
...Jatuh Cinta...
Aku tak menduga Pak Luki perhatian banget padaku. Semoga aku gak kegeeran.
Hari-hariku terasa indah, apalagi pak Luki selalu mendekati, mengecek pekerjaan ku dan sekedar basa basi.
"Lis... kamu orang mana sih?" tanyanya di sela-sela bekerja.
"Saya asli Yogya pak." Aku menjawab singkat sembari tangan memasang elco pada PCB.
"Wah berarti dekat Malioboro ya, aku dah lama gak ke sana." Pak Luki menatap ku dengan mata elang nya, membuat hatiku berbunga-bunga.
"Sangat indah lho pak,kota Yogyakarta.Di sana banyak tempat wisata yang bikin kita ketagihan pingin kembali ke sana." Aku jadi antusias menceritakan daerah asalku.
" Aku tahu..sudah lama sekali semenjak nenek meninggal.Setelah itu kami tak ke Yogya lagi, karena tak ada lagi saudara di sana."
Aku mengangguk mendengar cerita pak Luki. Teman-teman satu line menjadi heran dengan keakraban kami. Aku sih merasa tersanjung dengan dekat pak Luki. Ternyata orangnya baik, dan ramah.Kesan pertama terlihat cuek, pendiam.
terasa jam istirahat berbunyi.Tentunya kami istirahat untuk makan di kantin dan sholat di mushola pabrik.
Aku segera membereskan alat- alat yang kugunakan untuk memasang elco, soldier dan mencabut kabel dr
dari kontaknya.Setelah semua aman aku melenggang keluar.
" Lis..bareng ya..kita makannya." Meli menyapaku dari belakang.
"Ayuk..."
"Lis..."
__ADS_1
"Siapa lagi sih yang memanggil namaku..ah Danar lagi..pasti lebay deh."
"Apa panggil-panggil namaku", kataku sambil melotot.
" Ih galak banget sih," Danar berujar sambil memonyongkan bibirnya.
... anak bikin merinding..kayak bencong aja. hihi," ledekku dalam hati.
Kami bertiga langsung antri ambil makanan yang sudah dikemas dalam box plastik dan cari tempat duduk paling ujung di belakang.
Di sela-sela makan sambil bercanda tak sengaja aku memergoki pak Luki dari kejauhan.
Nampaknya ia menuju tempat kami makan.
Dan benar saja, ia mendekat dan
mengambil kursi plastik duduk sebangku dengan kami. Melli
Aku tersenyum simpul melihat pak Luki menatap lama.
"Makannya yang banyak, Lis...biar gak pingsan kayak kemarin."
Danar melihat kami dengan rasa tak suka.
"Pak Luki gak makan?" tanyanya sewot.
" Nanti saja bareng teman-teman Leader."
Aku merasa gak rela ia ngumpul dengan teman-temannya. Apalagi dengan Lia yang genit itu.Uhh..sebel...
__ADS_1
" Kamu kenapa, Lis. Kok cemberut gitu?" Luki menatap menggoda ku.
"Ah gak biasa aja kok.."
Meli dari tadi hanya bengong. Mungkin. ia berpikiran kok Leader yang cuek itu bisa dekat dengan Lisa.
Untung sebentar lagi habis makan siangku.Aku melirik ke arah Luki. Ia masih senyum melihat ku makan. Danar terasa seperti ada saingan baru.
"Ih hawanya panas banget, ya.
..
Ia mengibas- ngibaskan kerah bajunya. Wili mengerti perasaan Danar.
"Sst tahan emosimu.." bisik Meli.
Danar hanya mendengus kesal.
" Yuk ah kita cabut.." Danar menyeretku pergi. Aku terlonjak kaget dan mau berontak..tiba-tiba tangan Luki menepis tangan Danar. Meli pucat pasi. Aku terkaget dengan sikap Luki.
"Jangan kasar ma perempuan," ucap nya tajam ke arah Danar.
Danar menjadi ciut nyalinya.
"Aku hanya mo ajak Lisa ke musolla kok."
Demi mencairkan suasana, aku buka suara.
"Maaf Pak Luki..benar apa yang diucapkan teman saya.Saya mau sholat dulu, sebentar lagi masuk. Aku sadar posisiku sebagai karyawan. Tdak boleh telat masuk.
__ADS_1
" Ya sudah kalau itu maumu." Luki tersenyum kearah ku. Aku pun memberi senyum kearahnya. Kamipun melangkah pergi. Batinku sangat bahagia Luki menghampiri kami.