
Luki menatapku lekat. Seperti tak mau lepas dariku, Luki berbisik, "Aku senang bisa menikahimu Lis.. semoga anak kita sehat ya."
Aku memandang suamiku tak berkedip. Ada rasa bersalah memburu di dadaku. "Apa yang harus aku lakukan?" tanyaku dalam hati.
"Mas.. maafkan aku ya, jika selama ini aku kurang perhatian ma kamu," kataku hati-hati.
"Emang kamu kurang perhatian? Aku sudah bersyukur memiliki istri seperti mu." Aku menatapnya lekat. Ada setitik bening keluar dari sudut mataku. Ah kenapa cepat sekali keharuan ini memuncak?
Aku langsung memeluknya tanpa aba- aba. " Kamu kenapa sih, sayang? gak biasanya seperti ini? apa pengaruh calon baby kita ya," ucap Luki sambil memegang perutku. Ada damai di sana. Getaran itu cukup memberikan tanda bahwa janinku lagi berinteraksi dengan ayahnya.
"Sayang.. tadi aku mau kirim video saat di mall. Tetapi kamu gak angkat-angkat, " kataku merajuk.
"Oh.. tadi aku baru meeting, sayang. Gimana.. jadi beli baju untuk baby kita?"
"Gaklah.. kan aku belum tahu jenis kelamin babynya. Kalo cowok psnyesnya warna biru atau selain warna pink dan kuning," kelasku.
"Ooh gitu ya... mas Luki kembali memelukku dan mencium keningku. Kalau aku pingin cowok aja biar bisa aku ajak main bola nanti. hahaha... "
"Wah.. kalau aku cewek, bisa bantu masak dan belanja," kataku tak mau kalah.
__ADS_1
"Yang jelas apapun Tuhan berikan, kita harus Terima ya sayang," kata Luki. Aku mengangguk tersenyum.
Saat kami bermesraan tanpa sengaja seseorang lewat di apartemen kami. Aku jadi curiga jangan-jangan Albert yang lewat.
"Ada apa sayang, kok wajahmu panik begitu?" tanya Luki heran. Ia langsung menatap arah pintu depan.
Aku gelagapan. "Ah gak kok sayang... aku cuma berhalusinasi. Beberapa hari ini aku kesepian dan pikiranku macam- macam, takut ada orang yang berniat jahat padaku."
Wajah Luki berubah khawatir. "Maaf ya sayang, aku sampai lupa dengan hal penting ini.
"Baiklah gimana kalau mulai besok aku carikan pelayan untuk menemanimu dan melayanimu." Wajah Luki terlihat serius. Wajahku sontak sumringah.
"Beneran sayang? makasih banyak ya, kamu memang suamiku tercinta. I love you.." Aku mendaratkan ciuman ke pipinya.
"Pelan sayang.. " bisikku.
"Dedeknya minta dijenguk nih sayang," ucap Luki dengan suara berat. Aku tersenyum kearahnya dan kamipun melakukan aktifitas di atas ranjang.
Kegiatan itu hampir tiap hari dilakukan suamiku. Mungkin ia tak tahan melihat perubahan bentuk tubuhku. Semakin padat berisi...
__ADS_1
***
pagi yang cerah
"Nah hari ini mbah minah bisa menemanimu sekarang. Aku kerjain dulu ya sayang," kata Luki sambil mengecup keningku. Aku membalasnya dengan ciuman hangat di bibirnya.
"Dedek, ayah berangkat ya.. jangan rewel ya, kasihan mama kamu nanti," kata Luki sambil mengecup perut buncitku. Aku antar Luki sampai depan pintu.
Setelah kepergiannya, aku bermaksud menutup pintu, tetapi tiba- tiba ada seseorang menyapaku. Albert ternyata orang itu.
"Hai.... " sapanya ramah.
Aku kikuk untuk membalasnya.
"Hai juga... " Akhirnya kubuka suara.
"Suamimu sudah pergi ya, suami idaman, " decaknya kagum. Aku tersenyum sinis.
"Maaf Bert aku harus istirahat."
__ADS_1
Lalu aku bermaksud meninggalkannya. Albert menyilangkan tangannya di depan dadadan tersenyum mempersilahkanku pergi.
Aku langsung menutup pintu. Ini tak bisa dibiarin. Aku takut pada Luki jika salah paham. Tiba-tiba mbak minah sudah ada di depanku, membuatku kaget. Sejak kapan ia berdiri di situ. Sorot matanya seperti menyembunyikan sesuatu. Entah apa itu.