My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Mas Luki pulang


__ADS_3

Aku merawat bayi kembarku bersama perawat yang dikirim khusus oleh Albert untukku. Entah bagaimana perasaannya terhadapku, masih mau denganku yang sudah bersuami dan milik orang lain.


Kenangan itu tiba-tiba berputar di kepalaku. Albert dengan kasih sayangnya hingga aku dimabuk asmara karenanya.


Pada saat hati sudah mencinta, Albert berpaling dariku demi cewek lain. Mulai saat itu aku membencinya dan tidak akan mengingatnya kembali. Itu janji waktu dulu, dan sekarang aku mengingkarinya.


Albert kembali datang dan ingin aku kembali padanya. Aku hampir goyah melihat perhatiannya yang lebih padaku.


"Tidak... aku hanya mencintai mas Luki seorang," jeritku dalam hati.


Hari ini mas Luki diperbolehkan pulang. Aku senang bukan main. Semoga dengan kehadirannya hidupku lebih berarti dan bayiku memiliki ayah yang sehat. Aku berharap begitu.


Albert menghilang bagai ditelan bumi. Setelah ekonomiku semakin membaik, dan tabunganku belum kugunakan sepeserpun. Semua biaya sehari- hari sudah ditanggungnya. Aku merasa tidak enak dengan Albert.


Kutatap wajah tirus mas Luki. kusapu wajahnya dengan jari tanganku. Bayi kembarku masih di kamar. Aku mulai darimana ya, mas Luki saja tidak mengenaliku.


"Kamu siapa? aku dimana?" pertanyaan demi pertanyaan ditujukan padaku. Tatapannya kosong ke depan.

__ADS_1


"Aku istrimu mas, namaku Lisa. Dan kamu sendiri bernama Luki, tepatnya Luki Pradetya. Kamu seorang direktur di perusahaan konveksi di pusat kota.


Suamiku masih tanpa reaksi, menanyakan dia ada di mana. Aku dengan sabar menjawab bahwa rumah ini rumah dia dan aku serta bayi kita.


" Bayi? Apakah aku mempunyai anak dari mu?"


Aku mengangguk sambil tersenyum. Ada secercah harapan untuk ingatan Mas Luki kembali.


Tiba-tiba bayi kembarku terbangun. Suster datang tergopoh-gopoh mendejatiku untuk menyerahkan bayi ku darinya.


"Aku beri nama Andre dan Indra mas.. ganteng kan bayi kita?" Kataku bahagia. Aku menciumi Indra dan Andre,. Mereka tergelak melihat mamanya mencium.


Mas Luki terpana melihat bayi kami. Ingin sekali ia menggendongnya, tetapi ia segan. Ia hanya menatap aktifitas kami.


"Mas lihat... anak kita mirip denganmu, matanya, hidungnya, dan bibirnya. Semua mirip kamu.


Trus yang mirip aku apanya dong? " tanyaku sambil cemberut. Tak disangka mas Luki tertawa lihat raut mukaku.

__ADS_1


Aku pun sontak kaget. Ada sedikit perkembangan yang menggembirakan. Dan aku harus sabar melalui fase itu. Sabarlah mas Luki, aku akan setia menunggumu.


"Kamu lucu, Lisa. Aku suka." Ia tertawa renyah, dan akupun bahagia.


"Terima kasih, sayang... mas, mau menggendong anak kita tidak?" tawarku. Aku ingin tahu seberapa pekakah dia?


"Aku... aku takut melakukannya!" Wajahnya pias dan ketakutan. Tangannya memegang kepalanya.


Aku panik dan berusaha menenangkannya."Jangan takut sayang, kalau kamu gak mau bisa kita coba besok atau kapanpun kamu mau."


Hari sudah menjelang malam. Bayi-bayiku sudah kenyang setelah kususui, dan sekarang tidur pulas di box bayi.


Aku menunggu mas Luki di kamar. Ia mandi di lantai bawah, karena ia lupa kalau di kamar ada kamar mandi khusus.


"Tenang Lis. Pelan-pelan pasti ia ingat kembali memorinya dan kembali padamu." Pikiran bawah sadarku mengatakan itu.


Hal yang membuat kusuka adalah ia tidak rewel saat aku ajarin mengingat tentang masa lalu. Besok rencana akan kuajak jalan-jalan keluar untuk mengingat memori berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2