
Selang dua hari tak bersama bayiku, aku stres berat. Aku berniat ikut menjemput bayiku di kantor polisi dan ingin menyaksikan Albert dipenjara.
Sekitar setengah jam perjalanan akhirnya kami sampai di kantor polisi.Aku tak sabar ingin bertemu bayi kembarku. Mas Luki segera menggandengku masuk ke dalam.
Seketika tangisan bayi terdengar di penjuru ruangan. Aku menghambur masuk dan mencari arah suara itu. Bu polisi sedang menggendong bayiku dan yang satu digendong bu polisi yang lain.
"Andre...Indra... !" pekikku. Kuraih anakku dan mencium keningnya! Mas Luki juga melakukan hal yang sama denganku.
"Terima kasih pak atas kembalinya anak kami. Saya gak tahu harus berbuat apalagi demi menemukan bayi kami," ucap mas Luki lirih.
Aku melihat bayiku kurus dan tak terawat, Segera kuberi asi dengan mencari ruang yang kosong ditemani ibu polisi yang baik hati itu.
"Lain kali hati-hati Pak, jangan terlalu percaya dengan orang lain, walaupun itu orang terdekat kita." Pak polisi menasehati kami. Kamipun mengiyakan dan memang harus tetap waspada, apalagi jaman sekarang banyak manusia diperdagangkan demi konsumsi pribadi.
Mas Luki baru tersadar, tentang Albert. Ia ingin sekali melampiaskan amarahnya kepada pria itu. Pak Sipir mengajak kami ke penjara.
__ADS_1
Di sana terlihat beberapa pria berwajah seram dan bertato. Kata pak Sipir mereka ditahan karena kasus penipuan, pemerkosaan dan pembunuhan. Aku bergidik ngeri.
Mata mereka jalang, pantes berwajah kriminal. Tak ada ramah sama sekali.
Aku ingin segera melabrak Albert yang pura-pura baik terhadapku dan bayiku.
Sesampai di penjara, aku tertegun. Orang itu... bukan Albert kenapa yang dipenjara bukan Albert?
Mas Luki juga heran, orang yang didalam jeruji besi itu bukan Albert yang sering mengganggu istrinya kalau ia tak di rumah.
"Kamu... Siapa kamu?" teriakku. Pandanganku tak lepas dari dirinya. Aku berbisik pada suamiku, "Mas kamu lihat jan, itu bukan Albert." Polisi salah tangkap.
Mas Luki terlihat bicara serius dengan polisi. Pak polisi mengangguk sambil mencatat info yang didapat oleh suamiku.
Dalam perjalanan pulang, aku masih was-was dengan hilangnya Albert. Ia merasa tak aman jika Albert yang sebenarnya masih berkeliaran di luar penjara.
__ADS_1
"Mas gimana kalau sewaktu-waktu Albert menghabisi kita, aku takut sekali," ucapku sambil mengecup kening si kembar.
"Jangan takut, Lis. Selama masih ada aku, aku akan melindungi kamu dan anak kita." Mas Luki tegas mengatakan tentang hal ini.
Ada terharu untuk kesekian kalinya saat mas Luki ingin menjagaku sampai ajal menjemputnya.
Aku tersenyum lega. "Makasih mas..." Mas Luki menatapku sekaligus memelukku erat.
Aku tahu rencana Albert masih akan menteror kami. Polisi baru akan melakukan penyidikan. Yang tak habis pikir kenapa orang itu rela masuk penjara, dibayarkan ia? Aku jadi ingin membesuknya dan mengajukan beberapa pertanyaan yang sudah kusiapkan dari rumah. Tentunya nanti kalau situasi sudah aman.
Ternyata orang yang lebih dekat dengan kita, bisa berbahaya sewaktu-waktu bisa menikam dari belakang.
Aku baru menyadarinya. Mulai saat ini aku harus waspada, apalagi ditinggal dua hari. Itu juga anjuran mas Luki suamiku.
Kulihat wajah anakku dengan sedih.
__ADS_1
"Mama akan menjagamu ya sayang... "
Aku mengusap keringat di dahi anak kembarku. Sebentar lagi ketenangan itu muncul.