My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
mbah minah yang misterius


__ADS_3

Hari-hari aku lalui bersama mbah minah yang menemaniku. Orangnya cukup sopan, cenderung pendiam dan jarang senyum. Tetapi hal itu tak membuatku protes akan pilihan Luki. Toh pada akhirnya mbah minah memang bekerja untuk kami.


"Mbah.. masak apa hari ini?" tanyaku basa basi.


"Ini non.. semur daging kesukaan pak Luki," jelasnya. Mbah Minah tanpa menolehku, ia terus memasak, sampai aku tak dihiraukannya. Baiklah, aku melenggang pergi dari hadapannya.


Setelah menegur mbah Minah, aku langsung masuk kamar. Pikiranku mulai menebak- nebah, siapa sebenarnya mbah Minah itu? Kenapa ia hafal sekali makanan kesukaannya? Apa ia sebenarnya kerabat atau orang terdekat suamiku?


Pikiranku betputar-putar tak karuan. Nanti akan kutanyakan langsung pada suamiku.


Aku merebahkan diri. Perutku semakin buncit. Di saat rebahan, ada seseorang mengetuk pintu kamarku.


"Siapa?"


"Saya non... "


Ah... aku ini kenapa sih.. jelas-jelas yang ada di apartemen ini aku dan mbah Minah.


"Masuk mbah, pintu gak kukunci!" tetiakku. Aku malas berjalan, seluruh badanku berat.


"Apa yaang terjadi non? Non sakit?" Tiba-tiba Mbah Minah khawatir dengan kondisiku. Aku menjadi heran, tetapi kuabaikan saja perubahan sikapnya. Aku memilih tetap tiduran sambil dengerin musik.


"Agak pusing, Mbah... mungkin kurang vitamin," jawabku asal. Aku tahu penyebab pusingku akhir-akhir ini karena pengaruh hormon.

__ADS_1


"Apa perlu saya belikan obat?" tawarnya.


"Gak usah mbah. Nanti juga sembuh kok. Lagi pula aku gak boleh sembarang minum obat."


Aku menatap mbah Minah menunggu reaksinya. Mbah Minah menunduk dan meminta ijin keluar dari kamarku. Aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya. Diapun bergegas keluar.


"Wanita aneh," gumanku dalam hati. Iseng aku buka ponsel dan menelpon mas Luki.


"Tut..... tut..."


"Hallo..."


"Hallo mas..."


"Aku bete di rumah."


"Memang kenapa, mbah Minah kenapa gak menemanimu?"


"Tidak... "


"Apa, bukannya aku suruh dia menemanimu di saat aku kerja."


"Gak tau tuh.. orangnya aneh, aku kadang jadi serba salah mau menegurnya."

__ADS_1


"Ya sudah... nanti pulang kerja aku sampaikan ke mbah Minah."


"Okey.. bye.. "


Aku letakkan lagi ponsel di atas nakas, dan selanjutnya aku tidur. Belum sempat kupejamkan mata, suara gaduh terdengar di dapur.


"Siapa sih mengganggu tidur siangku?"


Saat aku mau beranjak dari tempat tidur, terdengar pintu kamar diketuk orang.


"Ini pasti mbah Minah lagi," gerutuku.


Aku segera menuju ke depan pintu dan saat kubuka, alangkah terkagetnya aku, karena Mbah Minah sudah berlumuran darah.


"Mbah... mbah Minah!" teriakku sambil duduk lemas memeluk mbah Minah. Mbah Minah pingsan seketika.


Aku menggigil ketakutan. Aku merasa nyawaku terancam. Suara langkah kaki mendekati kami. Aku panik dan lari ke dalam kamar. Aku lupa kalau perutku sudah membesar. Yang penting aku selamat.


Setelah menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya, aku bersembunyi di balik lemari. Suara langkah kaki itu semakin mendekat, aku ingat ponsel yang ada di atas nakas. Dengan berlari dan nafas terkenal, aku mengambilnya dan kembali bersembunyi di balik lemari baju.


Tiba-tiba pintu digedor keras. Aku semakin panik. Dengan tangan gemerar, kutekan nomor telpon suamiku dan polisi.


Beberapa kali nomor Luki gak bisa dihubungi. Aku tak pantang menyerah. Kukirim pesan di ponselnya. Aku gemeteran. Badanku lemas dan tak bertenaga. Apakah maut akan segera menjemputku? Aku tak putus-putus berdoa.

__ADS_1


__ADS_2