My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Lepas Lajang


__ADS_3

Hatiku berdebar saat ijab kabul dilaksanakan di hotel Manggarai. Acara berjalan khidmat. Kulihat calon suamiku mengikrarkan dengan lancar. Seakan mantap memilihku menjadi belahan jiwanya. Sederhana nanti syahdu. Aku tak bisa menahan rasa bahagia ini. Kami sudah menjadi sekarang suami istri.


Selepas pesta pernikahan aku memilih ke kamar untuk istirahat sejenak, sedangkan mas Luki masih asyik berbincang dengan teman-temannya.


Tak kulihat Danar dan Meli, mungkin mas Luki sengaja tak mengundangnya khawatir buat kerusuhan lagi nantinya.


Aku melepas satu persatu busana pengantin dan menghapus riasan di wajahmu. Terus terang aku tidak kuat dengan aroma wangi-wangian. Sebelum masuk kamar, aku sudah minta ijin pada ibu dan ayahnya Mas Luki untuk segera istirahat di kamar. Mas Luki melirik ke arahku dan menganggukan kepala tanda aku boleh masuk duluan di kamar.


Tiba-tiba kepalaku pusing dan perutku mual. Aku segera masuk ke kamar mandi dan memuntahkan seisi perutku.


Tetapi aneh, tak ada makanan yang keluar dari mulutku. Apa aku hamil?


Kemarin aku belum sempat memeriksa ke dokter kandungan, karena sibuk mempersiapkan hari pernikahan ku.


Saat aku sedang mabok, mas Luki sudah ada di belakangku. "Kamu mabok lagi ya sayang?" tanyanya khawatir.


"Iya mas.. kepalaku juga pusing, " ucapku lirih.

__ADS_1


"Ayo aku bantu kamu, nanti sore kita periksa ya.. tunggu tamunya pulang dulu. "


Aku hanya mengangguk pelan. Acara pernikahan yang tidak spesial lagi karena sakitku.. aku jadi kasihan ma mas Luki.


"Maafkan aku ya mas, harusnya tidak seperti ini. Acaranya jadi berantakan kan?"


"Sudah kamu jangan memikirkan yang berat- berat dulu, yang penting kesehatan harus kamu jaga. Aku gak mau kamu sakit. Mas Luki memelukku erat sekali. Hingga aku merasakan kedamaian itu.


Tepat pukul 5 sore, kami menuju ke rumah sakit. Setelah diperiksa aku menunggu dengan harap-harap cemas


" Alhamdulillah istri anda positif pak. " Dokter memberikan tes hasil lab tersebut. Seperti tak percaya mas Luki membaca hasil tes urine tersebut. Wajahnya tiba-tiba berbinar dan memandang kearahku. "Aku mau jadi ayah, sayang." Wajahnya berkaca-kaca dan memelukku erat.


"Mulai sekarang kamu tidak boleh capek ya sayang.. aku kirim pelayan untuk menemanimu dan mengurus keperluanmu." Mas Luki tak habis-habisnya menasehati ku.


"Iya mas.. aku akan jaga calon bayi kita."


"Mas.. aku pingin beli buah, boleh gak kita mampir dulu ke mall?"

__ADS_1


"Tentu boleh dong, apa sih yang gak buat kamu dan baby kita?" Mas Luki segera memarkir mobilnya ke area parkir di mall tersebut.


Ramai sekali pengunjung di akhir pekan ini. Untung aku ajak mas Luki masuk, agar aku lebih leluasa membawa barang belanjaan. Kali ini ia berstatus suamiku bukan leader ku lagi.


Saat menuju ke kasir, ada yang menepuk bahuku.. ternyata Albert juga ada di sini.


"Selamat ya Lis... sekarang aku gak bisa mengejarmu lagi, " bisiknya. Untung mas Luki tak melihat kami. Dia sibuk membayar barang- barang yang sudah kami beli.


Aku melotot ke arah Albert agar menjauh dan menggangguku lagi. Albert hanya tersenyum samar melihat perubahan sikapku.


"Ah.. semoga manusia itu tak muncul lagi dihadapanku, " gumanku.


"Siapa yang kaimaksud Lis? " tiba-tiba mas Luki menegur ku.


"Itu.. mas pembeli reseh tidak mau antri, aku tegur malah marah-marah, " jawabku asal.


"Ooh.. ya sudah.. yuk kita pulang. " Mas Luki menggandengku hingga ke area parkir.

__ADS_1


Tak sengaja mobil sport mewah berjejer di mobil kami. Ketika mau masuk mobil, ternyata Albert juga masuk mobil itu. Aku buru-buru naik agar tak ketahuan olehnya. Aku tak bisa membayangkan jika mas Luki memergoki kami berbincang.


__ADS_2