
Lisa dan Mas Luki sudah kembali pulang. Terpaksa Mas Luki menggunakan baby sitter untuk mengurus bayi mereka. Mama Panji menemani sang bayi sampai beberapa hari ke depan. Kondisi psikologis Lisa berangsur-angsur membaik, karena ada yang menemaninya di rumah.
"Sayang, besok aku mulai kerja. Sepertinya penyamaran akan kusudahi. Jika ada orang yang ingin mengganggu kita, aku sudah siapkan bodyguard seperti dulu, jadi kamu aman."
"Iya Mas, aku juga stres tiap hari ada teror di rumah ini."
Tiba-tiba Mama Panji mendengar percakapan mereka.
"Siapa yang meneror kalian, berani-beraninya mengganggu kalian."
"Tidak ada apa-apa, Ma. Hanya masalah kecil kok," kata Lisa. Ia tak mau mamanya kepikiran mikirin mereka.
"Kalian harus hati-hati di sini. Apalagi ini lingkungan baru buat kalian, Mama gak mau kalian terganggu. Kasihan Shifa dan Andre nanti. Apa perlu kalian pindah ke daerah yang lebih aman dan sehat lingkungannya?" tawar Bu Panji.
"Iya Ma, Luki dan Lisa akan selalu waspada. Semoga masalah ini bisa selesai. Luki sudah laporan ke pemilik lama rumah ini. Dan ia akan menyelesaikannya dengan segera."
"Syukurlah kalau begitu, jadi Mama pulang dengan hati tenang."
"Iya Ma... Kami akan baik-baik saja."
Selama ada orang yang menemani Sita, keadaan kembali aman. Prita sudah beberapa hari ini tidak menteror keluarga kecil mereka. Mungkin Pak Rendi sudah menyelesaikan urusannya dengan Prita.
Tetapi baru perasaan lega di hati Lisa, tadi pagi ibu-ibu komplek membicarakan Prita yang meninggal akibat bunuh diri.
Sita kaget seketika. Apa yang dilakukan Pak Rendi pada Prita, setelah mereka berkunjung ke rumahnya. Apa benar Prita bunuh diri? Tiba-tiba kepalanya pusing mikirin itu semua.
Ada rasa penasaran, mengapa Prita bisa bunuh diri dan polisi menutup kasus itu. Lisa merasa tidak puas dengan berita itu. Cepat-cepat ia pulang ke rumah untuk menceritakan pada suaminya kejadian bunuh diri yang menimpa Prita.
Mas Luki sedang menggendong Shifa,, setelah imunisasi badannya agak panas, sementara Andre sedang bersama Baby sitternya.
"Mas, sudah tahu bu. berita tentang Prita?"
Suaminya menoleh ke arah Lisa, dan berkata, " memang dia bikin ulah apa lagi?"
__ADS_1
"Prita bunuh diri, kata ibu-ibu komplek. Masa sih, orang kayak Prita mau melakukan itu?" tanya Lisa sedikit protes.
"Baguslah, berarti pengganggu itu sudah tidak meneror kita lagi, Kan."
"Ih... kok gitu kamu Mas. Walaupun Prita gadis yang aneh tetapi kok aku merasa ada yang ganjal di pikiranku. Aku malah curiga Prita dibunuh."
Mas Luki mendelik kaget. Pemikiran istrinya biasanya 90 persen benar. Ia menjadi merasa tak aman tinggal di sana.
Pikirannya menjelajah, bagaimana jika ada yang mau beli rumah itu dengan harga yang sangat tinggi? Bisa jadi ia dan keluarga kecilnya dibunuh agar rumah itu tak ada pemiliknya. Mas Dika bergetar hatinya.
Mas Luki berusaha mencari tahu tentang Prita dengan menyuruh anak buahnya menyelidiki kasus itu. Lisapun membantu dengan mengorek keterangan warga yang mengenal masa lalu Prita.
"Oke... sayang, aku berangkat kerja dulu ya... Hati-hati di rumah, dengan baby sitter semoga kalian aman dari teror itu."
"Iya Mas, kamu juga hati-hati ya sayang, I love you..." Lisa mengecup punggung tangan suaminya. Rutinitas tiap pagi tidak lupa ia lakukan pada suaminya. Anak-anak masih tertidur pulas, mungkin dampak musim dingin.
