My Leader Is My Love

My Leader Is My Love
Malam Perpisahan


__ADS_3

Beberapa hari ini mas Luki sibuk dengan urusan pekerjaan yang menyita waktunya, hingga kami jarang bertemu. Ada rasa khawatir entah itu apa bersemanyam di hatiku. Ya.. aku takut kehilangan dia. Apakah ini cinta pertama dan sejatiku?


"Tut.. tut.. nada panggilan masuk di layar ponselku. Aku melirik sebentar ke arah layar dan buru-buru ku angkat setelah tahu dari siapa penelpon itu.


" Hallo...Mas" ucapku dengan nada yang riang. Aku bahagia sekali dia akhirnya menelpon ku sejak kemarin ia susah dihubungi.


"Lis.. ntar malam aku ke tempatmu. Ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu.," kata mas Luki dengan nada berat.


Ada apa ini? adakah sesuatu akan terjadi malam nanti? Ah mas Luki sering bikin aku penasaran dan sport jantung.


"Lis.. kok diam.. kamu marah ya? "ucap mas Luki dengan cemas.


" Gak kok mas.. ni aku lagi setrika baju.. jadi gak fokus. Iya aku tunggu nanti malam ya.. "kataku basa basi.


" oke... jangan terlalu capek Lis. Aku gak mau kamu sakit. "


" Yaelah mas.. cuma nyetrika masa capek.. ya udah mas jangan lupa makan dan istirahat ya.. mmuah" aku memberi kecupan biar mas Luki selalu ingat aku.


"Ya Lis... aku selalu ingat pesanmu itu. " Sudah ya.. i love u. " mas Luki menutup telponnya. Aku tersenyum lega. Apa yang kutakutkan semoga tak terjadi.

__ADS_1


*Malam itu


Mas Luki datang dengan basah kuyup.. Ternyata di jalan menuju ke tempatku hujan deras. Ia lupa gak bawa payung atau mantel. Aku buru- buru memberinya handuk dan kusiapkan baju ganti untuknya.. Untung aku masih menyimpan baju bapak saat beliau berkunjung di sini.


"Kok nekat sih mas.. kalau tahu keujanan telpon aku, biar aku jemput ke depan. "


"Gak apa-apaLis.. santai aja.. aku sih kebal dengan air hujan itu.. maksudku jarang sakit gara-gara kehujanan, " imbuhnya.


"Ya.. aku percaya deh mas.. "


"Lis sini sebentar.. " bisiknya pelan.


"Sini cepetan.. " mas Luki menarik tanganku hingga aku duduk disampingnya. Jarak kami sangat dekat hingga desiran nafas kami menyatu. Tatapan mas Luki tak lepas dari mataku. Pelan tapi pasti mas Luki mengulum bibirku yang ranum. Aku menggeliat tetapi mas Luki tak menghentikan perbuatannya malah semakin liar. Aku tak sanggup menghadapi serangan maut itu dan pasrah.


"Mas.. mas Luki.. " kataku pelan. Nafasku memburu ruang nadiku.


"Apa sayang.. jangan bilang kamu mau menyudahi ciumanku ini. Aku kangen kamu, Lis.. " ucap mas Luki pelan. Aku menatapnya penuh cinta.


"Aku juga kangen mas.. kapan kita melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius. Aku gak mau begini terus maaf.. " kataku pelan sambil bersandar di bahunya.

__ADS_1


Mas Luki menghela nafas pelan. Ditatapnya mataku dengan sayu.


"Itu yang akan kupikirkan saat ini, Lis. "


Aku mendongakkan kepalaku ke wajah tampannya.


"Lis sebenarnya aku datang ke sini untuk mengatakan bahwa lusa aku akan ke Jepang. Manajer kita mengutus aku untuk melaksanakan training enginering di perusahaan Miyako di Jepang, salah satu anak perusahaan yang ada di sana.


Aku terbelalak kaget dengan apa yang ia ucapkan. "Berapa lama mas ada di Jepang nanti? " tanyaku lesu.


"Tidak lama kok Lis.. kurang lebih satu bulan. " Apa kamu keberatan jika aku ambil kesempatan ini? " tanyanya ragu.


"Ah gak kok mas. Malah aku senang Semoga mas sukses di sana dan kembali padaku," kataku pelan hampir tak terdengar.


"Lis percaya ma aku. Aku tipe orang yang setia untuk urusan cinta. Buktinya aku tulus mencintaimu kan?" Mas Luki berusaha meyakinkanku. Aku pun luluh dan percaya sepenuhnya dengan ucapannya.


"Aku percaya mas ma keseriusanmu. Aku juga akan menjaga diriku saat mas di Jepang. "


Mas Luki memelukku dengan erat, sesekali ia mendarat kan ciuman di keningku. Malam yang tak biasa... meninggalkan janji yang disepakati.

__ADS_1


__ADS_2