My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Harta Karun


__ADS_3

"Prita, apa maksudmu?" tanyaku bingung. Aku segera mengambil sikap waspada jika ia akan melukaiku. Kukirim salah satu tangannya ia sembunyikan di balik bajunya. Aku semakin penasaran apa yang akan ia lakukan padaku.


"Aku yang berhak memiliki rumah ini. Sebelum kalian beli, aku sudah lama ingin membeli rumah kuni ini," pelototnya. Wajahnya beringas, seperti mau nenerkamku. Pria tak kukenal, tiba-tiba menuntut kepemilikan rumah ini.


"Hei... itu bukan salah kami. Kami membeli dengan harga cash , pemilik aslinya langsung menyetujui transaksi itu. Jadi bukan kami yang salah!" belaku sambil mendengus kesal.


"Aku sudah meyakinkan pak Farma, tetapi ia tidak menepati janji. Pasti kalian yang membujuknya!"


Aku naik pitam dituduh seperti itu. " Enak saja menuduh, kalau mau komplen tanya pak Darma, bukan kami!" Emosiku me inggi.


"Lagian kamu niat beli rumah, harus cepat-cepat dilunasi agar tak diambil orang." Kali ini aku bicara kasar padanya, siapa suruh memulai masalah.


"Kurang ajar kamu Kak!" Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah benda tajam tak lain adalah pisau dan berusaha menikamku.


Aku terkejut panik dan lari ke dalam kamar. Prita segera mengajarkan. Dengan tangan gemetar aku mengunci pintu kamar, dan berteriak minta tolong.

__ADS_1


Wajahku puas saat jendela kamar masih terbuka. Dengan secepat kilat aku berlari untuk mengunci jendela kamar yang menghubungkan dengan tan belakang.


Dengan susah payah aku menekan pengait kunci yang sudah lama karatan. Aku panik dan hampir menangis. Si kembar terbangun dan menangis.


Suara Prita menggelegar di seluruh ruangan. Posisinya ada di sebelah kamar, tepatnya di dekat pintu.


"Bilang suamimu, kalau tidak segera pindah rumah ini akan kubakar!!" teriaknya sambil menghantamkan sesuatu ke pintu kamar.


Aku kaget sekali, begitu pula dengan si kembar. Suasana kembali hening. Tetapi aneh suara langkah kaki Prita tak terdengar jika ia pergi.


Aku buru-buru menelpon mas Luki. "Mas Luki, angkat dong...!" pekikku. Si kembar masih menangis karena kaget.


Belum selesai rasa takutku hilang, Mas Luki berteriak memanggilku. Aku takut Prita menusuk Mas Luki dari belakang.


Aku berteriak, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian muncul di pikiranku untuk menelponnya. Dan telponku tersambungkan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Lis kenapa si kembar menangis?"


"Prita, Mas mau melukaiku. Nanti ceritanya. Tadi Prita masih di rumah, sekarang gak tahu kemana, aku di dalam kamar bersama anak-anak. Kamu masuk lewat samping ya Mas."


"Iya.. akan kulakukan, kamu tetap tenang di situ. Sebentar lagi aku sampai."


Dan "Tuut" panggilan ditutup.


Aku bernafas lega. "Ya Tuhan lindungi kami dari marabahaya..." doaku tak putus-putus kuucapkan.


Terdengar suara langkah memburu masuk dan mendekati jendela kamar. Aku bersiap untuk menunggu suamiku.


Benar saha, suamiku yang datang Aku segera membukakan jendela, dan iapun masuk. Aku menghambur memeluknya sambil menangis.


Mas Luki mengelus kepalaku pelan.

__ADS_1


Setelah semuanya reda, aku ingat si kembar. Aku menggendong Hendra, dan Mas Luki menggendong Hendri. Kami sama-sama duduk di lantai.


Aku masih syok dengan teror Prita siakan itu. Nafasku tak lagi memburu, sebelum aku bercerita tentang masalah besar di rumah ini.


__ADS_2