
Albert mengemasi barang belanjaannya. Saat mau menuju ke arah parkiran, ia melihat sosok yang tak asing di matanya. Lisa?? Kaukah itu?
Aku buru-buru naik ke taksi. Firasatku tidak enak.
"Jalan Rajawali bang... " kataku singkat.
"Iya neng..."
Sopir taksi itu langsung melakukan ke arah apartemen ku. Aku tata belanjaanku sambil menyeka keringat yang ada di dahi. Ternyata jalan sendirian tuh gak enak, tidak ada teman yang diajak ngobrol. Belum laki-laki iseng yang sering menggodanya. Dikira masih gadis, padahal aku sudah menikah dan hamil pula. Dasar laki-laki mata keranjang, " makiku dalam hati.
"Sudah sampai neng, " kata sopir itu mengingatkanku.
"O iya ini bang." Aku memberi ongkos sesuai tarif argo yang ada di mesin elektrik kecil itu.
Aku segera turun dan langsung menuju ke lift lantai 2. Tetapi langkahku terhenti tatkala ada yang memanggilku.
"Lis... kamu di sini juga? " tanya seseorang yang ternyata Albert. Sungguh dunia tak selebar daun kelor. Ke mana-mana harus ketemu orang ini. Menyebalkan!
__ADS_1
"Iya aku di sini Bert," jawabku singkat.
"Wah kebetulan sekali ya. Kamu habis belanja rupanya," ucap Albert penuh selidik. Mau apa kek, terserah aku dong..
"Iya barusan aku ke mall. Sudah ya, aku permisi dulu. Aku harus segera menghindarinya. Gawat kalau Luki sampai tahu.
"Tunggu.. " Albert memegang tangan ku, dan aku kaget melihat tingkahnya. Kami tak sengaja bertatapan seolah mengenang masa lalu yang menyakitkan.
"Ada apa Bert? Maaf aku sudah bersuami. Tidak bisa seenaknya menemui laki- laki sepertimu. Nanti Luki salah paham tentang kita."
"Aargh... tiba-tiba badanku limbung, dan jatuh. Tetapi sebelum jatuh seseorang sudah menopangku untuk tetap berdiri dan aku terkesima melihat siapa yang menolongku. Albert.. "
Aku gugup dan gemetar.Tubuhku tanpa sengaja berpelukan hingga jarak antara kami hampir tak ada celah. Aku merasakan degup jantungnya kencang seiring desiran dadaku yang tersengal.
Aku buru-buru melepaskan diri dari pelukannya, tetapi kakiku terkilir tidak bisa berdiri sempurna, hingga aku harus bertumpu padanya.
"Albert tolong aku, antarkan aku ke kamar. Aku gak sanggup berdiri," pintaku pada Albert. Aku sedikit malu sudah bersikap cuek padanya. Coba kalau tidak ada Albert aku bisa jatuh dan bayiku.. Aku merinding mengingatnya.
__ADS_1
"Iya aku akan membantumu. Lain kali hati-hati kalau jalan." Albert memapahku menuju ke kamar.
"Makasih banyak ya Bert.. Kamu tinggal di sini juga? " tanyaku basa basi.
"Begitulah.. kita akan menjadi tetangga Lis." Senyumnya begitu misterius membuatku khawatir.
"Ooh... ya udah aku masuk dulu ya.. " Buru-buru aku masuk dan menutup pintu kamar dan dengan tertatih aku berjalan menuju tempat tidur.
"Ada apa hari ini? Begitu menyebalkan. Sendirian, celaka lagi," gerutuku kesal.
Aku merebahkan diri untuk rileks sambil mengambil ponsel di dalam tas kecil.
Aku menatap layar ponselku dan tertegun. Ada panggilan tak terjawab dari Luki sebanyak 5 kali. Mungkin aku pas belanja atau insiden di mall tadi. Ah.. semoga tidak ada salah paham diantara kami.
Aku segera berniat telpon balik, tetapi kuurungkan niatku karena tiba-tiba Luki sudah datang ke kamar. Wajahnya penuh curiga menatapku. Belum sempat ku jelaskan, ia sudah memelukku erat.
"Kamu tidak apa-apa kan sayang? Aku khawatir denganmu, kenapa kau tidak mengangkat telponku?" Pertanyaan bertubi-tubi ditujukan kearahku. Aku belum sempat menjawabnya untuk menjelaskan insiden tadi.
__ADS_1