
Ketika peristiwa yang terjadi kemarin antara Mas Luki dan Lia, aku sudah hilang rasa pada suamiku. Terapi rasa itu aku sembunyikan dalam-dalam demi anak-anakku. Aku tak mau mereka sakit hati dengan papanya yang akan berpengaruh pada perkembangan psikisnya nanti.
Lonjakan perutku semakin berkontraksi, aku berdebar hebat. Sepertinya peristiwa kemarin membuat bayiku bergerak sangat hebat. Ia seakan merasakan apa yang dialami mamanya. Stres berat...
"Sabar ya dek, nanti setelah kamu lahir, kita akan pindah rumah ya... kita akan hidup dengan suasana baru di sana," bisikku lirih sambil mengelus perut. Si kembar tiba-tiba datang dan memelukiu.
"Aku ingin ikut mama aja... sepi di sini, papa sering tak di rumah. Boleh ya ma? " tanya Hendra anak kembarku yang sangat peka dengan kondisiku.
Hendri menghampiriku dan menciun pipiku. "Mama ga boleh sedih, ada Hendri di sini yang siap jaga mama dan dedek, " katanya sambil bersedekah dada.
"Oh malaikat kecilku. Mereka begitu sayang dan perhatian di usia yang masih balira. Aku menjadi terharu dan langsung memeluk keduanya. " Kita akan sana-sama sayang, tak ada yang bisa memisahkan kita." Aku meneteskan air mata diam-diam. Aku harus kuat! "
__ADS_1
Tak menunggu lana, aku membereskan semua barang yang kupunya dan si kecil. Terus terang aku tak kuat menghadapi ini semua. Nasehat pak sopir tak kuindahkan. Biarlah mas Luki sadar diri kenapa aku meninggalkannya.
Setelah menghubungi seseorang yang dekat dengan, yaitu paman Sam, aku dijemput di depan rumah. Pembantu sengaja kuliburkan, dan aku tak meninggalkan pesan untuk suamiku.
Sudah cukup rasa sakit hatiku menderita selama ini. Mungkin ini yang terbaik. "Mama, kita mau kemana, kok baju Hendra dibawa? " tanya Hendra.
"Kita akan liburan, sayang," jawabku sambil menunggu jemputan.
"Terus papa, gimana? Nanti menyusuli kita kan, Ma? " tanyanya. Aku terdiam sejenak.
"Insya Allah papa akan menyusul kita, kalau gak sibuk. " Aku mencoba memberi pengertian pada anak semata wayangku.
__ADS_1
Terdengar mobil hitam menghampiri kami, dan aku tahu itu orang suruhan paman Sam. Akupun segera meminta kedua anakku masuk, barang- barang sudah dimasukjan ke jok belakang dan akupun masuk dengan tenang.
"Selamat tinggal suamiku... bahagialah kau bersama wanita itu. Aku yakin kamu akan menyesal sudah mengkhianatiku. Airmataku sudah kering untuk keluar dengan sendirinya. Aku adalah Lisa, wanita yang tegar dan pantang dikhianati.
Deru mesin mobil berjalan lambat, seakan ikut merasakan perpisahan antara aku dan mas Luki. "Berpikirlah yang jernih, " batinku berkata.
"Nyonya, Tuan Dan sudah menunggu di bandara. Nanti Nyonya bisa langsung ke sana, " kata asisten paman Sam. Aku mengangguk pelan. Sudah lama adik ayah tinggal di Amerika. Beliau tak punya keluarga hingga usianya yang sudah kepala 4.
Aku adalah ponakan satu-satunya yang ia miliki. Paman Sam jarang pulang, dan belum lama ia mendengar permasalahan rumah tanggaku dengan mas Luki. Begitu marahnya paman Sam mendengar itu semua, dan inilah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan keponakannya dari laki-laki itu.
"Tak berapa lama, sosok pria separuh baya berdiri saat mobil kami menghampirinya. Akupun turun di susul dua jundi kecilku. Sesaat mata pria itu menatap sendu si kembar dan tiba-tiba beliau memeluk dengan betjongkok.
__ADS_1
" Hendra Hendri ini opa sayang..." Hendri dan Hendra menatap tak berkedip, seakan takut pada paman Sam. Akupun berusaha menjelaskan pada mereka. Akhirnya Si kembar tersenyum dan membalas pelukan opanya.