
Aku beranjak dari kursi panjang untuk membukakan pintu. "Tumben siang-siang begini, ada yang datang. Mungkin tetangga sebelah mau berkenalan," pikir ku.
Langkah kakiku bergerak cepat menuju pintu, dan kuputar gagang pintu dengan pelan. Orang tak kukenal tersenyum kearahku.
"Hai Bu... maaf mengganggu, saya Prita tetangga di ujung jalan. Wanita bernama Prita itu mengulurkan tangannya padaku. Akupun tersenyum ramah padanya.
O..iya salam kenal. Namaku Lisa, gak usah pake Bu, memang aku setua ini?" selorohku. Dan diapun tertawa ruang. Aku mempersilahkan masuk, karena sepertinya dia orang baik-baik.
"Sebentar ya, saya tengok si kembar ke belakang." Aku baru teringat si kembar masih bermain di belakang. Rasa was-was takut kehilangan lagi buah hatiku. Dan akupun bernafas lega Mereka asyik bermain rumput, dan memakannya.
"Astaga... jangan dimakan, sayang!" seruku. Buku-buku kubersihkan mereka dengan mengusap wajahnya dengan air kran di samping pintu belakang, dan mengelapnya dengan bajuku.
"Hmm... sebentar saja, aku sudah teledor. Gimana nanti kalau sudah besar? Bayangan buruk menari-nari di kepalaku.
Segera kuajak si kembar ke ruang tamu untuk menemui tamu yang bernama Prita. Tetapi begitu aku sampai ke depan, tak kudapati Prita teman baruku itu.
__ADS_1
"Aneh," pikirku. Aku mencarinya ke luar rumah, siapa tahu ada di luar menungguku. Tetapi hasilnya nihil. "Ah.. mungkin ia pulang karena terlalu lama menunggu." Akupun berpikiran positif terhadapnya.
"Sebentar lagi Mas Luki pulang, aku harus bersiap menyambutnya." Si kembar tertidur di lantai saat bermain lego di ruang tamu. Segera kupindahkan ke kamar satu persatu. Ternyata berat juga badan si kembar. Sebentar lagi aku tak sanggup menggendongnya.
Setelah mereka tertidur lelap, aku kembali ke ruang tamu untuk membereskan mainan anak-anak.
Tiba-tiba pintu depan diketuk orang. Kali ini lebih keras dan terdengar tergesa-gesa. Akupun kaget, siapa lagi yang bertamu di siang bolong begini. Apakah Mas Luki yang datang. Akupun beranjak menuju pintu yang terbuat dari kayu jati itu.
"Siapa?" Iseng kutanyakan pada orang yang ada di balik pintu. Aku sengaja berada di belakang pintu menunggu jawaban orang tersebut.
Segera kubuka pintunya dengan membuka kuncinya. Aku terbelalak kaget saat aku melihat orang di depanku... sungguh Prita.
"Hai... kak maaf ya tadi nunggu kakak ga keluar-keluar, makanya aku pulang," kata Prita dengan nada polosnya.
"Oo... pantesan saya cari kok ga ada? Mari masuk Mbak..." Aku mempersilahkan ia agar masuk rumah.
__ADS_1
Tiba-tiba aroma wangi bunga menyengat di hidungku. "Aneh tadi tak ada bau seperti ini. Kenapa setelah Prita datang aromanya menusuk ke hidung?"
Aku jadi merinding. Kupandangi Prita dari atas sampai bawah. Tak ada yang aneh. Justru Prita memandang ruang belakang rumah tak berkedip.
"Apa yang kau lihat, Mbak?" tanyaku keheranan.
"Eh gak kok Mbak, o ya ni anaknya ya? Lucu banget..." Aku tersenyum melihat mereka akrab.
"Iya mereka anakku, kembar namanya Hendra dan Hendri."
"Ganteng banget ya, mirip siapa ini?" Tangannya mulai mengelus pipi Hendra.
"Mirip papanya, kalau cewek mirip aku, hahaha... "
Prita tersenyum samar. Aku senang banget memiliki teman sekarang. Tidak seperti kemarin. Hidupku tak tenang diteror orang suruhan Albert terus. Semoga dengan pindahnya kami ke sini, semuanya aman dan kami tenang.
__ADS_1