat ini, karena muka masam suamiku mewakili kalau saat ini suasana hatinya tidak nyaman. Tetapi karena ditanya soal penyelidikan, mau tidak mau aku menceritakan penemuannya dari taman belakang rumah.


"Aku menemukan ini Mas." Aku mengambil sesuatu dari dalam bufet dekat meja makan. Ia menyerahkan benda itu kepada suaminya. Kening Mas Luki berkerut.


"Ini seperti papan nama papan orang yang sudah meninggal. Kamu menemukan di mana?"


"Tadi di taman belakang dekat bunga mawar yang rimbun bunganya. Tadi juga saat aku memetik bunganya tercium aroma wangi mawar yang sangat menyengat. Aku dan Siska buru-buru menyudahi penyelidikan ini karena takut."


Mas Luki mengerutkan keningnya. Ini penemuan yang sangat penting untuk mengungkap misteri keganjilan di rumah mereka, tentang Prita dan Pak Rendi.


Esok harinya Mas Luki memanggil tukang untuk menggali tanah yang ada di dekat tanaman mawar.Dalam beberapa menit mereka terbelalak kaget. Mereka menemukan tulang manusia yang sudah hancur. Dengan tangan gemetar mereka menyelesaikan penggaliannya dan membungkus tulang-tulang tersebut di dalam plastik.

__ADS_1


Aku, Siska, dan Luki bergidik ngeri menyaksikan pemandangan di depan mereka. Kemungkinan mayat dikubur secara paksa oleh pelaku, karena di sana tak ada kain kafan yang melindunginya. Pantas saja arwahnya gentayangan dan menghantui penghuni rumah itu, termasuk Aku dan Mas Luki.


Kami berunding di ruang tamu dan akan melibatkan polisi untuk penanganan masalah ini. Urusan Pak Rendi sekarang menjadi urusan kami karena rumah itu sudah menjadi milik kami, berarti tanah dan pekarangannya milik Dika dan Sita.


Terlihat Mas Luki menelpon seseorang. "Kamu cari Pak Rendi dan tangkap dia dan serahkan ke polisi untuk penyelidikan."


"Baik Tuan, akan saya laksanakan perintah Tuan."


Dan klik... panggilan terputus.


Mas Luki segera memanggil anak buahnya, tak perlu waktu lama, mereka sudah meringkus Pak Rendi.


Wajah Pak Rendi sangat tegang, dan ada aura ketakutan di sana. Pak Rendi tak berkedip menatap kami.


"Siapa kalian sebenarnya, kenapa kalian menangkapku?" tanya Pak Rendi menahan amarah. Mas Luki tersenyum sinis kearahnya.


"Saya gak bisa ditipu dengan kelicikan Bapak. Tentang Prita yang bunuh diri, teror Prita sebelum meninggal, dan taman belakang yang selalu berbau wangi. Ternyata ada mayat yang dikubur tak wajar di sana. Saya sebagai pemilik baru rumah itu merasa terganggu, makanya saya tuntut anda karena melakukan pembunuhan berencana."


"Sialan, kenapa kamu menuduhku seperti itu? Orang yang meninggal itu saudara laki-lakiku..." Pak Rendi keceplosan bicara. Ini sebuah titik terang untuk melanjutkan penyelidikan.


Wajahnya berubah pucat seketika. Polisi mengintimidasi dan mengorek keterangan tentang Prita yang katanya bunuh diri, keponakannya, dan ayah Prita yang terkubur di belakang rumah kami.


Setelah polisi dan Mas Luki memberitahu informasi penting yang mengarah ke pelaku kejahatan pembunuhan, akhirnya Pak Rendi dinyatakan tersangka atas kasus pembunuhan berencana dan perebutan harta warisan.


Pak Rendi menangis meraung-raung tidak terima dengan nasibnya yang berakhir di balik jeruji.


Kami tersenyum puas sudah membantu polisi mengungkap misteri di rumah bergaya klasik itu. Sedangkan Pak Rendi dan orang kepercayaannya di penjara seumur hidup.


Kejahatan, keserakahan akan ada balasannya di akhir nanti. Itu yang menjadi pengingat kami untuk selalu berbuat baik terhadap orang sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2