My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Mbah Minah sekarat


__ADS_3

Orang itu mondar mandir di depan pintu apartemenku. Aku harus membunyikan bel tanda bahaya. Segera sekuat tenaga kuoencet tombol keamanan di kamarku.. dan seketika bunyi itu nyaring terdengar, mungkin sampai di pos penjaga. Hatiku agak lega, karena orang itu kabur. Aku tahu dengar derap langkah kaki berlari cepat.


Mas Luki tiba- tiba sudah datang menemuiku. Mbah Minah? Bagaimana keadaannya? Aku semakin panik dan badanku gemetar mengingat kejadian tadi, seperti mimpi.


"Kamu tidak apa-apa, sayang?" tanyanya. Luki memelukku erat dan membantu ku duduk di tepi ranjang.


Aku menangis sesenggukan di pelukannya.


"Aku takut mas. Orang itu akan mencelakaiku. Gimana Mbah Minah, apakah dia baik-baik saja?" tanyaku panik. Aku tak sempat menolongnya, karena nyawaku juga terancam.


"Dia ada di rumah sakit. Tenang aja.. semua akan baik-baik saja. Polisi sudah mengejar pelaku." Luki mendesah pelan.


"Mas, aku takut sendirian di sini. Sepertinya ada seseorang menginginkan aku.".Badanku masih lemas mengingat kejadian ini.


"Ya nanti kita mencari solusinya ya. Aku heran dengan keamanan di tempat ini." Luki menyesali insiden di keluarganya Mbah Minah yang baru sehari bekerja harus dirawat di rumah sakit. Wanita yang dikenalnya lewat jasa online.


"Kira-kira siapa ya pelakunys mas? Apa jangan-jangan orang terdekat kita yang sakit hati?" tanyaku curiga. Mas Luki terlihat memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Aku tak bisa menuduh begitu saja. Namanya orang kerja pasti ada masalah, LisTenan kita yang sakit hati, atasan kita yang marah melihat hasil kerja kira, dan lain sebagainya.


"Tetapi untuk apa mereka mengingatmu Lis, padahal kamu lagi hamil," ucap Luki suamiku.


Au mengangkat bahu. Aku juga bingung dan takut besok orang itu menerorku kembali.


"Lis.. selama aku kerja, kamu berhubungan dengan siapa saja?"tanya Luki menyelidik.


Aku kaget ditanya seperti itu. Sejenak aku terdiam. Apa aku cerita saja ya tentang Albert yang tinggal di sini juga?


Kulihat reaksi Mas Luki tidak suka. Aku harus mengatakan jujur padanya agar tidak terjadi salah paham.


"Albert tinggal di apartemen ini juga, mas. Aku juga baru tahu kemarin, waktu pergi belanja." Aku menatap suamiku. Ada perubahan sikap terpancar dari wajahnya.


"Apa? Kok bisa kebetulan sih? Jangan-jangan ini ulah Albert." Luki berkata dengan marah. Aku jadi takut melihatnya.


"Mas... jangan menuduh dulu, kita selidiki siapa sebenarnya orang itu. Siapa tahu bukan Albert," kataku.

__ADS_1


"Hmmm.. ya sudah, tetapi kamu harus Waspada dengan Albert. Aku lihat, dia masih menyukaimu." Aku tersentak kaget. Mas Luki benar, Albert memang masih menginginkanku. Aku jadi bergidik ngeri.


"Lis... kamu ganti baju sekarang, kita jenguk Mbah Minah sambil mencari tau siapa yang melukainya."


"Ya mas... aku pingin segera menjenguknya. Tadi pagi, sikapnya aneh.. dan aku telpon kamu sayang."


"Iya aku tahu. Aku juga penasaran, kenapa Mbah Minah bersikap dingin terhadapmu."


Setelah semuanya beres, kami langsung menuju ke rumah sakit, tempat Mbah Minah dirawat.


***


Suasana rumah sakit begitu lengang. Bau obat yang menyengat membuat perutku mual. Aku sensitif dengan aroma ini. Mas Luki memberikan masker untukku untuk mengurangi aroma itu.


Aku dan Mas Luki memasuki bangsal 23 dimana Mbah Minah dirawat. Sejenak kami berhenti di depan pintu, karena ada seseorang berbicara pada Mbah Minah.


Siapa orang itu?

__ADS_1


__ADS_2