
Semenjak ketemu Lia aku semakin gencar menjaga tubuhku agar para wanita tidak merebut Mas Luki dariku.
Pernah aku disarankan agar aku memakai produk tertentu untuk mengikat suamiku. Tetapi aku kekeh tidak akan tertarik anjuran teman. Di samping berbau syirik, mengharap yang tidak-tidak hingga bisa mempengaruhi hidupku di kemudian hari.
Rutinitasku sekarang adalah merawat si kembar di samping itu juga merawat diri. Seperti sore ini, aku luluran dengan aroma mawar yang sangat disukai mas Luki. Hmmm... wanita memang harus wangi, bersih dan menarik.
"Ting tong..." belum rumah berbunyi. Mbak Minah buru- buru membujakan pintu. Akupun menyelesaikan ritualku finishing mandi dan berdandan.
"Krek..." pintu terbuka lebar. Aku bisa melihat siapa yang datang dari balik kaca riasku. "Pangeranku datang..." desisku dalam hati.
Waw... wangi sekali istriku..." mas Luki memelukku dari belakang. Aku pun tersenyum senang.
"Iya dong Mas... Istri harus terlihat menarik," jelasku.
"Aku lihat kamu apa adanya saja, sudah cukup. Cintaku hanya untukmu, Lis."
Aku terpana mendengar penuturan Mas Luki. Masa sih cukup sederhana begitu? Zaman sekarang laki-laki jika melihat perempuan cantik pasti tergoda.
__ADS_1
Hmmm... seperti meragukan ucapan suamiku itu. Tetapi aku senang sekali mendapat pujian itu.
"Mas... aku ingin sore ini kita makan di luar ya," ajakku.
Mas Luki melepas pelukanku. "Iya, Dek... Aku mandi dulu... "
Aku kaget dan merasa bersalah. "Maaf Mas, aku lupa menyiapkan air panasnya." Kutatap suamiku lama. Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Entah itu apa...
"Oh tidak apa-apa, Dek. Namanya juga ingin cantik di depan suami, lupa dengan segalanya," ucap Mas Luki sambil berlalu.
"Deg..." Kata-kata itu seolah tamparan keras di mukaku yang penuh dengan bedak padat. Apa aku menjadi berubah di depan Mas Luki?
Setelah Mas Luki hilang di balik pintu, aku menyiapkan baju gantinya. Aku pilih warna senada dengan bajuku, agar tampak romantis.
Tak lama kemudian, Mas Luki menghampiriku dengan telanjang dada. Sedangkan perutnya terlilit handuk. Makin macho saja suamiku. Badannya tak gemuk-gemuk amat, cenderung bertubuh atletis dengan garis otot yang menonjol.
"Hei... rupanya istriku terpesona melihatku," godanya sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku tergagap dan pipiku bersemu merah. Ketahuan kalau sedang mengagumi ciptaan Tuhan ini.
"Hehe abis, Mas Luki suka memancing..." Aku tak melanjutkan kalimatku. Suamiku bisa menebak apa yang kumaksud.
"Apa gak usah saja kita makan di luar kita pesan on line saja. Oke?"
"What!! Gak ah aku sudah dandan cantik begini dibatalin," potongku cepat. Walaupun sebenarnya aku lebih senang di rumah bersamanya, tetapi kok hati ini ada misi lain yang harus kulaksanakan.
Aku ingin menunjukkan ke semua orang bahwasanya Mas Luki itu milikku seorang. Senyumku puas dengan persiapan sore ini.
"Aku lihat si kembar dulu ya, Mas." Buru-buru aku mencari si kembar di kamar Mbak Minah.
"Tok... tok..."
Tak ada sahutan.
Mungkin belum pulang dari mainnya.
__ADS_1
"Hendra! Hendri ikut Mama dan Papa yuk kita ke Mall. Tiba-tiba makhluk kecil ban lucu itu mendekat dan mengagetkanku. Aku segera berjongkok di depannya.
" Maafkan Mama ya sayang. Mama tak bermaksud tak mempedulikanmu. Lihat papa, ia mulai ganjen dan memakai wangi-wangian.Hendra, dan Hendri menatap wajah mamanya seakan takjub.