
Kami terpaksa pindah dari apartemen itu, karena teror tak berujung. Setelah survey ke tempat yang ditunjukkan temanku, kami sepakat tinggal di sana. Penghujung desa, pinggiran kota Jakarta.
Rumah sederhana dengan empat ruang di dalamnya, terdiri dari ruang tamu, ruang tidur, ruang masak plus ruang makan, dan kamar mandi. Walaupun kami belum terbiasa di tempat yang sempit, kami harus terbiasa agar kami akan dari teror Albert.
Warga di sekitar rumah juga cukup ramah. Mereka menyambut kami dengan hangat. Malah salah satu diantara mereka membawakan makanan sebagai tanda perkenalan. Namanya Bu Rina.
Aku semangat beres-beres rumah hari ini. Mas Luki kembali bekerja, walaupun jarak antara rumah dan kantornya lebih jauh, kami tetap senang, minimal terbebas dari teror di apartemen kemarin.
Hendra dan Hendri yang sudah menginjak satu tahun, mulai aktif berjalan ke sana kemari. Aku jadi kewalahan mengurus mereka.
Kata Mas Bayu gak perlu memasak atau mencuci jika aku capek, yang penting anak terurus. Aku sih mengiyakan saja. Aku terbiasa sibuk dan gak bisa lihat rumah berantakan.
Sambil nunggu bermain, aku mengelap meja kursi, almari, bufet hingga kamar mandi kubersihkan. Maklum sudah setahun rumah ini kosong tanpa penghuni, jadi banyak debu dan tanaman luar di luar rumah tumbuh tak terawat.
Sudah dya jam aku berkeliling membersihkan rumah. Tinggal memasak saja. Jam dinding sudah menunjukkan angka 11 siang.
Ya ampun aku sampai lupa belum masak, jalan satu-satunya ya pesan lewat online, karena isi kuljadku juga kosong melompong belum sempat belanja di tukang sayur. Kata bu Rina tukang sayur lewat agak siang. Mungkin aku asyik beres-beres rumah tadi, jadi gak belanja dah.
__ADS_1
Tinggal klik setengah jam kemudian pesananku datang. Segera kuambil dan kubayar biayanya. Menu nasi, sambel, lalapan plus ikan mas goreng kesukaanku.
Aku segera melahap makanan di atas meja tanpa sisa. "Air s..u" harus terisi penuh. Punya dua bayi membuatku cepat lapar dan harus porsi besar. Suamiku sudah tahu tentang ini, makanya dia diam saja jika aku makan di luar kebiasaanku.
Sudah jam 12 siang, hawanya panas banget. Si kembar sempat rewel dan kuajak mereka duduk-duduk di taman kecil di belakang rumah.
Ternyata pemandangan di belakang rumah sangat indah. Rumah kami yang terletak di pinggiran bukit kecil menambah indah pemandangan di sana.
Dan rimbunan pohon ketapang dan semak-semak yang terlihat hijau disertai semilir angin membuatku betah berlama-lama di sana.
"Hallo babyku... pakabar kalian?"
"Pa.. Pa.. Pa..." (Mereka tergelak memanggil papanya)
"Baik, sayang... tebak kami ada di mana? " ( kuputar kameraku ke sekeliling taman)
" Di mana itu, kok papa baru tahu?" ( dia penasaran lihat obyek di belakang kami)
__ADS_1
"Di belakang rumah, Mas. Aku lagi ngadem ma baby kita..." ( aku sengaja pamerin ke suamiku, agar cepat pulang)
"O ya... sepertinya aku harus segera pulang nih."
" Oke... kutunggu ya, sayang... mmuuuah! "
Kuakhiri video call bersama suamiku. Si kembar duduk di lantai sambil memainkan ranting pohon. Saat ingin berfoto selfie terdengar ketukan pintu dari ruang tamu. Akupun bergegas masuk untuk membukakan pintu.
*
penasaran cerita seru selanjutnya?
siapa kira- kira tamu Lisa di siang bolong ya, apakah Bu Rina tetangganya atau..
nantikan episode selanjutnya ya ...
salam manis dari author "Tri asih"
__ADS_1