
Setelah semua beres, kamipun berangkat untuk makan malam di tempat favorit kami. Tak lupa aku mengajak Bi Minah, agar bisa membantu menjaga si kembar, karena tempatnya cukup ramai.
Suasana malam, apalagi libur akhir pekan ramai orang jalan atau refresing melepas penat, setelah seharian bekerja.
Wajahku sumringah ketika bisa mengajak suami dan anak-anakku makan di luar. Ada kebahagiaan tersendiri.
"Kenapa senyum-senyum sendiri, Ma?" tanya Mas Luki heran.
Aku menatap kearahnya, dan menyahut, " aku senang sekali bisa keluar bersama suami dan anak-anakku. Aku bahagia dengan moment ini Mas."
"Oh... aku lega kamu bisa sebahagia ini."
__ADS_1
Mas Luki tetap fokus melakukan mobilnya menembus kemacetan jalan.
Hampir satu jam perjalanan, kamipun sampai di sebuah restauran cepat saji yang ramai pengunjung. Lampu kerlap kerlip di serambi depan Restaurant menarik si kembar. Kedua tangannya menunjuk-nunjuk dengan suara cedalnya. Mas Luki langsung memarkir mobilnya dan menggendong Hendra, sedangkan Bi Minah menggendong Hendri.
Kami memilih duduk di ujung, biar si kembar lebih aman. Seorang waitress datang dan menanyakan pesanan kami. Segera aku memesan makanan sesuai selera kami masing-masing. Hendri dan Hendra kupesankan es krim dan kentang goreng. Nampak Si kembar senang sekali. Akupun senang melihat tingkah mereka.
Saat kami asyik dengan makanan kami, tiba-tiba ada yang menyapa suamiku. Kamipun terkejut siapa yang menghampiri kami. Kemudian terlihat Mas Luki biasa saja. Aku yang terlihat tak suka dengannya.
"Hai... Luki pakabar? Oh ini to istrimu?" Wanita itu yang ternyata Lia, melirik ke arahku dengan pandangan mengejek. Mas Luki melirik sebentar ke arahnya dan berkata, "Iya ini istri dan anakku. Pakabar kamu?" tanyanya sambil meneguk coffe panas.
"Oh syukurlah kalau begitu," jawab Mas Luki dengan tenang. Ia melirik kearahku. Aku mencoba cuek, tetapi tak bisa. Wanita di depanku membuat moodku hilang.
__ADS_1
"Ya sudah, aku permisi ya... Maaf mengganggu makan malamnya. Lua pun segera berlalu. Tetapi sebelum melangkah pergi, tiba-tiba kakinya terkilir. Sepatu hak tinggi yang menjadi penyebabnya. Spontan Mas Luki menopang tubuhnya yang hampir saja jatuh.
Reaksiku berubah. Wajahku merah padam. Tanpa mereka sadari mereka berpelukan. Lia sengaja berlama-lama di pangkuan suamiku. Dasar wanita penggoda!" rutukku dalam hati.
"Mas!" setuju penuh penekanan. Mas Luki baru tersadar atas apa yang terjadi. Ia pun buru-buru melepaskan Lua dari pangkuannya. Lia tersenyum penuh kemenangan. Ia melirik kearahku. Sukses membuatku marah.
"Kamu hati-hati Lia," kata suamiku. Ia menatap Lia sekilas dan memandangku penuh dengan permintaan maaf.
Hendra yang melihat langsung bertanya, " Eh Tante ciapa namanya, kok pegang-pegang papa?"
Aku segera tanggal. Namanya Tante Lia, Nak. Ia gak sengaja terkilir kakinya dan papa menolongnya," kelasku. Aku masih memiliki otak bersih untuk menjelaskan pada Hendra anakku.
__ADS_1
Sontan Lia malu dan ngibrit pergi. Dasar wanita tak tahu malu... Bi Minah pun gemas lihat perilaku Lia. "Nya... itu wanita genit banget, ya... dih amit-amit, " katanya.
Mas Luki menjadi gak enak hati. "Sudah gak usah dipikirkan, yuk lanjutkan makan kalian." Ia melirikku sekilas. Ada rasa menyesal di wajahnya. Akupun membuang muka mengusir rasa cemburuku.