Setelah mengantar suaminya keluar rumah, Lisa mulai melanjutkan aksinya. Ia berpura-pura membeli sayuran di Abang tukang sayur. Kebiasaan ibu-ibu kompleks berkerumun dan terjadi obrolan tentang sesuatu yang lagi panas di area perumahan tersebut.
"Eh... ada Mbak Lisa... belanja juga, Mbak?" tegur Ibu gendut yang beberapa waktu yang lalu menyuruh Lisa berhati-hati dengan Prita.
"Iya Bu... kebetulan stok sayur di rumah habis," kata Lisa tersenyum. Beberapa Ibu di sekitarnya menatap Lisa dari ujung kaki hingga ujung kepala
"Ini Mbak Lisa yang tinggal di rumah..." Ibu itu tak melanjutkan perkataannya,
membuat Lisa penasaran arah pembicaraan Ibu itu.
"Rumah milik Pak Rendi Bu," kata Lisa singkat. Ibu itu terbelalak kaget.
"Oh... itu. Mbak Lisa betah tinggal di sana, dan sudah berapa lama?" tanyanya penasaran.
Lisa dengan santai menjawab," sudah sebulan Bu, saya sebenarnya gak betah, tetapi rumah itu sudah kami beli cash pada Pak Rendi."
Ibu gendut menimpali, "Tetapi sekarang Mbak Lisa sudah tidak diganggu Prita lagi, karena ia sudah meninggal."
__ADS_1
"Iya... Mbak Lisa sudah aman dari anak aneh itu. Tetapi dengar-dengar Prita bunuh diri. Kira-kira penyebabnya apa ya?" tanya Ibu itu memulai gosipnya.
"Mungkin stres hidup sebatang kara," kata yang lainnya.
Abang tukang sayur ikut nimbrung, biar suasana tambah panas. Lisa menikmati obrolan pagi itu dengan menyimak, siapa tahu ada hal yang penting.
"Abang sudah lama berjualan di komplek ini, dan ingat beberapa tahun yang lalu, Ayah Prita terlibat pertengkaran hebat dengan Pak Rendi sebelum rumah itu dijual. Mereka masih memiliki hubungan darah, seperti kakak adik, begitu."
Sita menajamkan pendengarannya. Ada titik temu untuk mencari tahu penyebab Prita dibunuh. Tentang Taman belakang yang selalu tumbuh subur, aroma bunga yang menyengat dan kedatangan Prita yang tiba-tiba. Semua akan ia kumpulkan untuk mencari akar masalahnya.
Setelah lama mereka gosipin orang, Lisa pulang dengan membawa segudang pertanyaan yang sebentar lagi terjawab.
Sesampai di rumah, anak-anak yang sudah bangun dan mandi. Mereka bermain di teras rumah. Si Andre duduk dalam gendongan Mbak Siska.
"Eh... anak mama sudah bangun... makasih ya Sis, maaf tadi agak lama di Abang sayur," kata Lisa sambil meraih Andre.
"Gak apa-apa Bu, saya malah senang dekat dengan mereka." Ia tersenyum ramah. Sepertinya Lisa cocok dengan baby sitter nya
yang baru itu.
"Iya Mbak, makasih ya, semoga kamu betah di rumah ini." Lisa berkata, seolah ia mendoakan diri dan keluarganya juga.
"Iya Bu... insya Allah saya betah dan nyaman kok."
Hari ini Lisa mulai menjalankan bisa merasakan masakan istrinya setiap hari.
"Hmm... yummy... pasti Mas Luki senang dan tambah cinta padaku," guman Lisa sendirian di dapur.
Saat hendak menaruh sayur sop ayam kesukaan suaminya, tiba-tiba aroma bunga menyengat di taman belakang rumah. Lisa tersontak kaget, bulu kuduknya berdiri, dan ia pun segera menyelesaikan aktifitas memasaknya dan keluar mencari anak-anaknya.
"Ada apa Bu, kok muka Ibu pucat begitu?" tanya Mbak Siska keheranan.
"Ah tidak apa-apa Lis, aku hanya kecapekan belum sarapan.
__ADS_1